Nama Kawasan di Jakarta yang Berasal dari Flora Identitas Kota Jogja

Nama Kawasan di Jakarta yang Berasal dari Flora Identitas Kota Jogja
info gambar utama

Semua orang di Indonesia pasti sudah tidak asing lagi dengan salah satu kawasan di Jakarta Utara yang merupakan kawasan ikonik. Kawasan yang terletak strategis di wilayah utara Jakarta ini dinamakan kawasan Kelapa gading. Lokasinya yang strategis membuat banyak perusahaan menjadikan kawasan ini untuk mengembangkan bisnis. Tidak hanya perusahaan dengan gedung-gedung perkantoran saja yang menempati kawasan Kelapa gading, kawasan ini juga dijadikan sebagai tempat hunian, restoran, taman, pusat perbelanjaan, hingga pusat transportasi. Oleh karena itu, tidak heran jika kawasan ini disebut sebagai kawasan yang strategis dan super lengkap.

Tapi siapa sangka kawasan yang menjadi ikon bagi pemerintah Jakarta Utara dahulunya merupakan sebuah daerah dataran rendah dengan rawa-rawa yang menjadi langganan banjir Jakarta. Pada tahun 1975, dilakukan proyek pembangunan di daerah Kelapa gading. Perusahaan yang membangun proyek di daerah tersebut mempunyai visi untuk membangun kawasan yang menyatukan pemukiman para warga dan komersial dengan fasilitas-fasilitas pendukungnya. Kemudian memasuki tahun 1990, dibangun infrastuktur jalan tol yang melewati area pemukiman di kawasan Kelapa Gading.

Konon katanya pemberian nama Kelapa gading sudah dikenal sejak era nama pelabuhan terkenal di Muara Tjiliwong. Selain itu pemakaian kata Kelapa juga dipakai dalam penamaan daerah Sunda Kelapa pada saat itu. Pada saat itu banyak tanaman dengan pohon-pohon yang tumbuh di kawasan Kelapa gading salah satunya adalah tanaman dengan nama latin Cocos Nudfera Var Ebunea, atau sering disebut dengan tanaman Kelapa gading saat ini.

Mungkin sedikit dari kita yang menyangka, bahwa Kelapa Gading (Cocos nucifera L.) adalah flora identitas Kota Yogyakarta, yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Walikotamadya Yogyakarta Nomor 2 tahun 1998. Tumbuhan ini tersebar luas di berbagai tempat di wilayah propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Keberadaan tanaman ini mempunyai hubungan yang kuat pada kehidupan masyarakat di Yogyakarta. Pohon Kelapa gading memiliki filosofi dan budaya yang sangat tinggi. Selain itu tanaman ini disebut-sebut sebagai tanaman raja di Yogyakarta, Kelapa gading juga digunakan sebagai salah satu pelengkap upacara tradisional karena memiliki makna simbolis.

Mengapa kelapa gading dijadikan simbol kota Jogja? Tak lain dan tak bukan adalah karena kelapa itu sendiri sebagai anaman serba guna bagi masyarakat. Hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan orang. Batang kelapa dapat dimanfaatkan untuk pembuatan alat-alat dapur seperti uleg-uleg (bahasa jawa) dan dapat juga dipakai untuk hiasan dan peralatan mebel seperti kursi dll. Batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Daunnya dipakai sebagai atap rumah setelah dikeringkan. Daun muda kelapa disebut janur, dipakai sebagai bahan anyaman dalam pembuatan ketupat.

Dalam upacara adat pernikahan Jawa, terdapat tradisi pemasangan tarub yang terbuat dari anyaman daun kelapa yang disebut dengan blekethepe. Blekethepe merupakan simbol dimulainya suatu rangkaian acara pernikahan dan simbol gotong royong karena pemasangannya dilakukan secara gotong royong antara ibu dan ayah mempelai perempuan. Kegiatan ini dilanjutkan dengan pemasangan tuwuhan (tumbuh-tumbuhan), dimana salah satu komponennya adalah cengkir gading (buah Kelapa Gading) yang melambangkan pengharapan akan keturunan.

Upacara adat mitoni (tujuh bulanan wanita hamil) juga menggunakan cengkir gading, dengan dua buah kelapa yang masing-masing digambari Dewa Kamajaya dan Dewi Kamaratih. Dalam pewayangan, dewa dan dewi ini merupakan simbol kerukunan suami istri. Tangkai anak daun yang sudah dikeringkan disebut lidi, dihimpun menjadi satu menjadi sapu lidi. Bunga betinanya disebut bluluk dapat dimakan. Endosperm kelapa gading dapat dimanfaatkan sebagai penawar racun.

Tanaman ini memiliki warna kuning gading sehingga tanaman ini diberi nama Kelapa gading, yaitu pohon kelapa yang berwarna gading (kuning keemasan). Pohon Kelapa gading termasuk dalam family Arecaceae atau yang bisa disebut dengan Palem-paleman. Tanaman ini dapat tumbuh dimana saja dan mudah di jumpai. Pohon Kelapa gading juga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan alat-alat mebel dan alat-alat dapur. Zaman dahulu daunnya dapat dikeringkan kemudian digunakan sebagai atap rumah. Sementara itu daunnya yang masih muda dapat digunakan sebagai anyaman dalam berbagai upacara adat khususnya di Jawa.

===

Referensi :

Julio, Emirald. “Asal-Usul Kawasan Kelapa Gading”. Berita Kawasan. 1 Oktober 2018.

Keanekaragaman Hayati Daerah Istimewa Yogyakarta. Badan Lingkungan Hidup. 11 April 2017.

Jurnal Risa.“Kelapa Gading”. 10 April 2015

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NK
AH
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini