Menikmati Kudapan Jadul di Situs Ngawonggo, Nuansa Budaya di Zaman Kerajaan

Menikmati Kudapan Jadul di Situs Ngawonggo, Nuansa Budaya di Zaman Kerajaan
info gambar utama

Dunia wisata kini mulai kembali menemukan denyutnya setelah dihantam badai pandemi selama kurun waktu lebih dari setahun terakhir. Mengunjungi wisata domestik lebih menjadi prioritas dibandingkan melancong ke luar negeri. Hal ini menjadi peluang bagi destinasi wisata lokal untuk bangkit perlahan.

Seperti yang Kawan GNFI ketahui, destinasi wisata lokal memiliki sisi unik tersendiri sehingga tak kalah dibanding wisata modern. Daya tarik dari wisata lokal biasanya terletak pada nilai-nilai budaya setempat, yang turut diusung ke dalam konsep wisata. Bak menyelam sambil minum air, keberadaan wisata lokal dapat membantu ekonomi masyarakat dan secara bersamaan turut mendukung pelestarian budaya, serta kearifan lokal setempat.

Beberapa destinasi wisata lokal kian marak bermunculan saat ini. Seperti yang hangat dibicarakan apabila berkunjung ke Kabupaten Malang Jawa Timur. Kawan GNFI dapat mengunjungi destinasi pentirtaan kuno yang dikenal dengan nama Situs Ngawonggo. Lokasinya berada di Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang.

Situs Ngawonggo adalah kompleks petilasan berupa sumber air (kolam) yang dikelilingi rumpun bambu rindang. Tak jauh dari kompleks petirtaan, terdapat aliran sungai yang dikenal dengan nama Kali Manten.

Situs Kapal Zabag, Diduga Galangan Kapal Tertua di Asia Tenggara

Di kompleks situs juga terdapat pahatan arca dan tulisan aksara Jawa, serta Yoni atau lumbung yang terbuat dari batu andesit. Temuan artefak kuno ini disinyalir menjadi bukti adanya pemukiman lampau di tempat tersebut.

Situs Ngawonggo diperkirakan sudah ada pada abad ke-10 masehi di zaman Kerajaan Medang yang dipimpin Mpu Sindok. Selain yoni dan arca, beberapa artefak purbakala lain juga ditemukan di sekitar kompleks pentirtaan.

Melihat hasil temuan yang ada, konon situs pentirtaan ini bukan hanya dijadikan sebagai tempat pemandian dan pemasok air biasa, tetapi juga dipercaya sebagai tempat suci. Setelah ditemukan pada tahun 2017, situs ini perlahan mulai dikelola masyarakat sekitar.

Keberadaanya pun menarik antusiasme warga. Jumlah warga yang datang kian bertambah setelah tempat ini dikonsep menjadi destinasi wisata yang mengusung tema tradisional.

Bernuansa asri pedesaan

Situs Pentirtaan Ngawonggo | Foto: Times Indonesia
info gambar

Masyarakat yang datang ke Situs Ngawonggo akan disuguhkan nuansa asri, sejuk nan rimbun khas pedesaan di era zaman kerajaan atau popular diistilahkan desa jadul. Atmostfer pedesaan akan sangat terasa saat Kawan GNFI tiba di tempat ini.

Gubuk-gubuk desa lengkap dengan perabotan ornamen kayu dan sepeda onthel ditata di bawah rimbunnya pohon bambu. Gemericik air yang dingin dan segar menambah kesan nyaman, dijamin sensasinya akan membuat betah berlama-lama ditempat ini.

20 Situs di Yogyakarta Ditetapkan jadi Warisan Geologi

Selain itu, pengelola wisata masih mengenakan kain lurik berpadu jarik lilit untuk menjamu wisatawan. Dengan keramahannya, mereka akan senang untuk menjelaskan sejarah singkat petilasan kuno Ngawonggo.

Berjalan masuk tepat setelah gapura, kawan GNFI akan melihat dapur kuno (pawon) yang menjadi tempat untuk menyajikan kudapan khas Ngawonggo. Inilah yang menjadi salah satu sisi uniknya.

Dijamu di tomboan

Tomboan | Foto: Sekilasmalang.com
info gambar

Saat berkunjung, Kawan GNFI akan di jamu di tomboan, istilah tempat seperti kedai. Uniknya, Kawan GNFI dijamu layaknya tamu yang sowan atau berkunjung ke sebuah rumah.

Aneka suguhan kue, makanan, dan minuman jadul dapat dipilih dengan hanya membayar seikhlasnya. Ya, pengunjung justru dilarang bertanya harga dan dibebaskan mencicipi aneka makanan dengan syarat mengantre dengan sabar dan tertib.

Aneka kudapan tradisional yang sudah sulit ditemukan menjadi menu andalan di sini. Ada kue jemblem, horog-horog, tiwul, ongol-ongol, dan lemet. Kawan bisa menikmati sego jagung, urap-urap, bungkoo, bothok, sayur lodeh, dan tahu tempe ditutup dengan segarnya minum dari air kendi atau pun menghirup hangatnya wedhang tomboan yang diracik dari ramuan rempah tradisional.

Mari Tanamkan Budaya 5S si Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun

Selain dari segi tempat dan kudapan yang bernuansa tradisional, terdapat nilai-nilai budaya unik yang diterapkan di Situs Ngawonggo. Di antaranya harus berpakaian dan berperilaku tutur kata sopan santun, menjaga kebersihan situs, mengantre dengan tenang dan sabar, mengambil makan dan minum secukupnya untuk dihabiskan, serta tidak boleh membawa makanan kemasan dan berunsur hewani.

Melalui peraturan yang terapkan, wisatawan coba diperkenalkan dengan nilai-nilai kehidupan yang dijaga oleh masyarakat sekitar, seperti perilaku sabar, tidak berlebih-lebihan, menjaga lingkungan dan mengonsumsi makan sehat polo pendhem (hasil pangan dari alam). Apabila diresapi lebih dalam, aturan tersebut mengandung filosofi baik yang secara turun temurun diwariskan oleh leluhur terdahulu.

Sangat patut direkomendasikan untuk Kawan GNFI yang ingin menghabiskan akhir pekan dengan suasana alam terbuka yang asri. Selain turut memajukan wisata lokal, Kawan juga dapat belajar sejarah sembari mengenal kearifan lokal dan kekayaan budaya yang ada di dalamnya.

Refrensi: Kompas | IDN Times*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AD
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini