Kimia Farma dari Pabrik Kina yang Pernah Kuasai Pasar Farmasi Dunia

Kimia Farma dari Pabrik Kina yang Pernah Kuasai Pasar Farmasi Dunia
info gambar utama

Batavia, pada awal-awal pembangunannya pernah menjadi kota yang mendapat julukan sebagai "Ratu dari Timur", sebuah permukiman orang Eropa terbaik di belahan dunia bagian timur. Namun, predikat itu perlahan luntur memasuki abad ke-18, penyebabnya adalah Malaria.

Penduduk Eropa dan pribumi banyak meninggal akibat Malaria, bahkan karena itu Batavia sempat dijuluki Het graf van het oosten atau kuburannya negeri timur. Setidaknya selama 53 tahun, antara 1714-1767, sebanyak 72.816 penduduk Eropa di Batavia meninggal karena penyakit ini.

"Lebih banyak orang Eropa meninggal karena udara yang tidak sehat di Batavia daripada di tempat-tempat yang lain di dunia," tulis Kapten James Cook, pelaut Inggris yang dikutip Susan Blackburn dalam bukunya ''Jakarta: Sejarah 400 Tahun'' (h/t Tirto).

Akhirnya pada pertengahan 1800-an, Menteri Jajahan Seberang Lautan Belanda Ch F.Pahud memulai proyek besar menanggulangi Malaria. Dia mengutus Karl Haskarl, ilmuwan berkebangsaan Jerman, untuk membudidayakan kina yang diselundupkan dari Peru.

Saat itu, para peneliti menghasilkan temuan bahwa kandungan yang terdapat dalam pohon kina dapat menjadi obat ampuh malaria. Bagian yang diambil yaitu kulit pohonnya.

Pemerintah kolonial mulai mengembangkan tanaman kina di Cibodas, Jawa Barat. Tugas Haskarl berhenti ketika dirinya harus kembali ke Eropa, tugasnya kemudian dilanjutkan Franz Wilhelm Junghuhn, naturalis terkemuka berkebangsaan Jerman.

7 Pulau Kecil di Lombok Selatan Kini Terjangkau Oleh Klinik Apung

Pada 1857, dia kemudian memindahkan lokasi budidaya tanaman kina dari Cibodas yang dinilai kurang tepat ke lereng gunung Malabar, Pangalengan. Karena memang bukan tanaman asli Indonesia, penanamannya harus di lahan yang sesuai dengan perlakuan khusus pula. Malabar yang memiliki lapisan atas tanah yang tebal dan kondisi alam yang mirip hutan Pegunungan Andes, membuat bibit kina bisa berkembang dengan baik.

"Selama delapan tahun berikutnya Junghuhn bekerja tanpa kenal lelah--menaman stek, menguji kulit batang, dan menulis buku petunjuk--semuanya demi menghasilkan lebih banyak lagi pohon kina," tulis Andrew Goss dalam ''Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan: Dari Hindia Belanda Sampai Orde Baru''.

Menurut Ririn Darini dalam jurnalnya yang berjudul ''Perkembangan Industri Kina Di Jawa, 1854-1940'', jumlah tanaman kina yang hidup di Cibodas (Pegunungan Gedeh), dan di Cinyiruan (Pegunungan Malabar), terdiri dari beberapa spesies, yakni 99 Chincona callisaya, 140 Chincona pahudiana, 7 Chincona lacheolate, 3 Chincona lancifolia, 1 Chincona sucirubra, dan 1 Chincona Puscechen.

Memang, tingginya kasus malaria membuat Pemerintah Hindia Belanda memasukan kina sebagai tanaman yang wajib ditanam masyarakat di area kebunnya. Hal tersebut juga yang mendorong pemerintah mengembangkan wilayah daratan tinggi Tatar Priangan untuk ditanami ratusan hektare tanaman kina melalui Perkebunan Negara.

"Penanaman tersebut terus dilakukan dan makin tersebar di kawasan pegunungan Tatar Sunda seperti Cibereum, Riung Gunung, Kawah Ciwidey, Nagreg, Rancabolang, Cibitung, Talaga, Patengan, dan Lembang, dengan luas total 1267 ha. Upaya tersebut merupakan tindakan etis pemerintah Hindia Belanda demi kemanusian," ulas Ririn dalam jurnalnya.

Tujuh tahun kemudian, jumlah pohon kina menjadi 1.359.877 batang dan 70 persen di antaranya berjenis cinchona. Lalu setiap tahunnya, 11 ribu ton kulit kina dihasilkan. Untuk mengakomodasi tingginya produksi cinchona, pada 1896 didirikanlah pabrik di Bandung bernama Bangdoengsche Kinne Fabriek, kelak jadi pabrik PT.Kimia Farma.

Menjadi penguasa farmasi dunia

Sejak lama pemerintah kolonal memang ingin menjembatani kepentingan kemanusian dengan kemauan para investor dan administrator Liberalis. Liberalis sejak lama memang menginginkan reformasi di Hindia Belanda tetap menguntungkan terutama investasi di bidang perkebunan.

Sosok KW van Gorkom menjadi pemeran penting untuk menjembatani hal ini, setelah menggantikan Junghuhn karena sakit. Dengan mewarisi 1.151.810 pohon kina, Gorkom tak ingin mengulangi sikap Junghuhn yang yakin bahwa alam dapat diarahkan sesuai sains. Upaya kerasnya membuahkan hasil.

"Panen pertama kulit pohon cinchona terjadi pada 1869, dari tahun itu hingga 1874, di perkebunan pemerintah saja, 74.170 kilogram kulit cinchona dipanen. Pada 1869 didistribusikan ke sekitar 600 pabrik di berbagai kabupaten untuk mendorong budidaya swasta," tulis Samuel Cross dalam ''Quinine: Production and Marketing'', mengutip Historia.

Dengan warisan penanaman kina secara komersial di Jawa, Gorkom membuka gerbang kejayaan kina di Hindia Belanda. Setelah 1885, Jawa berhasil menggantikan Ceylon (kini Sri Lanka) sebagai pemasok utama kina di dunia.

Budidaya kina mencapai puncak kejayaan jelang Perang Dunia II, ketika produksi kina di titik tertinggi. Dengan total lahan seluas 18.000 hektare, lahan-lahan di Tanah Parahyangan mampu memproduksi 11.000-12.000 ton kulit kina kering.

Namun dari jumlah itu, hanya 4.000 ton yang diolah Bandoengsche, sisanya diekspor. Tidak heran kalau Hindia Belanda mensuplai 90 persen kebutuhan kulit kina dunia.

"Belanda telah secara spektakuler meningkatkan kandungan kina dari kulit pohon cinchona asal Peru dari 3 persen menjadi 18 persen. Hasilnya adalah bahwa Hindia Belanda sekarang memasok sekitar 95 persen dari kina dunia dan secara sewenang-wenang mengendalikan distribusi dan harga," tulis Majalah Life edisi 22 Januari 1940.

Berusia Setengah Abad Lebih, Kimia Farma Semakin Rajai Industri Farmasi

Dominasi Hindia Belanda itu akhirnya rusak oleh pendudukan Jepang, Maret 1942. Pabrik kina kemudian dikuasai oleh Jepang dan diberi nama Rikugunkinine Seizoshyo, yang sebagian besar hasilnya diangkut ke Jepang. Produk kina yang dihasilkan kemudian dipasok ke Jepang dan dikirim ke tempat-tempat lain selama Perang Pasifik berlangsung.

Ketika Jepang kalah, pabrik ini kembali dikuasai Belanda dengan nama awal yang kembali disematkan. Pemerintah Indonesia kemudian melakukan nasionalisasi perusahaan ini pada 1958, berapa tahun setelah kemerdekaan diraih.

Nama pabrik kemudian diganti menjadi Perusahaan Negara Farmasi dan Alat Kesehatan Bhinneka Kina Farma, bedasarkan SP Menkes tertanggal 18 Juli 1960. Kemudian pada 1971, nama tersebut kembali diubah menjadi PT Kimia Farma bedasarkan Peraturan Pemerintah No.16 Tahun 1971.

Momentum bangkitnya industri farmasi lokal?

Hengkangnya Belanda dari Bumi Indonesia pasca Kemerdekaan, menyebabkan terjadinya kekosongan pasokan obat-obatan di negera yang baru lahir ini. Pemerintah kemudian membuka keran impor obat-obatan dari luar negeri. Mulai tahun 1950-an bermunculan distributor-distributor yang menjadi agen pabrik-pabrik farmasi besar di dunia.

Seperti PT Jawa Maluku yang menggaet produk Bayer (sejak 1950), disusul PT Tunggal untuk Beecham dan Hoechst, PT Tempo untuk Upjhon. Ditambah lagi Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) tahun 1967 membuka pintu untuk usaha patungan seperti PT Bayer Farma dan lain-lain. Sehingga pada tahun 1970-an ada sekitar 35 industri farmasi PMA yang mendirikan pabriknya di Indonesia.

Hingga sekarang industri farmasi Indonesia masih tergantung akan impor bahan baku obat dan alat kesehatan. Menurut Faculty Member dari Departement Farmasi Institute for Life Science (i3L), Pietradewi Hartrianti, dikjelaskan bahwa Indonesia masih tergantung impor bahan baku farmasi dari China dan India.

Ketergantungan yang tinggi membuat daya saing obat nasional tergerus karena lemahnya posisi tawar terhadap importir. Meski sebenarnya Kimia Farma sudah berupaya melakukan produksi bahan baku obat (BBO) sejak 2016, melalui anak usahanya PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP).

Ternyata Vaksin Buatan Indonesia Dipercaya Oleh Negeri-Negeri Islam Dunia

Untuk saat ini, wabah virus Corona yang melanda diseluruh negara di dunia dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk membangkitkan dan memperkuat industri kesehatan nasional. Sekaligus melepas dari ketergantuan impor produk kesehatan.

Ketua Program Studi Sarjana Farmasi i3L, Leonny Yulita Hartiadi, menyebut Indonesia harus mulai berdapatasi dengan tantangan yang muncul akibat munculnya pandemi Covid-19. Terutama saat melihat kelangkaan barang yang penting, seperti hand sanitizer, alkohol, masker, alat pelindung diri, suplemen, dan multivitamin.

Kedepannya, Leony mengharapkan pemerintah agar dapat memproduksi alat kesehatan guna penanganan Covid 19. Baik industri bahan baku, farmasi, alat perlindungan diri (APD), masker dan industri ventilator.

Hal ini sesuai amanat Presiden Joko Widodo yang pernah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2016, untuk mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan dalam negeri.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini