Peranan Jongos dan Babu Bumiputra, Ajarkan Budaya Lokal pada Kaum Kolonial

Peranan Jongos dan Babu Bumiputra, Ajarkan Budaya Lokal pada Kaum Kolonial
info gambar utama

Pada zaman penjajahan Belanda, orang-orang Eropa kaya raya rata-rata memiliki rumah yang besar dan hidup serba mewah. Karena besarnya rumah dan tingginya gengsi, kebanyakan dari mereka membeli budak untuk mengerjakan banyak pekerjaan rumah. Jongos untuk menyebut budak laki-laki, dan Babu untuk menyebut budak perempuan.

Dahulu, idealnya sebuah rumah tangga bangsawan maupun pejabat kongsi dagang Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) memiliki belasan hingga ratusan pembantu. Rumah mereka yang besar memang tak mungkin dibereskan oleh seorang Nyonya Besar Eropa seorang diri. Nyonya Besar tidak akan sanggup mengurus anak, dapur, kebun, kuda, belum lagi berbakti di ranjang kepada Tuan Besar di malam hari.

Sebuah cerita datang dari tuan tanah kaya raya bernama Augustijin Michiels atau yang akrab disapa Mayor Jantje pada abad ke-19. Djoko Soekiman, dalam bukunya Kebudayaan Indis (2011) menjelaskan, pada tahun 1831 rumah tangga Mayor Jantje memerlukan 320 orang budak. 30 orang di antara mereka bertugas sebagai pemain musik yang serba bisa.

"Di samping itu, ada empat penari ronggeng, dua pemain gambang, dan dua penari topeng. Bahkan orang Tiongkok juga melatih budak mereka untuk menjadi artis dalam rombongan sandiwara Tiongkok yang berkembang pesat pada masa itu. Biasanya budak-budak yang pandai menari, dan menyanyi dihargai tinggi," tulis Djoko.

Para pembantu atau budak di zaman kolonial ini punya pekerjaan khusus, yang biasanya hanya mengerjakan satu jenis pekerjaan. Pada masa lalu, ada budak yang dipekerjakan cuma membawa kota pinang atau memegang payung untuk majikan. Ada juga yang dipekerjakan sebagai tukang masak, tukang kebun, pengasuh anak, dan pekatik (tukang kuda).

Sepeda yang Kuasai Jalan Ibu Kota pada Zaman Hindia Belanda RK

Mayor Jantje disebut memiliki 24 orang budak untuk mengurus kandang kuda. Di samping itu, dirinya juga mempekerjakan banyak budak untuk mengurus kebun. Ada 5 orang di taman melati, 9 di kebun sayur, serta 8 tukang potong rumput.

Lainnya, ada pengawas selokan, pengawas sarang burung walet, pengakut pedati, serta 117 babu di dalam rumah. Pekerjaan mereka adalah mencuci, menyapu, mengepel, memasak, atau menjadi pengasuh anak.

Hal yang unik adalah tradisi memiliki pembantu ini hanya dijumpai di daerah-daerah koloni Eropa. Di tempat asalnya, orang-orang Eropa tidak menggunakan jasa pembantu, kecuali bagi mereka yang berasal dari kalangan bangsawan. Ternyata tradisi priyayi bumiputra yang memiliki banyak tenaga abdi dalem sebagai pengelola rumah tangga, telah menjadi inspirasi orang-orang Eropa.

Jumlah pembantu yang dimiliki oleh orang-orang Eropa juga dapat menunjukan status sosialnya di masyarakat. Prestise ini muncul, sebab pengeluaran bulanan yang digunakan untuk membiayai segala keperluan rumah tangga, termasuk membayar upah para pembantu akan sangat besar.

Tidak banyak fasilitas yang dapat diterima para pembantu di kediaman orang-orang asing. Dengan keterampilan yang mereka miliki dan tanpa kemampuan membaca atau menulis, seorang baboe di Batavia mendapat gaji sekitar f 5 per bulan, sementara di Yogyakarta hanya f 2,50.

Upah ini belum termasuk fasilitas yang disediakan majikan mereka untuk keperluan sehari-hari, meliputi tempat tidur bale berupa ranjang dari bambu, jatah makan dua atau tiga kali, sehari dengan lauk sayur basah atau lauk sederhana dari ikan kering, juga minum air putih atau kopi kental.

Desakan ekonomi memang mendorong penduduk bumiputra meninggalkan kediaman dan sanak keluarga di desa-desa untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Sebuah laporan bulanan masyarakat misionaris Belanda di Jawa yang diterbitkan tahun 1873, menggambarkan kisah seseorang wanita bumiputra yang rela meninggalkan anaknya untuk bekerja sebagai babu.

"Kamsinah adalah namanya, dia wanita Jawa keturunan Mohammedan. Menurut pernyataannya ia berusia 22 tahun, satu-satunya anak perempuan dari ibunya. Ia datang sebagai baboe jelaga dari keluarga India, meningalkan anaknya dan telah ditanggalkan oleh suaminya."

Pembantu ajarkan budaya lokal kepada majikan

Biasanya, pada rumah tangga pengusaha atau pejabat tinggi Belanda memiliki tukang masak, tukang cuci, tukang kebun, pengasuh anak, dan pekatik. Di antara pembantu ini, pengasuh anak yang bisa lebih akrab dengan anak-anak majikan yang masih bocah.

Kesibukan bekerja dan kegiatan-kegiatan lain telah menyita banyak waktu para laki-laki Eropa, sementara istri mereka mengurusi urusan ekonomi, juga mendatangi pertemuan dengan wanita-wanita Eropa telah mengurangi waktu bersama anak. Akibatnya anak-anak tidak mendapat cukup kasih sayang dari orang tuanya, sehingga tumbuh jadi pribadi yang nakal dan terlihat murung.

Maka, babu menjadi solusi untuk menjawab permasalahan yang dihadapi oleh para orang tua Eropa di Hindia Belanda. Selain memiliki tugas mengasuh, tanpa disadari pembantu rumah tangga juga mengajarkan anak-anak Eropa mengenai Bahasa Melayu ataupun daerah. Juga memberi peluang besar memberi pengetahuan seni budaya di Hindia Belanda.

Komunikasi antara majikan dengan pembantu bumiputra sebagian besar dilakukan dengan bahasa Melayu atau bahasa daerah setempat. Penggunaan bahasa Belanda sebagai pengantar pergaulan di kalangan pekerja dan penduduk bumiputra, memicu keberatan orang-orang Eropa. Hal ini disebabkan karena kekhawatiran akan terjadi perubahan bahasa menjadi Belanda Hindia, dan membuat penduduk bumiputra jadi congkak.

Melalui percakapan antara majikan, baik pemilik rumah maupun anaknya dengan pembantu, secara otomatis mengakibatkan penggunaan bahasa Melayu dan daerah di kediaman orang-orang asing menjadi aktif.

Interaksi yang semakin intens antara majikan dengan para pembantunya mempengaruhi selera orang-orang Eropa dalam bidang pertunjukan seni sehingga berkembang musik keroncong, komedi stamboel, sandiwara, film, lukisan, patung, tekstil, dan busana.

Sebagai penduduk bumiputra, cara mengasuh pembantu-pembantu ini terkadang juga menyelipkan kearifan lokal setempat. Ketika hendak menidurkan anak, pembantu akan menggendongnya dengan selendang kain atau membaringkannya di ranjang, sambil menyanyikan lagu pengantar tidur.

G Kolff & Co, Toko Buku Pertama di Jakarta Tempo Dulu

Karena keterbatasan dalam berbahasa asing, maka tidak ada pilihan lain selain menyanyikan lagu pengantar tidur daerah asalnya. Lagu-lagu daerah yang ditujukan untuk anak biasanya mengandung doa, nasehat, atau tradisi lisan masyarakat setempat.

Peran ini juga terlihat dari pengetahuan tentang masakan lokal yang diperoleh dari para koki-koki lokal mereka. Selain itu koki-koki lokal juga dapat pengetahuan peralatan masak yang lebih modern. Interaksi-interaksi sosial ini tidak dapat dipandang remeh, karena hal ini menunjukan betapa penting peran para pembantu dalam memperkenalkan budaya lokal.

Walaupun dalam pertukaran budaya ini posisi mereka tidak sederajat, namun setidaknya ada budaya Eropa yang mereka dapat dan begitu juga sebaliknya, ada budaya lokal yang bisa mereka ajarkan kepada tuan mereka dari Eropa.

Streotip pembantu di Hindia Belanda

Banyak di antara pembantu rumah tangga yang mendapat pandangan buruk, baik dari keluarga orang-orang Eropa, Timur Asing, atau dari kalangan priyayi baru. Ada pembantu yang dituduh melakukan pencurian, sehingga dipanggilkan polisi untuk mengusut kasusnya. Sementara ada beberapa pembantu yang merasa tidak mencuri dan memilih melarikan diri atau bahkan bunuh diri untuk menjaga kehormatannya.

Muncul juga stereotip bagi pembantu perempuan yang ahli dalam menggoda pria-pria Eropa yang pada kenyataanya di awal perekrutan para pembantu ini akan terjadi pula praktik pergundikan. Aktivitas pekerja rumah tangga sebagai pembantu di kediaman orang-orang Eropa sekaligus pelayan dalam hal kebutuhan biologis majikan.

Pada masa itu perempuan bumiputra tetap dianggap paling rendah kedudukannya, dicap sebagai penggoda laki-laki, sebagai tontonan, dan sebagai penjaga semangat para pria. Walaupun telah bersanding dengan laki-laki Eropa, tetap saja status Nyai ini tidak bisa disetarakan begitu saja, melainkan masih berada di kedudukan paling bawah.

Praktik nyai dan pergundikan di Hindia Belanda memungkinkan terjadinya mobilitas vertikal bagi para wanita bumiputra. Kendati mereka telah menjadi istri seorang laki-laki Eropa, tapi tidak mengubah penampilan bahkan kedudukannya di mata orang lain.

Tahun 1930, Harga Tiket Pesawat Domestik Belasan Juta Rupiah

"Perempuan yang dipilih menjadi nyai menghabiskan hari kerja yang sama panjang dengan mengurus rumah tangga, mengawasi kerja para pembantu rumah tangga, dan melayani hasrat dan nafsu majikan mereka," tulis Frances Gouda dalam Dutch Cultures Overseas: Praktik kolonial di Hindia Belanda 1900-1942, terbitan 2007.

Para majikan juga akan berpikir ulang untuk mengajak babu dan jongos saat berpergian. Mereka, para majikan Eropa memikirkan pandangan orang, yang sekiranya dari kalangan atas tak pantas membawa serta pembantu di acara pesta-pesta misalnya.

Di satu sisi, pembantu rumah tangga digambarkan sebagai manusai kotor, pemalas, terlalu memanjakan anak-anak Eropa, dan tidak bisa diandalkan. Di sisi lain, mereka dipuji karena sikap santun, keterampilan, dan kepatuhan. Oleh sebab itu, mereka dikenal lebih mudah bergaul dibandingkan pelayan Eropa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini