Pelajaran dari Kemajuan Cepat Negeri Ginseng

Pelajaran dari Kemajuan Cepat Negeri Ginseng
info gambar utama

Dua negara raksasa di Asia yaitu Jepang dan Korea Selatan adalah negara yang sama-sama hancur pada perang dunia II. Jepang tahun 1945 menyerah kalah kepada Amerika Serikat dan sekutunya setelah dua kota pentingnya Nagasaki dan Hiroshima di jatuhi bom atom oleh Amerika Serikat.

Sementara Korea Selatan, yang sering dijuluki negeri ginseng, hancur dan menderita akibat terjadinya perang Korea tahun 1950 an ketika negeri ini diserbu oleh Korea Utara yang dibantu negara-negara komunis Uni Soviet dan China.

Korea Selatan kemudian dibantu Amerika Serikat dan pasukan PBB, karena jutaan orang warga negara kedua negara itu mati karena perang tersebut.

Tapi itu dulu. Sekarang kedua negara ini mengejutkan dunia karena bangkit dengan cepat dan menjadi salah satu negara kaya di dunia.

Reruntuhan Seoul pada Perang Korea | goodfreephotos.com
info gambar

Jepang dengan jumlah penduduknya yang mencapai 126,8 juta orang menjadi negara dengan ekonomi terkaya di dunia, nomor 3 setelah Amerikat Serikat dan China, melalui Produk Domestik Bruto (PDB) perkapita atau GDP/kapitanya pada 2019 yang mencapai 39.289 dolar AS, atau setara dengan Rp569 juta.

Korea Selatan dengan penduduk 51 juta orang yang menempati ranking ke-10 sebagai negara terkaya ekonominya didunia, namun dengan cepatnya hampir menyalip Jepang karena GDP/kapitanya sudah mencapai 31.362 dolar AS (setara Rp454 juta).

Kita bisa melihat kemajuan ekonomi kedua negara itu dengan melihat data makronya, misalnya GDP nya Jepang mencapai 5 trilliun dolar AS, Korea Selatan 1,6 triliun dolar AS. Ekspor barang dan jasa Jepang mencapai 18,4 persen dari GDP-nya, sedangkan Korea Selatan 44 persen dari GDP.

Bayangkan, begitu majunya Korea Selatan hampir 50 persen kegiatan perekonomiannya dari perdagangan luar negeri. Salah satu dampak dari kemajuan ekonominya, rata-rata harapan hidup warga Jepang 84,1, Korea Selatan 82,6.

The UN Conference on Trade and Development (UNCTAD) atau lembaga PBB untuk urusan Perdagangan dan Pembangunan, telah meng-upgrade status Korea Selatan dari negara berkembang menjadi negara maju, seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Inggris, Perancis, dll.

Sebuah negara disebut sebagai negara maju (Developed Country) salah satu barometernya bisa dilihat dari GDP, tingkat kemajuan industrinya, tingkat kemajuan standar hidup warganya, kemajuan infrastruktur teknologinya, yang semuaya itu menurut standar PBB sebagai cerminan “kondissi dasar perekonomian negara” atau "basic economic country condition”.

Untuk diketahui, Amerika Serikat sampai saat ini adalah negara maju terkaya di dunia dengan total GDP pada 2019 yang mencapai 21.433,23 miliar dolar AS, lalu menempati urutan kedua dengan GDP US 15.279, 94 dolar.

Lalu, faktor–faktor apa yang menyebabkan Korea Selatan menjadi salah satu negara kaya di bumi ini?

Beberapa faktor, antara lain bahwa negara ini mengadopsi strategi “Outward Looking” (Melihat Kedepan) pada awal-awal tahun 1960 an, strategi ini fokus pada upaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui ekspor produk-produk manufaktur yang berdasarkan pada pengembangan keunggulan daya saingnya (Competitive Advantage).

Boleh jadi, hal ini didorong pada kebijakan pemerintah untuk menggalakkan inovasi negara dan anak bangsanya.

Seoul kini | unsplash.com
info gambar

Korea Selatan disebut sebagai salah satu “negara paling inovatif” di dunia. Suatu pencapaian yang menakjubkan dari bermula sebagai negara pertanian, kemudian terlibat perang dan meloncat menjadi salah satu negara yang kreatif.

Menurut Bloomberg Innovation Index tahun 2020, Korea Selatan menduduki ranking ke-2 setelah Jerman. Berdasar data dari Global Innovation Index yang diterbitkan Universitas Cornell Amerika Serikay, INSEAD, dan the World Intellectual Property Organization, Korea Selatan menduduki rangking 11 dan Jerman 9 di antara 129 negara yang diranking.

Kemajuan itu dicapai karena gencarnya kebijakan memperkuat R&D nya (Penelitian dan Pengembangan), termasuk banyaknya jumlah peneliti dari Perguruan Tinggi dan sektor industri. Intensitas yang tinggi dibidang R&D ini menurut Tim Mazzarol dari the University of Western Australia di Perth, menjadikan negara ini sebagai negara utama didunia dibidang teknologi informasi dan teknologi sebagai dampak kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sektor industri, dan perguruan tinggi.

Pembangunan R&D yang massif itu dimulai dari rencana pembangunan ekonomi pada tahun 1962, yang kemudian dibentuknya Korea Institute of Science and Technology (KIST) pada tahun 1966, dan Kementrian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada tahun 1967.

Dampak dari keberhasilan ini, memunculkan kelompok industri atau pengusaha besar yang disebut Chaebol yang didorong pemerintah untuk mengembangkan R&D-nya dan diproteksi oleh pemerintah dari serangan kompetitor. Para Chaebol itu antara lain Samsung, Lotte, dan LG, yang berhasil menguasai pasar dunia dibidang petrokimia, otomotif, galangan kapal, dan perangkat elektronik.

Nampaknya Indonesia perlu mengaca pada kebijakan negara Korea Selatan ini, terutama pada strategi kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri. Potensi orang pintar di negeri kita ini banyak sekali, tinggal ada tidaknya Political Will dari negara.

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Penulis aktif menulis di Koran Jawa Pos, Surya, dan rutin menulis di GNFI. Beberapa tulisannya acapkali dimuat/dikutip Koran Malaysia dan Thailand. Penulis juga tersohor sebagai akademisi sekaligus professional di kota kelahirannya, Surabaya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

AH
AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini