Terancam Punah, Ini 4 Primata Endemik yang Menghuni Kepulauan Mentawai

Terancam Punah, Ini 4 Primata Endemik yang Menghuni Kepulauan Mentawai
info gambar utama

Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat, dikenal dengan keunikan budaya yang masih terjaga serta kawasan pantai eksotis dengan ombak besar. Tak heran jika Mentawai sering jadi tujuan liburan para peselancar dari berbagai negara.

Kepulauan ini terdiri dari empat pulau utama yang berpenghuni, yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Sebagian besar pulau lain hanya ditanami pohon kelapa.

Selain dikaruniai dengan alam yang memesona, Mentawai juga jadi habitat bagi empat primata endemik dilindungi, seperti lutung Mentawai, monyet ekor babi, beruk Mentawai, dan siamang kerdil.

Monyet ekor babi

Memiliki nama ilmiah Simias Concolor atau sering disebut simakobu, primata mungil ini memiliki ciri khas fisik ekor yang mirip seperti ekor babi dan hidungnya pesek. Uniknya, tangan dan kaki simakobu memiliki panjang yang sama.

Untuk membedakan jantan dan betina, bisa dilihat dari bentuk tubuhnya. Simakobu jantan dewasa umumnya lebih besar dibanding betina, dan taring jantan relatif lebih panjang.

Simakobu jantan memiliki panjang sekitar 49-55 cm dengan berat rata-rata 8,7 kg dan panjang betinanya sekitar 46-55 cm dengan bobot sekitar 7,1 kg. Untuk panjang ekornya sekitar 14-15 cm. Umumnya, warna simakobu cenderung abu-abu gelap, tetapi ada juga yang warnanya cokelat muda.

Habitatnya adalah daerah lereng bukit, baik di pedalaman pulau, hutan air payau, hutan air tawar, dan hutan hujan berdataran rendah. Simakobu cenderung hidup dalam kelompok kecil yang terdiri dari satu pejantan, satu atau lebih betina, dan anak-anaknya.

Kebanyakan aktivitasnya dilakukan di atas pohon dan jarang turun ke tanah, mereka sering menghabiskan waktu pada siang hari. Untuk makanan, primata asli Indonesia ini biasa mengonsumsi bunga, buah, dan dedaunan.

Termasuk hewan endemik Indonesia, persebaran simakobu terbatas hanya di Kepulauan Mentawai saja. Populasinya diperkirakan semakin menurun dan kini sudah berstatus hewan langka. Hal ini terjadi karena perburuan berlebihan ditambah dengan habitat asli yang rusak dan hilang, mengingat banyak hutan dijadikan perkebunan kelapa sawit.

5 Burung Cantik Asli Indonesia yang Sudah Mulai Langka

Beruk Mentawai

Beruk Mentawai | @Opayaza12 Shutterstock
info gambar

Primata lain yang bisa ditemukan di Mentawai ialah beruk atau bokkoi (macaca pagensis). Tampilan fisiknya serupa beruk pada umumnya, tetapi ada perbedaan di bagian rambut pipi yang warnanya lebih gelap, serta memiliki mahkota berwarna cokelat, dan rambut di dahi. Ukuran tinggi bokkoi jantan sekitar 45-55 cm dan betina 40-45 cm. Ekornya cukup panjang, sekitar 10-16 cm.

Bokkoi kantung pipi yang berfungsi untuk menyimpan stok makanan ketika ia sedang mencari makanan. Ia merupakan hewan diurnal atau aktif di siang hari dan pemakan segala jenis daun, bunga, biji-bijian, dan aneka buah.

Bokkoi lebih suka hidup di atas pohon dengan ketinggian 24-36 meter serta hidup berkelompok, mulai dari 5-25 individu. Satu kelompok biasanya dipimpin seekor hewan jantan. Saat mencari makan, bokkoi biasanya berjalan dengan cara merangkak. Ciri khas mereka dalam berkomunikasi adalah teriakan yang nyaring.

Untuk melihat keberadaan bokkoi, mereka biasanya hidup di hutan bakau, hutan pantai, hutan sekunder, hutan primer, dan hutan dekat pemukiman. Saat ini, statusnya pun terancam punah dan populasinya semakin berkurang.

Inilah Burung Paling Berbahaya di Dunia yang Hidup di Hutan di Indonesia

Siamang kerdil

Siamang kerdil juga biasa disebut owa bilou, bilou, atau owa Mentawai dengan nama latin Hylobates klossii. Ia adalah jenis kera unik, mirip siamang, tetapi ukurannya kecil. Sekujur tubuhnya dipenuhi rambut berwarna hitam pekat dan memiliki selaput antara jari kedua dan ketiga.

Berat tubuh bilou jantan dewasa rata-rata sekitar 5,5 kg dengan panjang 45 cm. Primata ini hidup berkelompok, terdiri dari induk jantan dan betina dengan anak-anak yang belum dewasa. Jenis arboreal tertua yang masih hidup ini lebih banyak hidup di atas pohon dengan ketinggian lebih dari 20 meter.

Di habitat alam liar, bilou dapat hidup hingga 25 tahun dan dalam penangkatan yang terawat serta hidupnya tercukupi, ia bisa hidup sampai 40 tahun. Makanan bilou antara lain buah-buahan, telur burung, serangga, vertebrara kecil, dan tanaman.

Bilou termasuk jarang turun ke tanah. Ia menggunakan lengan-lengannya yang panjang untuk berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Warga lokal percaya bahwa suara bilou menjadi pertanda datangnya bencana dan seringkali jadi peringatan dini.

Di habitat alam liar, masa hiduo Owa Bilau alias Siamang kerdil bisa hidup hingga 25 tahun dan jika dalam penangkaran yang terawat dan tercukupi kebutuhan hidupnya bisa mencapai 40 tahun.

Berdasarkan UU RI No.5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah RI No.7 Tahun 1999, bilou termasuk satwa dilindungi. Bilou terancam mengalami kepunahan akibat perburuan, perdagangan, dan kehilangan habitat.

Burung Endemik Seriwang Sangihe Kini Terancam Pertambangan Emas

Lutung Mentawai

Lutung Mentawai merupakan spesies primata yang termasuk dalam famili Cercopithecidae. Ia dikenal dengan nama lokal joja atau lutung Mentawai, ada pula yang menyebutnya Mentawai Leaf Monkey, Golden-bellied Mentawai Island Langur, atau Long-tailed Langur.

Joja dikatakan termasuk primata dengan rupa paling menawan. Punggunya hitam berkilau, perutnya berwarna cokelat tua, sekitar mukanya berwarna putih, kemudian leher serta ekornya panjang dan hitam seperti sutera.

Ia pun merupakan hewan diurnal dan pergerakannya kebanyakan bergelantungan dan melompat. Pakan utamanya kebanyakan berupa dedaunan, tetapi masih mengonsumsi buah, biji-bijian, dan bunga.

Keunikan yang dimiliki joka adalah ia biasa mengeluarkan bunyi sebelum fajar dan ini dijadikan sebagai tanda teritori kawanannya, sehingga kelompok lain dapat menghindar. Sebagai hewan arboreal sejati, sepanjang hidupnya joja tinggal di atas pohon dan sangat jarak menapak tanah.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist tahun 2016, primata ini berstatus Endangered atau terancam punah karena populasinya terus menurun akibat perburuan dan kerusakan habitat.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini