Omed-Omedan, Festival Peluk-Cium untuk Ikat Tali Persaudaran di Bali

Omed-Omedan, Festival Peluk-Cium untuk Ikat Tali Persaudaran di Bali
info gambar utama

Bali merupakan salah satu kawasan yang kaya akan tradisi dan budaya. Salah satu yang unik, adalah tradisi Omed-omedan, atau yang kerap disebut sebagai festival ciuman massal. Tradisi ini selalu diadakan setiap tahun oleh pemuda-pemudi di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar Selatan, Bali.

Omed-omedan dalam bahasa Indonesia berarti tarik menarik. Acara ini biasa diadakan setelah Hari Raya Nyepi, yakni pada hari ngembak geni untuk menyambut Tahun Baru Saka. Perayaan ini berupa festival, dan biasa diikuti oleh pemuda-pemudi yang berumur 17-30 tahun yang tentunya belum menikah. Walau sering disebut sebagai festival ciuman massal, omed-omedan sebenarnya punya makna mendalam.

Dalam upacara omed-omedan, ada banyak hal yang harus dipersiapkan. Mulai dari panitia hingga memilih muda-mudi yang akan dipasangkan. Setelah acara sudah siap, upacara diawali terlebih dahulu dengan berdoa di Pura Banjar yang dipimpin oleh Jero Mangku. Hal ini bertujuan memohon izin kepada Tuhan agar pelaksanaan omed-omedan berjalan dengan lancar tanpa hambatan.

"Sebelum acara dimulai memang dilakukan ritual. Peserta melakukan persembahyangan bersama di pura, dipercikkan air suci, dan memohon keselamatan agar pelaksanaan acara nantinya berjalan dengan baik," kata I Gusti Ngurah Eka Putra, Tokoh Adat Banjar Kaja Sesetan, seperti dilansir dari Kompas (22/3/2015).

Tumpek Wariga, Ungkapan Syukur Masyarakat Bali Atas Kesuburan Tanaman


Kemudian, muda-mudi ini digiring menuju lokasi omed-omedan yang sebelumnya sudah dibasahi air yang dilanjutkan dengan tari-tarian. Muda-mudi yang dipisah dalam kelompok laki-laki dan perempuan ini tidak serta merta langsung bertemu sekaligus. Ada cara unik yang harus ditempuh, yakni kedua pasangan harus dibopong untuk bertemu satu dengan yang lain.

Setiap kelompok ditentukan jumlah anggotanya, untuk kelompok laki-laki berjumlah 40 orang sedangkan perempuan berjumlah 60 orang. Perbedaan ini dimaksudkan agar kekuatan kedua kelompok menjadi seimbang. Di dalam permainan pada tradisi ini, ada kepala kelompok yaitu seseorang yang ditempatkan paling depan.

Dalam perjalanan, guyuran serta semprotan air tak berhenti mengucuri mereka. Ketika bertemu di tengah, si pria akan berusaha mencium atau memeluk si wanita. Tugas si wanita adalah menghindar. Namun, tugas mereka inipun tidaklah mudah karena orang-orang akan begerumul dan berusaha untuk memisahkan mereka.

Setelah selesai, pasangan akan dikembalikan ke kelompok masing-masing dan begitu juga untuk pasangan selanjutnya hingga semua peserta habis. Dalam tradisinya, tidak terdapat unsur berciuman dalam upacara omed-omedan, karena hal ini bukanlah keharusan, cukup berangkulan saja.

Namun pada praktiknya, kadang peserta terlalu berlebihan hingga sampai mencium lawan jenisnya. Sehingga banyak yang salah mengartikan acara ini sebagai ciuman massal. Kalau dimaknai secara ritual, adat ini bermaksud untuk keakraban saja, menjaga kerukunan warga, dan saling kasih sayang.

"Banyak yang bilang ciuman massal. Ya memang kadang ada oknum pemudanya terlalu bersemangat sehingga pemudinya banyak yang malu. Sebenarnya berangkulan, tapi ada saja yang jahil sampai dicium," tambahnya.

Sesuai kesepakatan panitia dengan peserta upacara, omed-omedan akan berakhir jika peserta sudah mulai kelihatan letih, dan hari sudah menjelang sore, maka di sanalah petugas akan menghentikan upacara tersebut. Biasanya acara ini akan dimulai pada pukul 14.00 WITA kemudian berakhir pada jam 17.00 WITA.

Tradisi omed-omedan memang punya makna mendalam, yaitu untuk menjalin silaturahmi. Dengan melakukan tradisi ini, diharapkan hubungan antara anak muda di Banjar Kala, dapat semakin erat. Tradisi juga memiliki hubungan yang erat dengan rangkaian Hari Raya Nyepi karena sebagai ajang masima karma atau meningkatkan rasa persaudaraan.

Tradisi turun-temurun yang wajib dilakukan

Tradisi omed-omedan dipercaya mulai dilakukan sekira abad ke-17 yang berawal ketika raja dari Puri Oka Sesetan sedang sakit keras saat menjelang Hari Raya Nyepi. Kala itu tidak ada seorang pun tabib yang mampu menyembuhkan Sang Raja, dirinya kemudian beristirahat di kamarnya.

Sehari setelah Hari Raya Nyepi, masyarakat menggelar permainan omed-omedan, saking antusiasnya suasana di depan puri sangat gaduh. Dengan berjalan terhuyung-huyung raja keluar dan melihat warganya yang sedang rangkul-rangkulan.

Kemudian terjadi keanehan ketika melihat masyarakatnya mengadakan permainan itu, tiba-tiba raja tidak lagi merasakan sakit dan sehat seperti sedia kala. Beliau kemudian bersabda, mulai hari itu keramaian omed-omedan harus terus dilaksanakan setiap tahun sekali, yaitu sehari setelah Hari Raya Nyepi.

Namun, pemerintah Belanda yang waktu itu menjadi gerah dengan upacara tersebut, dan melarang ritual permainan itu. Warga akhirnya tidak menggelar omed-omedan, tetapi setelah permainan tidak lagi dilaksanakan tiba-tiba ada dua ekor babi besar di tempat permainan biasa digelar.

Mereka berkelahi sampai berdarah kemudian menghilang entah kemana. Raja dan warga minta petunjuk, dan ini dianggap sebagai pertanda buruk hingga akhirnya omed-omedan tersebut digelar kembali hingga saat ini.

Kisah Calon Arang dan Misteri Leak yang Dirahasiakan Masyarakat Bali

"Ada kepercayaan di wilayah kami, bagaimana pun kondisinya harus tetap digelar, kami tidak berani meniadakannya," ungkap I Made Sudama, dalam Liputan6 (12/3/2021).

Dahulu, tradisi omed-omedan hanya dianggap sebagai bagian dari wujud jalinan silaturahmi. Tapi lambat laun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Omed-omedan kemudian dikemas oleh masyarakat setempat menjadi festival tahunan bertajuk Cultural Heritage Festival, yang dimeriahkan dengan bazar dan pertunjukan.

Omed-omedan juga dipersembahkan untuk memperkaya hasanah budaya kota Denpasar dan mewujudkannya sebagai kota budaya. Dalam Perda No.8 tentang Pola Dasar Pembangunan Kota Denpasar tahun 2001-2005, diprogramkan bahwa tradisi omed-omedan dicantumkan sebagai adat dan budaya untuk mendukung atraksi wisata.

"Kami disini cukup bahagia bisa melaksanakan tradisi warisan budaya yang telah turun temurun kami wariskan di Banjar Kala. Kami sendiri total sekitar 350 orang, namun setengah dari kami ada yang bekerja diluar dan sekolah diluar," terang Kepala Lingkungan Banjar Kala, Made Sukaja, pada Berita Satu.

Tetap digelar walau ada pandemi

Pandemi Covid-19 yang belum melandai, berdampak pula terhadap proses pelaksanaan tradisi di masing-masing daerah. Tradisi omed-omedan yang biasanya diikuti puluhan pasang muda-mudi, kini diselenggarakan terbatas dan tertutup untuk umum.

"Berhubung pandemi Covid-19 belum berakhir, untuk tahun 2021, Sesetan Heritage Omed-omedan Festival (SHOOF) ditiadakan. Akan tetapi untuk tradisi omed-omedan tetap diaksanakan, itupun sangat singkat karena kami lebih mengutamakan prosesi ritualnya seperti tahun sebelumnya dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan yang sangat ketat," kata I made Sudama, di Denpasar, Kamis (11/3/2021).

Tradisi tersebut, menurut Sudama, akan diselenggarakan secara sederhana. Dalam prosesi omed-omedan hanya diikuti oleh tiga pasang yang ditunjuk mengikuti proses omed-omedan tersebut.

"Prosesinya hanya diikuti tiga pasangan, yakni 3 orang laki-laki dan 3 perempuan yang ditunjuk mengikuti prosesi," ujar dia.

Ia menyebut, selain tiga orang pasangan tadi, beberapa pihak juga dilibatkan di antaranya prajuru (pengurus) banjar, Kepala lingkungan, Jero mangku, anak sekaa truna (karang taruna) yang sudah dipilih, para penabuh yang terbatas, serta tenaga medis. Selain itu acaranya tidak lagi digelar di Jalan Raya Sesetan, melainkan di dalam banjar tepatnya di depan merajan banjar.

Ia menyatakan dengan kondisi saat ini tidak ingin ada klaster baru--Covid-19--karena memaksakan menggelar festival. Walaupun tradisi omed-omedan secara sederhana, tetapi tidak mengurangi makna dari acara itu.

Selain itu, protokol kesehatan yang ketat juga akan diterapkan termasuk penjagaan ketat di luar kawasan tersebut. Sehingga tidak ada masyarakat yang memaksa masuk karena ingin menyaksikan omed-omedan. Pada acara kali ini, juga tidak ada publikasi dari wartawan dan masyarakat.

Ngerebeg Mekotek, Tradisi Tolak Bala ala Desa Adat di Bali

"Kami selain gelar sederhana juga tertutup. Termasuk tidak dipublikasikan oleh media massa. Kami juga batasi peserta yang ikut dalam omed-omedan agar tidak menghidupkan HP saat prosesi berlangsung," tandasnya.

Seperti diketahui, bila tidak terjadi pandemi, kegiatan omed-omedan ini selalu menjadi perhatian warga. Penonton selalu membeludak ketika kegiatan omed-omedan dilakukan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini