Fakta Menarik Petirtaan Air Jolotundo, Punya Cerita Romantis Hingga Mitos Awet Muda

Fakta Menarik Petirtaan Air Jolotundo, Punya Cerita Romantis Hingga Mitos Awet Muda
info gambar utama

Mojokerto merupakan daerah yang kaya akan situs-situs bersejarah. Hal itu disebabkan banyak ditemukannya napak tilas peradaban zaman dahulu, khususnya masa kerajaan Majapahit. Konon, Mojokerto merupakan titik pusat atau ibu kota dari Majapahit.

Peninggalan-peninggalan yang tersisa sampai detik ini, dimanfaatkan sebagai objek daya tarik wisata berbasis edukasi sejarah oleh pemerintah Kabupaten Mojokerto. Satu di antara peninggalannya adalah Petirtaan Air Jolotundo.

Petirtaan Air Jolotundo berada di Desa Seloliman, Kawasan Wisata Trawas. Tempat ini sangat sejuk karena berada di sebelah barat Gunung Penanggungan dengan ketinggian sekitar 525 mdpl. Dengan begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa keindahan alam di sekitar obyek sangat memanjakan mata bagi wisataan yang berkunjung.

Penamaan petirtaan air, yaitu Jolotundo bukanlah sembarang penamaan. Penamaan tersebut mengandung sebuah arti. Jolotundo berasal dari kata “Jala” dan “Tundo”.

20 Situs di Yogyakarta Ditetapkan Menjadi Warisan Geologi

Jala bermakana air dan Tundo yang bermakna tingkatan. Tingkatan di sini maksudnya adalah tunda atau yang bertingkat. Ketika dua kata tersebut digabungkan maknanya menjadi kolam air yang disusun secara bertingkat.

Pertirtaan air ini mempunyai struktur bangunan yang unik. Pada bagian utama bangunan terdapat suatu kolam yang berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 16 x 13 meter, dengan kedalaman 5,2 meter. Bangunan ini menggunakan struktur bebatuan andesit.

Dahulu, terdapat empat tingkatan pada bangunan tersebut. Namun, sekarang yang bisa dinikmati hanya sisa dua tingkatan saja. Terdapat juga patung Dewa Wisnu mengendarai burung garuda, tetapi saat ini sudah dipindahkan.

Petirtaan ini juga memiliki dua bilik. Bilik pertama terletak di sebelah kiri, diperuntukkan bagi perempuan. Pancuran dari bilik ini berasal dari Arca Naga.

Arca tersebut melambangkan feminitas yang menjadi corak kepribadian sosok perempuan. Kemudian, pada bilik kanan diperuntukkan bagi laki-laki. Pancuran dari bilik ini berasal dari arca garuda, melambangkan sosok pria yang maskulin.

Mengandung cerita romantis

struktur bangunan pertirtaan Jolotundo
info gambar

Pada area tengah bangunan terdapat sebuah teras yang di sisinya terukir relief kisah mahabarata. Konon, kisah tersebut berasal dari kisah Amertamanthana yang menceritakan proses mendapatkan air suci dengan perantara Gunung Mahameru ketika dililit ular Batara Wasuki. Pada bagian puncak, dibuat seperti pancuran. Hal ini melambangkan sang Mahameru.

Selain kisah Mahabarata, petirtaan ini juga mengandung cerita romantis dalam proses pembangunannya. Dikisahkan sebelum pertirtaan ini dibangun, Raja Udayana yang berkuasa di Bali dilengserkan oleh sang penghianat. Sehingga ia lari ke tanah Pulau Jawa.

Di sini, ia diterima kedatangannya oleh Raja Mataram dari Wangsa Isyana, yaitu Sri Makuta Wangsa Wardhana. Ternyata, Raja Udayana juga terpikat kecantikan dari anak Raja Mataram, yaitu Gunapriya Dhamapati. Kemudian, mereka berdua menikah.

Dalam menyambut kelahiran anaknya, yaitu Airlangga, petirtaan ini dibangun sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran sang putra dan rasa cinta kepada istrinya karena telah melahirkan keturuanannya.

Situs Kapal Zabag Diduga Galangan Kapal Tertua di Asia Tenggara

Bersumber dari air pegunungan, kualitas air di Jolotundo tidaklah main-main. Hal ini dapat dibuktikan dengan studi penelitian. Pertama, penelitian BP3 Trowulan pada tahun 1985. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas air di Jolotundo menduduki peringkat kelima di dunia.

Kemudian, penelitian Arkeolog Belanda. Enam tahun berikutnya, tepatnya tahun 1991, sekelompok arkeolog Belanda juga menaruh perhatian lebih kepada air Jolotundo. Hasil dari penelitian menunjukkan baha kualitas air di sumber air ini menduduki peringkat ketiga di dunia.

Terakhir, penelitian dari Ikatan Dokter Pusat Jakarta. Pada tahun berikutnya, yaitu tahun 1994, mereka mendapatkan hasil bahwa sumber mata air Jolotundo terbaik kedua setelah air zam-zam di Makkah, Arab Saudi.

Ketiga penelitian tersebut menunjukkan bahwa kualitas air Jolotundo memang sudah memenuhi syarat sebagai sumber mata air tanah berkualitas. Syarat tersebut adalah dari sisi kuantitas, kualitas, dan kontinuitas. Hal ini juga diperkuat ketika musim kemarau melanda, air dari sumber air Jolotundo tetap mengalir dengan baik.

Mitos dan kesakralan air Jolotundo

Upacara Adat Pertirtaan Air Jolotundo
info gambar

Tempat ini juga tidak luput dari cerita mitos yang berkembang di masyarakat. Beberapa mitos menyatakan bahwa air Jolotundo bisa membuat awet muda, menyembuhkan penyakit, membuang sial, dan tempat berdoa untuk memperoleh keberkahan rezeki.

Dilansir dari beberapa sumber, wisatawan yang ingin memanfaatkan air di Jolotundo dianjurkan untuk melakukan beberapa hal. Pertama adalah melakukan niat baik disertai memanjatkan doa kepada leluhur.

Langkah selanjutnya, memohon apa yang menjadi kehendak dan diwajibkan masih dalam hal positif. Terakhir, berendam atau mandi di kolam pertirtaan. Hal-hal semacam ini kerap dilakukan wisatawan terutama pada malam 1 Syuro, malam bulan purnama, dan malam Jumat Legi.

Misteri Senja Kuning, Ketika Anak Dilarang Keluar Rumah Saat Maghrib

Masyarakat desa di sekitar juga memanfaatkan sumber air ini untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga, masyarakat desa juga sering menggelar ritual sebagai wujud rasa syukur mereka. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Ruwat Sumber. Kegiatan ini dilakukan satu kali dalam setahun di bulan Syuro.

Sakralnya keramat ini juga mewajibkan pengunjung untuk tidak melakukan hal-hal yang bertentangan. Di antaranya harus menjaga sopan santun ketika berkunjung, tidak merusak atau bahkan melakukan vandalisme pada area situs, selalu menjaga kebersihan area pemandian, dan emahami peraturan, terutama penggunaan bilik untuk laki-laki maupun perempuan.

Larangan ini dilakukan untuk tetap menjaga situs agar tetap asri dan lestari. Hal ini juga sejalan dengan konsep pariwisata berkelanjutan, agar tetap bisa dinikmati saat ini maupun di masa yang akan datang sampai kapan pun.*

Referensi:Liputan6.com| Manusia Lembah

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini