Mengunjungi 3 Mercusuar Paling Bersejarah di Indonesia

Mengunjungi 3 Mercusuar Paling Bersejarah di Indonesia
info gambar utama

Mercusuar merupakan bangunan menara yang berfungsi untuk membantu navigasi kapal laut. Biasanya, di bagian atas mercusuar terdapat sumber cahaya, mulai dari lampu dan lensa. Zaman dahulu, bahkan sumber cahaya bisa berasal dari api.

Seiring dengan teknologi yang makin canggih, navigasi kapal laut kini telah dibantu oleh GPS. Maka dari itu, jumlah mercusuar di dunia semakin berkurang. Namun, mercusuar masih digunakan pada daerah-daerah yang berbahaya seperti daerah laut dangkal.

Di Indonesia, banyak mercusuar yang kini beralih fungsi jadi objek wisata. Memang bangunan menara ini begitu menarik minat wisatawan yang ingin tahu seperti apa bagian dalam dan puncak dari mercusuar, serta ingin merasakan sensasi melihat pemandangan sekitar dari ketinggian.

Berikut tiga mercusuar paling bersejarah di Indonesia dengan pemandangan menakjubkan.

Mercusuar Willem's Toren III

Mercusuar Willem's Toren III | @Hendra Murdani Shutterstock
info gambar

Mercusuar Willem's Toren III merupakan salah satu situs peninggalan Belanda di Kampung Meulingge, Pulau Aceh Kabupaten Aceh Besar. Nama mercusuar ini merujuk pada nama raja yang menguasai Luksemburg tahun 1817-1890, yaitu Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk.

Saat itu, Willem memang tengah membangun ekonomi dan infrastruktur di wilayah Hindia Belanda, termasuk Aceh. Mercusuar Willem's Toren III berfungsi untuk mengatur navigasi lalu lintas kapal di Samudra Hindia.

Dibangun sejak tahun 1875, kini Mercusuar Willem's Toren III telah berusia lebih dari satu abad dan menjadi situs purbakala di Aceh. Penampilannya memang tampak sudah usang dimakan zaman, tetapi bangunannya tetap kokoh berdiri hingga kini.

Tinggi mercusuar berwarna merah-putih ini sekitar 85 meter meter dan untuk naik ke puncak, pengunjung harus melewati 174 anak tangga. Meski lelah, semuanya akan terbayar ketika Anda sudah sampai di atas. Sebab, dari sana akan tampak jelas hamparan Samudra Hindia dan rimbunnya hutan di sekitar menara.

3 Danau di Indonesia Ini Jadi Habitat Ubur-Ubur Tak Menyengat

Mercusuar Pulau Lengkuas

Mercusuar Pulau Lengkuas | @Jacksonfive2 Shutterstock
info gambar

Pulau Lengkuas di Kepulauan Belitung juga punya mercusuar bersejarah. Mercusuar Pulau Lengkuas dibangun tahun 1883 dengan ketinggian 57 meter dan lingkar 61 meter.

Letaknya ada di lepas titik utara Pelabuhan Belitung, menghadap Selat Karimata, yang menghubungkan Laut Tiongkok Selatan dengan Laut Jawa di antara Sumatra dan Kalimantan.

Mercusuar tersebut dirancang oleh Enthoven and Co. dari Den Haag. Di sana, pengunjung bisa melihat sistem penerangan sebuah mercusuar untuk memandu kapal yang lewat.

Untuk sampai di atas, pengunjung bisa melewati 17 lantai dengan ratusan anak tangga. Selain itu, jumlah pengunjung yang bisa naik mercusuar ini pun dibatasi hanya enam orang.

Dari atas, bisa terlihat panoarama laut Belitung, Pulau Lengkuas, Pulau Garuda, Pulau Perkasa, dan pulau-pulau kecil di sekitar.

Menikmati Kudapan Jadul di Situs Ngawonggo, Nuansa Budaya di Zaman Kerajaan

Mercusuar Cikoneng

Mercusuar Cikoneng | @Riezaldi Shutterstock
info gambar

Mercusuar Cikoneng berada di Kampung Bojong, Desa Cikoneng, Anyer, Banten. Tingginya mencapai 75,5 meter dan terdiri dari 18 lantai. Konon, mercusuar ini jadi titik nol yang jadi awal pembangunan jalan Anyer-Panarukan.

Pada puncaknya, terdapat lampu yang berfungsi sebagai penunjuk kapal-kapal yang melintas di perairan Laut Banten bagian utara.

Sebenarnya mercusuar yang ada saat ini adalah menara baru yang dibangun ZM Williem III pada tahun 1885. Sebab, mercusuar yang lama telah hancur akibat letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883. Walau hanya tersisa pondasi, menara ini kembali dibangun dengan dinding baja setebal 2,5-3 meter.

Dengan menaiki 286 anak tangga, pengunjung bisa sampai di puncak menara. Semakin ke atas, ruangannya pun semakin menyempit dan bukan sesuatu yang mudah dilakukan.

Setelah sampai ke puncak, pengunjung bisa menyaksikan pemandangan lautan lepas, jalan raya sekitar menara, dan area perbuktitan yang hijau. Paling pas mengunjungi mercusuar ini pada sore hari karena bisa berkesempatan menikmati senja hingga matahari terbenam.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini