Mengenal Sosok dan Cerita di Balik Pembuatan Uang Penerbitan Khusus Soeharto

Mengenal Sosok dan Cerita di Balik Pembuatan Uang Penerbitan Khusus Soeharto
info gambar utama

Bicara soal uang yang saat ini menjadi alat pembayaran utama di seluruh negara termasuk Indonesia, faktanya ada hal menarik yang selalu terjadi secara rutin dalam kurun waktu tertentu di tanah air dalam hal penerbitan uang yang diedarkan ke masyarakat.

Pada dasarnya, uang rupiah khusus merupakan uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral (BI) dalam rangka memperingati peristiwa atau tujuan tertentu. Yang paling baru terjadi pada 17 Agustus 2020 lalu, saat di mana BI mengeluarkan uang pecahan Rp75 ribu dalam rangka memperingati HUT RI ke-75.

Tentunya bukan kali pertama, jauh beberapa tahun sebelumnya bahkan sejak awal kemerdekaan, BI juga kerap kali mengeluarkan uang edisi khusus yang sering kali diterbitkan untuk mengenang tokoh nasional tertentu.

Salah satu uang penerbitan khusus yang tak kalah populer dan banyak dikenal hingga saat ini yaitu uang pecahan Rp50 ribu edisi khusus Presiden ke-2 RI, yaitu Soeharto yang mendapat julukan Bapak Pembangunan Nasional.

Terbukti, unggahan pada lini media sosial GNFI mengenai uang yang saat ini menjadi barang langka dan dihargai sampai ratusan ribu bahkan jutaan di kalangan kolektor, nyatanya mengundang banyak reaksi dan nostalgia yang disampaikan oleh mereka yang pada zamannya pernah merasakan hidup di masa peredaran uang tersebut.

Dari sekian banyak komentar, beberapa bahkan ada yang menilai bahwa uang tersebut memiliki desain yang istimewa.

Lantas siapa sebenarnya sosok yang mendesain uang khusus edisi Soeharto dan seperti apa cerita di balik pembuatannya? Menjawab pertanyaan tersebut, pada Selasa, (13/7/2021), GNFI berkesempatan berbincang dengan sosok yang mendesain uang tersebut sekaligus menceritakan proses pembuatannya.

Alexander Andries Maramis, Penanda Tangan Mata Uang RI Pertama

Uang rupiah berbahan polimer pertama di Indonesia

Faisol Mustofa, pria kelahiran tahun 1955 asal Temanggung, Jawa Tengah menjadi sosok di balik perancangan uang pecahan Rp50 ribu edisi khusus Soeharto yang terbit pada tahun 1993.

Faisol menempuh pendidikan Seni Grafis di Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (STSRI ‘Asri’) yang saat ini dikenal sebagai Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Setelah lulus, dirinya pindah ke Jakarta dengan membawa cita-cita awal sebagai seorang guru seni.

Namun, akhirnya pada tahun 1985 Faisol bekerja di Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI), yang saat ini masih bertanggung jawab dalam mencetak uang yang beredar di masyarakat. Dalam tugasnya, Faisol ditempatkan sebagai tim desainer yang tidak hanya merancang uang namun juga berbagai jenis prangko yang beredar pada kala itu.

Lebih jauh saat menceritakan cerita di balik proses pembuatan uang edisi khusus Soeharto, Faisol mengungkap bahwa proyek tersebut menjadi proyek pembuatan yang sangat sigap baik dari segi perancangan maupun percetakan.

Dalam tim desainer yang dimiliki oleh PERURI kala itu, ada sekitar 20 orang yang masing-masing bersaing secara individu untuk membuat masing-masing rancangan dan konsep saat mendapat pesanan dari BI yang ingin mengedarkan uang edisi khusus Soeharto.

Plakat penghargaan rancangan uang edisi khusus Soeharto | Dok. pribadi via GNFI
info gambar

Kemudian, dari sekian banyak konsep dan desain yang diajukan akhirnya terpilih dua rancangan milik dirinya, yaitu uang pecahan 50 ribu yang terbit tahun 1993, dan pecahan 20 ribu cendrawasih yang terbit pada tahun 1995.

Faktanya, uang tersebut menjadi uang kertas pertama berbahan polimer yang pertama kali diterbitkan di Indonesia. Kala itu, uang berbahan polimer banyak digunakan oleh negara lain termasuk Inggris karena dinilai lebih bersih, aman, dan tahan lama dibanding uang berbahan kertas biasa.

Uang kertas polimer juga dinilai lebih tahan terhadap pemalsuan berkat kemampuan menampilkan citra layaknya jendela atau bagian transparan pada uang yang tidak dimiliki uang dengan bahan kertas biasa.

Karena itu, saat proses perancangannya kala itu Faisol mengungkap bahwa dirinya ditugaskan belajar ke Inggris untuk menyelami bagaimana teknik, kualitas, dan mendesain uang kertas berbahan polimer.

Namun saat ini, uang yang beredar di Indonesia tidak lagi menggunakan bahan polimer melainkan serat kapas. penggunaan bahan serat kapas diyakini membuat uang kertas rupiah tak mudah sobek dan sifatnya lebih lentur.

Fakta menarik lainnya, sebagian besar uang kertas Indonesia yang terbit antara tahun 1952 hingga 1988 mencantumkan nama desainer atau perancang uang tersebut. Hal tersebut dapat dilihat pada bagian sisi kiri bawah.

Uang kertar Rp100 tahun 1984 yang masih mencantumkan nama perancang di bagian sudut kiri bawah
info gambar

Nama perancang tertulis dalam huruf kapital dan diikuti dengan tulisan "DEL." yang merupakan singkatan dari "Delinavit" dalam bahasa Prancis, yang memiliki makna perancang uang.

Pencantuman nama masing-masing perancang setiap uang kertas yang beredar dimaknai sebagai bentuk penghargaan yang diberikan terhadap hasil karya yang telah dibuat. Lewat tulisan tersebut, masyarakat jadi tahu mengenai siapa nama perancang uang yang digunakan sehari-hari.

Namun sejak tahun 1990-an hingga saat ini, bagian nama perancang tersebut mulai dihilangkan oleh pihak BI, termasuk uang edisi khusus Soeharto yang pada saat itu dirancang oleh Faisol. Pada akhirnya pihak Peruri menggantikan penghargaan dalam bentuk plakat yang diberikan secara pribadi kepada masing-masing perancang uang kertas yang beredar.

Jejak Masa Kecil Soeharto, Bocah Bertelanjang Dada yang Sampai ke Istana

Makna khusus Bapak Pembangunan Indonesia

Visual detail Soeharto di uang edisi khusus
info gambar

Faisol mengungkap, bahwa proses pembuatan uang secara keseluruhan pada kala itu melalui waktu yang panjang dan belum semudah sekarang yang sudah dipermudah dengan adanya perkembangan teknologi.

“Proses dalam pembuatannya tidak sebentar, penerbitan produk (uang) itu sekitar 2 tahun. Mulai dari perencanaan dan konsep serta elemen yang harus diterapkan dalam desain itu, bolak-balik di kedua sisinya kurang lebih 9 bulan sampai 1 tahun, kemudian ditambah proses memvisualkan rancangan yang sudah dibuat ke dalam bentuk uang fisik (naik cetak) itu juga 1 tahun…” terang Faisol.

Adapun yang dimaksud dengan perencanaan dan konsep serta elemen yang dimaksud ialah makna dan filosofi pada uang yang beredar, dalam hal ini sosok Soeharto yang digambarkan sebagai sosok Bapak Pembangunan Nasional.

Pada bagian depan terlihat gambaran apa saja pembangunan nasional yang sudah dilakukan pada masa kepemimpinan Soeharto di tanah air.

Sementara Faisol yang merancang bagian belakang uang tersebut menggambarkan Bandara Internasional Soekarno-Hatta sebagai bentuk visualisasi program tinggal landas yang dimiliki Soeharto pada kala itu.

“Lewat gambar itu saya memberikan pandangan sederhana yang lebih mudah dipahami masyarakat, bahwa di tahun tersebut Indonesia ada di masa tinggal landas untuk terbang menyamakan kedudukannya dengan negara-negara lain” kenang Faisol.

Kisah Soeharto Temui Mahasiswa untuk Redam Peristiwa Malari

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini