Lingkunganku Masa Depan Anak dan Cucuku

Lingkunganku Masa Depan Anak dan Cucuku
info gambar utama

Setiap harinya, 160--165 ton sampah masuk ke tempat pembuangan sampah akhir di Kota Ambon. Dengan jumlah sampah yang tak sedikit ini, kota dengan julukan “Ambon Manise” telah menghadapi permasalahan lingkungan yang serius dan patut untuk disadari oleh seluruh lapisan masyarakat.

Kurangnya kesadaran masyarakat terkait dengan permasalahan lingkungan di Kota Ambon selaras dengan hasil survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statisik (BPS) tentang Perilaku Ketidakpedulian Lingkungan Hidup. Berdasarkan survei tersebut, indeks perilaku ketidakpeduliaan lingkungan hidup menempatkan Maluku pada peringkat ke-32 secara nasional dengan nilai 0,47 (indeks rata-rata Indonesia adalah 0,51).

Permasalahan dan ketidakpedulian masyarakat terhadap lingkungan di Kota Ambon telah meresahkan hati seorang wanita bernama Irene. Pada 2006, Irene Mindelwill Sohilait melihat begitu banyak tumpukkan sampah plastik di Waiheru, sebuah negeri di Kota Ambon. Melihat kondisi tersebut, Irene sangat menyayangkan sikap manusia yang tidak dapat menjaga alam guna keberlangsungan hidup bersama di bumi dan merasa ia harus mengambil sikap dalam menangani kondisi tersebut.

Sejak saat itu, Irene berinisiatif untuk melakukan sosialisasi secara mandiri kepada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya dengan tujuan untuk menyadarkan mereka akan bahaya sampah plastik. Seiring berjalannya waktu, Irene merasa bahwa kegiatan yang telah dilakukannya tidak dapat dilakukan seorang diri. Ia merasa bahwa permasalahan sampah membutuhkan keterlibatan banyak orang.

Setahun berlalu, pada 2007 silam, Irene mulai mengajak masyarakat untuk terjun langsung dalam mengentaskan permasalahan sampah. Namun, mengajak masyarakat untuk turut berkontribusi mengurus sampah bukanlah hal yang mudah. Banyak masyarakat yang menolak ajakan Irene. Menghadapi kenyataan tersebut, Irene tidak patah semangat dan terus melakukan aksinya dalam menjaga lingkungan bersama dengan beberapa teman dekatnya.

Pada 2011, Irene berinisiatif kembali untuk mengajak para pemuda di Ambon untuk terjun langsung mengurus permasalahan lingkungan ini. Saat itu, Irene membentuk Green Team dan melakukan aksi bersih pantai serta melakukan edukasi kepada para masyarakat di daerah pesisir untuk menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah mereka ke laut.

Tidak disangka, setelah kegiatan selesai dilaksanakan, banyak anak muda merasa “ketagihan” dengan aksi ini. Menanggapi respons positif tersebut, Irene membentuk suatu komunitas yang berfokus pada lingkungan, yakni Green Moluccas.

Satu tahun berselang, Irene bersama Green Moluccas menyelenggarakan Festival Hijau untuk pertama kalinya di Kota Ambon. Festival Hijau adalah suatu kegiatan bertema lingkungan di Ambon yang diselenggarakan sebagai salah satu bentuk untuk mengedukasi dan menyadarkan masyarakat terhadap kondisi lingkungan. Festival Hijau ini membuat Irene dan Green Moluccas berkesempatan untuk berjejaring dengan banyak orang dan pemerintah daerah setempat.

Membuat Berbagai Program Lingkungan

Salah Satu Kegiatan di Moluccas Green School | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Sebagai suatu bentuk keseriusan Irene dalam menjaga lingkungan, pada 2015, Irene mendirikan sebuah sekolah nonformal yang ditujukkan untuk anak-anak di sekitar areal tempat pembuangan sampah akhir di Kota Ambon. Sekolah ini ia beri nama Moluccas Green School.

Kurikulum pembelajaran di Moluccas Green School berfokus pada pendidikan lingkungan hidup dan kebencanaan alam. Sekolah nonformal ini dimulai dari dua orang relawan pengajar dan lima orang siswa. Kini, relawan pengajar di Moluccas Green School mencapai 30 orang dengan jumlah siswa mencapai 150 orang.

Tidak berhenti di situ, sejak 2018, Irene dan komunitasnya melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pembangunan bank sampah di Negeri Passo, Kota Ambon.

Irene menamainya Bank Sampah Ambon Hijau. Tujuan bank sampah ini dibangun oleh Irene adalah sebagai upaya untuk menyadarkan masyarakat akan lingkungan yang sehat, rapi, bersih, dan mengubah sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis.

Bank Sampah Ambon Hijau pada acara Amboina Farmers Market | Dokumentasi Pribadi
info gambar

Selanjutnya, pada 2020, Irene menginisiasi sebuah program bernama Kewang Cilik. Dalam bahasa setempat, kewang berarti penjaga lingkungan. Program ini bertujuan untuk melahirkan kader-kader yang siap untuk menjaga alam dan membantu menyuarakan isu-isu tentang lingkungan.

Program tersebut diikuti sebanyak 27 remaja yang berasal dari lima kecamatan di Kota Ambon. Irene berharap para kader tersebut dapat menjadi pionir lingkungan di masa yang akan datang dan siap membela lingkungannya demi keberlangsungan hidup bersama.

Kemudian pada 2021, Irene dan Green Moluccas membuat suatu program baru, yaitu Hutan Pangan. Program ini dibuat karena ketidaktahuan para remaja terhadap buah-buah dan sumber pangan lokal di Kota Ambon. Diharapkan, program ini dapat memberikan informasi kepada pemuda terkait dengan sumber pangan selain nasi, melestarikan buah-buah lokal, meningkatkan ekonomi masyarakat, dan melestarikan pangan lokal kepada penerus.

Mendapat Anugerah Penghargaan

Irene di Areal Penanaman Bakau | Foto: Dokumentasi Pribadi
info gambar

Sebagai wujud apresiasi atas kontribusinya pada lingkungan, wanita yang mendapatkan beasiswa program doktoral di University of Wisconsin-Madison, Amerika Serikat ini pernah diganjar berbagai anugerah penghargaan, seperti “Perempuan Penjaga Bumi” versi majalah Tempo (2020), Women Earth Alliance (2019), dan penghargaan Kanal Rupidara untuk Green Moluccas sebagai pemenang kategori “Organisasi yang Komitmen Terhadap Lingkungan” (2018).

Hingga tulisan ini terbit, Irene bersama dengan Green Moluccas masih terus berkontribusi secara aktif dan nyata dalam menjaga alam dengan melakukan pelbagai kegiatan. Mulai dari kampanye terkait isu lingkungan, melakukan aksi bersih pantai, menyelenggarakan acara bertema lingkungan berskala provinsi, melakukan sosialisasi kepada masyarakat/komunitas, melakukan penanaman bakau, hingga mendorong pemerintah untuk menetapkan peraturan daerah terkait lingkungan.

Irene mempunyai suatu mimpi tentang bagaimana ia dapat mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan serta layak huni bagi anak dan cucunya kelak. Kawan, belajar dari Irene, mari kita terus melestarikan dan menjaga lingkungan. Kalau bukan kita, siapa lagi?*

Referensi: wawancara dengan narasumber | bps.go.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini