Mengenal Jatiwangi Art Factory, Pusat Seni dan Budaya di Majalengka

Mengenal Jatiwangi Art Factory, Pusat Seni dan Budaya di Majalengka
info gambar utama

Tak banyak orang yang mengenal Kabupaten Majalengka. Bahkan, mungkin dari semua kabupaten dan kota yang ada di Jawa Barat, Kabupaten Majalengka adalah Kabupaten yang tak banyak dikenal oleh banyak orang.

Tak mengapa jika belum banyak dikenal oleh banyak kalangan. Namun, tahukah Kawan bahwa salah satu kecamatan di kabupaten ini sudah sejak dulu dikenal sebagai tempat penghasil genting dan bata dari tanah liat terbesar di Indonesia? Ya, ialah Kecamatan Jatiwangi yang merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Majalengka.

Puluhan tahun masyarakat Jatiwangi menggantungkan hidupnya dari ratusan pabrik genting yang telah ada. Namun, yang menarik adalah meski masyarakatnya sudah lama dikenal sebagai penghasil genting, selalu ada yang kemudian berkreasi mengembangkan produk berbahan dasar tanah liat ini tak hanya dari sisi ekonomi.

Pembuatan Bata oleh Perajin | Foto: jaf.art.blog
info gambar
Mengenal Tradisi Pindah, Menghilangkan Kesedihan Cara Suku Anak Dalam

Yakni Arief Yudi Rahman, seorang seniman yang lahir dan tumbuh di Jatiwangi. Ia menggagas sebuah komunitas seni dan budaya dengan nama Jatiwangi Art Factory atau disingkat JaF pada september 2005.

Hasil tulisan dari Bunga Manggiasih dari Koalisi seni menuturkan, para inisiator menjadikan JaF sebagai organisasi sosial berupa ruang kreatif seni budaya yang memberdayakan kehidupan pedesaan dan menyelesaikan konflik masyarakat. Bekas pabrik genting milik keluarga Arief direnovasi menjadi ruang seni berjudul Jebor Hall sebagai pusat kegiatan JaF.

Ragam Kegiatan JaF

Kegiatan Jaf tak hanya berpusat pada kreasi pembuatan produk dari tanah liat. Ada juga berbagai pertunjukan seni dan budaya yang memang menjadi tujuan dibentuknya JaF ini. Berikut ragam kegiatan yang rutin diadakan oleh JaF.

1. Festival

Festival Rampak Genteng
info gambar

Serangkaian festival yang melibatkan seniman dan warga menjadi awal mula kegiatan JaF ini dibangun. Dalam tiga festival berbeda, seniman nusantara dan mancanegara bermukim di salah satu rumah warga di 16 desa di Jatiwangi.

Festival Residensi Jatiwangi dilaksanakan setiap tahun dengan fokus pada seni kontemporer. Awalnya bernama Jatiwangi International Performing Arts-in-Residence Festival yang pertama kali diadakan pada 2006 lalu.

Kemudian, ada Festival Video Desa yang diadakan tiap dua tahun. Residensi dilakukan selama dua pekan, saat pembuat video berkolaborasi dengan penduduk dan aparat desa. Dalam prosesnya, penduduk dilatih memetakan masalah dan kejadian sehari-hari.

Karya Teater Besutan Seniman Indonesia Ramaikan Ajang Holland Festival 2021

Video yang mendokumentasikan kehidupan desa lantas diputar pada akhir festival. Tak kalah menarik, ada pula Festival Musik Keramik yang diadakan setiap tiga tahun. Festival ini biasanya dibuka dengan Festival Rampak Genteng yang bertajuk Gerakan Masyarakat Tanah Berbunyi.

Peserta Rampak Genteng melibatkan warga sebagai perampak genteng, peniup suling tanah, penabuh tambur, penari, dan juga paduan suara yang bersatu dalam harmoni. Seperti namanya, perhelatan ini berfokus pada musik yang terbuat dari keramik, olahan tanah liat.

Pertama kali festival ini diadakan pada tahun 2012, terdapat lebih dari 1.500 penabuh genting yang menghasilkan irama rancak. Lanjut pada tahun 2018, pesertanya mencapai 11.500 orang.

2. Forum

Di sela-sela festival, JaF melaksanakan beragam kegiatan. Forum 27-an misalnya. Serial diskusi bulanan yang diadakan setiap tanggal 27. Selain penanda tanggal, nama acara ini mengandung arti lain, yakni forum untuk mencapai dua tujuan.

Pertama, menyelesaikan masalah dan kedua menyasar ke dalam diri sebagai bentuk introspeksi. Dalam forum, semua warga Jatiwangi bisa datang untuk mengutarakan pikiran, ide, dan pendekatan dalam berbagai bidang. Yang menarik adalah bahasannya yang tak hanya fokus pada seni, tetapi juga ekonomi, pendidikan, hingga politik.

3. Pasar Bulanan

Untuk anak muda, ada Apamart, sebuah ajang berupa pasar bulanan. Acara ini diadakan dengan maksud agar anak muda mengembangkan pengetahuan dagang dan menyebarkan jaringan pertemanan secara langsung.

Uniknya, alat pembayaran Apamart berupa uang koin dari tanah. Selain gerai pedagang, Apamart juga diisi pentas musik dan lokakarya untuk remaja. Buntuk kalangan anak-anak, JaF rutin mengunjungi sekolah-sekolah di Jatiwangi untuk menggelar lokakarya pembuatan keramik.

4. Media edukasi dan informasi

tak hanya rangkaian festival dan forum, JaF juga terus memberikan edukasi dan informasi melalui media audiovisual. Ada televisi komunitas bertajuk JaF TV, yang menayangkan informasi relevan untuk warga Jatiwangi.

Acara disiarkan selama sekitar enam jam setiap hari. Terdiri atas program berita, hiburan, pendidikan, dan acara anak-anak. Ada pula JaF Radio, yang jangkauan pancaran sinyalnya mencapai radius 50 kilometer.

Menjelajahi Ragam Destinasi Wisata Unggulan di Kota Angin Majalengka

Dengan pengantar bahasa Sunda dan bahasa ibu penduduk Jatiwangi, radio ini mengeksplorasi isu-isu lokal dan kerap mengadakan acara off-air untuk menjalin hubungan dengan pendengarnya.

5. Membangun museum

Pada September 2018 lalu, JaF meresmikan Museum Kebudayaan Tanah untuk melestarikan aset kebudayaan yang berkaitan dengan tanah.

“Museum ini tidak hanya untuk menyimpan kenang-kenangan masa lalu, tapi juga untuk membuat kenang-kenangan masa depan. Tidak hanya karya JaF yang bisa disimpan di museum ini, tapi juga karya tentang kebudayaan tanah lainnya,” ucap Direktur JaF, Ginggi M. Hasyim.

Menariknya, museum ini dibuka untuk umum secara gratis. Jika Kawan tertarik untuk ikut ragam kegiatannya baik festival maupun forum, selama pandemi kegiatannya diadakan secara daring dan luring.

Membaca geliat komunitas ini, warga Majalengka berharap keberdaan JaF tak hanya menjadi tempat untuk mengembangkan dan melestarikan seni, tetapi juga mengembangkan potensi ekonomi kreatif daerah.*

Referensi:bunga manggiasih | | Instagram dan FP Jatiwangi art Factory | Radar Cirebon

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini