Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 11,86 Miliar Dolar AS di Semester I 2021

Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 11,86 Miliar Dolar AS di Semester I 2021
info gambar utama

Kabar baik dari sektor ekonomi kembali datang di tengah situasi krisis yang terjadi akibat pandemi. Walau secara keseluruhan Indonesia masih belum bisa lepas dari jeratan defisit APBN yang terjadi setiap tahunnya, namun dalam 14 bulan terakhir tepatnya sejak bulan Mei 2020 neraca perdagangan Indonesia selalu mencatatkan laporan surplus.

Ya, bahkan sejak awal situasi pandemi yang melanda di awal tahun 2020 lalu, neraca perdagangan Indonesia berhasil meraih surplus berkat angka ekspor yang selalu mencatatkan nilai lebih tinggi dibandingkan impor yang dilakukan secara keseluruhan.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono, dalam konferensi pers yang dilaksanakan hari ini, Kamis, (15/7/2021) secara virtual.

"…surplus ini menggembirakan, sejak bulan Mei (2020) sampai Juni (2021), neraca perdagangan kita surplus. Ini kabar baik selama 14 bulan terakhir," ungkap Margo.

Dalam kesempatan yang sama, dirinya juga memaparkan lebih detail soal performa neraca perdagangan di tanah air selama kurun waktu semester I 2021 (Januari-Juni), yang tetap mencatatkan pencapaian serupa dengan nilai surplus total secara keseluruhan dengan nilai 11,86 miliar dolar AS, atau setara lebih dari Rp171 triliun.

Ekspor Furnitur Indonesia ke Kanada Meningkat 49,4 Persen di Kuartal I 2021

Detail pertumbuhan ekspor

Konferensi Pers
info gambar

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, sektor non-migas masih menjadi penyumbang nilai ekspor terbesar dari neraca perdagangan yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan data Semester I tahun ini, angka ekspor tertinggi diperoleh pada bulan Juni senilai 18,54 miliar dolar AS yang didominasi oleh ekspor non migas senilai 17,31 miliar dolar AS dan ekspor migas senilai 1,23 miliar dolar AS.

Dijelaskan pula bahwa ekspor migas meningkat 27,23 persen dibandingkan bulan Mei dan tumbuh sebesar 117,15 persen dibandingkan bulan Juni 2020 dengan nilai mencapai 1,23 miliar dolas AS. Hal yang sama juga terjadi pada ekspor non migas dengan peningkatan 8,45 persen dibandingkan bulan Mei dan tumbuh sebesar 51,35 persen dibandingkan bulan Juni 2020 menjadi 17,31 miliar dolar AS.

Walau pertumbuhan ekspor migas lebih besar dari segi persentase, namun dijelaskan bahwa penyumbang ekspor terbesar tetap didominasi oleh komoditas non migas, yang di antaranya terdiri dari bahan bakar mineral, minyak hewan nabati dan lemak, serta besi dan baja.

Sedangkan secara keseluruhan, nilai ekspor pada Januari hingga Juni 2021 dilaporkan mencapai angka 102,87 miliar dolar AS atau tumbuh sebesar 34,78 persen dari periode yang sama pada tahun lalu (yoy).

Bukan berarti angka impor tidak mengalami kenaikan, BPS juga mencatatkan bahwa total nilai impor secara keseluruhan dari Januari hingga Juni 2021 mencapai angka 91,1 miliar dolar AS, atau naik sebesar 28 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu.

Namun sekali lagi, karena performa nilai ekspor yang tak kalah tinggi membuat neraca perdagangan yang dimiliki Indonesia mencatatkan angka positif. Adapun kenaikan ekspor yang terjadi juga didorong karena kenaikan sejumlah harga komoditas yang dimiliki Indonesia, di antaranya harga minyak mentah, batu bara, nikel, dan timah yang terus mengalami peningkatan cukup signifkian setiap bulannya.

Sedangkan jika bicara mengenai peningkatan tujuan ekspor, perubahan dicatatkan terjadi lewat kenaikan ekspor terbesar ke China yang mencapai 625,2 juta dolar AS, diikuti Amerika Serikat sebesar 374,5 juta dolar AS, kemudian Jepang sebesar 252,9 juta dolar AS.

Tak dimungkiri, penurunan nilai ekspor juga dialami ke beberapa negara di antaranya India turun menjadi sebesar 163,7 juta dolar AS, Swiss sebesar 94,2 juta dolar AS, dan Pakistan sebesar 85,8 juta dolar AS.

Ekspor Mainan Anak Tembus 343 Juta Dolar AS, Action Figure Bima S Toys Jadi Harapan Baru

China jadi sasaran utama ekspor Indonesia

Groundbreaking pabrik pengolahan sarang burung walet di Shanghai | Dok. KJRI Shanghai via Kemlu.go.id
info gambar

Terlepas dari berbagai perubahan peningkatan dan penurunan nilai ekspor yang terjadi ke berbagai negara tujuan, peringkat 3 besar pangsa ekspor Indonesia tetap tidak berubah, yakni dengan tetap menempatkan China pada posisi pertama dengan persentasi sebesar 23,88 persen dari total 100 persen sasaran pasar ekspor Indonesia, AS di peringkat kedua sebesar 12,34 persen, kemudian diikuti Jepang sebesar 7,87 persen pada peringkat ketiga.

Sektor non migas yang memiliki nilai penyumbang ekspor paling besar dan mendominasi rupanya menjadi fokus tersendiri bagi pemerintah. China yang tidak hanya menjadi sasaran ekspor terbesar secara keseluruhan rupanya juga menunjukkan hal yang sama dengan mayoritas komoditas non migas yang lebih banyak didatangkan dari Indonesia.

Beberapa komoditas yang paling banyak diperoleh China dari Indonesia di antaranya sarang burung walet, di mana pada tahun ini juga terjadi kerja sama bilateral yang menghasilkan pembangunan pabrik untuk mengolah sarang burung walet yang diekspor oleh Indonesia ke China.

Selain itu ada juga ekspor berupa hasil hutan bukan kayu, tanaman obat aromatik, rempah seperti lada hitam dan cengkeh, kopi, serta buah-buahan.

Kerja Sama Bilateral Indonesia-Tiongkok, Bangun Pabrik Pengolahan Sarang Burung Walet

Konten di atas sebagian memakai konten yang ada di Wikipedia. Untuk melihat yang lainnya, silakan klik tautan berikut Arsip Wikipedia. Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini