Kisah Amji Attak yang Diabadikan Jadi Patung Penjaga Markas Mako Brimob

Kisah Amji Attak yang Diabadikan Jadi Patung Penjaga Markas Mako Brimob
info gambar utama

Akan ada dua patung yang akan menyambut Anda saat berkunjung ke Ksatrian Korps Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Itu adalah Patung Amji Attak dan Taboky Takuda, mereka adalah anggota Brimob Ranger yang tewas dalam konfrontasi dengan Malaysia tahun 1964.

"Nama Amji Attak dipakai karena ia yang paling senior di antara pasukan Brimob yang saat itu ditugaskan dalam konfrontasi Malaysia," ujar Irjen Pol S Y Wenas, dalam Dayak Dreams.

Nama Amji pun abadi sebagai nama Kesatria di markas Brimob Kelapa Dua, dan patungnya berdiri gagah, bersanding dengan patung anggota Ranger lainnya, Taboky. Wenas menuturkan, Amji dan kawan-kawannya dulu adalah anggota Resimen Pelopor yang dikirim ke Malaysia.

"Mereka berangkat dengan menggunakan perahu sekoci, lewat Belakang Padang di Batam. Saat sudah dekat daratan di pesisir Malaysia, mereka mendayung. Saat itulah, mereka bertemu Patroli Inggris. Mereka adu tembak. Amji Atak dan teman-temannya gugur di laut dekat pesisir Malaysia itu, mereka berjumlah 33 orang gugur di perairan Laut China Selatan," cerita Wenas.

Dalam akun Facebook Resimen II Pelopor Korps Brimob Polri disebutkan, Amji memulai kariernya dari Sekolah Agen tahun 1958 yang pada saat itu sudah masuk Mobile Brigade (Mobrig) Ranger atau Mobile Brigade Ranger. Mobrig dahulunya hanya memiliki kompi 5994, yang memiliki makna tahun 59 dengan jumlah kesatuan 94.

Menilik Asal-Usul Suku Dayak di Pulau Borneo

"Amji Attak adalah seorang putera Dayak berdarah panas, yang tidak boleh melihat musuh pasti akan dikejar dan ditantangnya. Karena darah panasnya ini sehingga ia sering diturunkan ke wilayah konflik dan menjadi yang terdepan sebagai tameng pasukanya," beber Wenas lagi.

"Ketika di wilayah konflik dan terjadi baku tembak dengan musuh, ketika pasukanya yang lain sibuk bersembunyi dan berlindung. Amji Attak bukanya berlindung. Amji Attak malah mengejar ke arah tembakan tersebut sambil balik menembakkan senjatanya ke arah musuh. Sehingga membuat musuh kocar-kacir," tulis laman akun Facebook Resimen II Pelopor Korps Brimob Polri (26/3/2018), yang berjudul: ''Amji Attak, pahlawan Brimob''.

Amji dipilih untuk memimpin pasukannya, karena ia dianggap paling andal dalam urusan mendayung perahu. Sebuah keahlian yang memang dimiliki banyak pemuda Dayak pedalaman, yang karib dengan kehidupan di banyak sungai di Kalimantan Barat (Kalbar).

"Model-model polisi macam Amji Attak ini, begitu lihat patroli datang, bukanya dia lari, tapi justru dia tantang, dia serang dan sikat balik dengan adu tembak," tandas Wenas.

Seringkali dalam setiap bertugas, Amji membuat komandanya kerepotan mengendalikan keberanianya. Karena Amji, tidak boleh mendengar suara tembakan musuh. Tetap akan dikejarnya arah tembakan musuhnya tersebut, meskipun telah diperintahkan oleh komandannya untuk berlindung.

Pernah juga Amji mengejar musuh yang sedang gencar memberondong pasukannya dalam peristiwa perang Trikora melawan Belanda di Papua, 1961-1962. Dirinya mengejar balik memuntahkan peluru dari senjatanya hingga peluru tersebut habis.

Dari cerita teman-temannya--Amji--kepada Wenas, Amji adalah sosok yang pemberani, namun sayang saat melakukan serangan di Malaysia, dirinya kurang beruntung.

Dwikora bukti keberanian pasukan Resimen Pelopor

Secara lahiriah Amji Attak bertubuh kecil tegap, dengan tinggi yang tidak sampai 160 cm. Karena fisiknya yang kecil ini, orang awam sukar mengira ia seorang petugas intelijen, apalagi polisi. Padahal dirinya kerap ditugaskan berkali-kali menyusup sebagai intel ke Negeri Jiran, Malaysia.

Ketika Operasi Dwikora mulai digaungkan pada Mei 1963 oleh Presiden Soekarno, Resimen Pelopor (Menpor) menugaskan beberapa agen andalannya untuk melakukan tugas intelijen ke negara tetangga, Singapura--saat masih bergabung dengan Malaysia hingga Thailand, salah satu di antara agen andal itu adalah Amji Attak.

Menpor adalah pasukan elite yang lahir dari satuan Brigade Mobil (Brimob). Pasukan ini sering dikatakan sebagai pasukan elite yang nama besarnya nyaris terlupakan dalam sejarah militer Indonesia. Menpor dibentuk pada tahun 1961 di masa kepemimpinan Kapolri Soekarno Djoyonegoro, kemudian dibubarkan setelah Presiden Soeharto berkuasa.

Aipda Amji dan kawan-kawannya dari Menpor kemudian diberangkatkan untuk melakukan infiltrasi di Malaysia pada awal Maret 1965, pada waktu yang hampir sama dengan Usman dan Harun (KKO Angkatan Laut). Usman dan Harun tertangkap setelah berhasil melakukan pengeboman di Singapura kemudian dihukum gantung.

Sementara perlawanan dari pasukan Pelopor Aipda Amji ini diakhiri oleh dua buah tembakan meriam yang mengenai samping perahu. Perahu Aipda Amji hancur terkena tembakan meriam dan salah satu putera terbaik Bangsa Indonesia, itu gugur di Laut China Selatan. Perlawanan sengit ini berakhir karena hampir semua anggota Pasukan Pelopor yaitu sebanyak 33 orang gugur dalam pertempuran tersebut.

Soekanto Tjokrodiatmodjo, Kapolri Pertama Peletak Dasar Struktur Kepolisian

Warga Dayak minta jasad Amji Attak dikembalikan ke Indonesia

Jenazah Amji bersama anggota Polri lainya ditemukan mengapung beberapa hari kemudian, dan kemudian dimakamkan di Malaysia.

Seketaris Jenderal Dayak International (DIO) Dr Yulius Yohanes, M.Si, mendesak Presiden Indonesia, Joko Widodo agar memerintahkan Menteri Koordiantor Politik dan Keamanan (Menkopolhulkam) Mahfud MD, Menteri Luar Negeri, (Menlu) Retno Marsudi, dan Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto, melakukan koordinasi untuk mengembalikan jasad Aipda Amji Attak dan anak buahnya dari Malaysia.

"Dilihat dari heroisme perjuangannya, maka sudah sepatutnya Amji Attak, seorang dari Suku Dayak Kanayatn dari Desa Kepayang, Kecamatan Anjongan, Kabupaten Mewpawah, Provinsi Kalimantan Barat, diusulkan dan kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional," kata Yulius, menukil Indenpedensi (5/8/2020).

Menurutnya, misi yang dilakukan Amji dan anggotanya dilakukan bersama dengan tiga personil Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL), yakni Usman Janatin, Gani bin Arup, dan Harun Thohir (Usman Harun), cukup berat.

Pendek kata, tak berlebihan jika ketiganya sudah ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional, karena jasanya selama peperangan dengan Malaysia.

Khusus Usman dan Harun yang kemudian dihukum mati dengan cara digantung di Singapura, pada 17 Oktober 1968. Bahkan namanya, kini menjadi nama Kapal Republik Indonesia (KRI).

Wacana Polisi Soal Tak Ada Lagi Tilang di Jalan Raya MI

"Berangkat dari kisah heroik Usman dan Harun dari unsur TNI AL, di mana jazadnya dibawa ke Indonesia, setelah menjalani hukuman gantung di Singapura, dan kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Pertanyaan kemudian, kenapa kerangka jenazah Aipda Amji Attak dan 32 anak buahnya dari unsur Polri tidak dibawa kembali ke Indonesia, untuk selanjutnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan," tanya Yulius.

Dirinya meminta, Pemerintah Indonesia bersifat transparan atas perlakukan terhadap jasad para anggota Polri yang gugur dalam konfrontasi dengan Malaysia. Hal ini sebagai rasa tanggung jawab pemerintah terhadap masa depan bangsa.

"Kami orang Dayak menunggu transparasi dari Pemerintah Republik Indonesia," pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini