Melihat Bingkai Toleransi dari Pemakaman Ngadas di Lereng Gunung Bromo

Melihat Bingkai Toleransi dari Pemakaman Ngadas di Lereng Gunung Bromo
info gambar utama

Usai salat Subuh, Ngatiman (55) tak langsung bekerja di ladang merawat tanaman kentang. Ia bergegas ke rumah tetangganya bertakziah, seorang umat Hindu meninggal. Ngatiman tak sendirian, ia bersama umat Islam yang membantu proses pemakaman. Mereka mulai menyiapkan perlengkapan untuk upacara pemakaman.

"Namanya kerukunan, saya terlibat pemakaman umat Hindu. Yang penting kebersamaan. Upacara pemakaman mengikuti keyakinan sendiri, saya tak terlibat," kata Ngatiman, yang dikabarkan Terakota.

Beranjak siang, seluruh warga desa setempat mengiringi jenazah ke permakaman desa. Suasana kebersamaan dan gotong royong sangat kental terasa. Sesampainya di area permakaman, Ngatiman ikut membantu menurunkan jenazah ke liang lahat, tikar gelar di atas pusara.

Sesaji berupa lingkung ayam goreng, kopi dan pisang diletakan tertata. Pemuka Hindu bersila, merapal mantra berdoa untuk jasad yang dimakamkan. Sekitar seribu orang mengiringi hingga permakaman. Ritual pemakaman usai digelar, Kamituwo atau pegawai pemerintah Desa setempat, Pergianto menyampaikan pesan keluarga mengundang para petakziah untuk makan di rumah.

"Kecuali yang berpuasa, kami mengundang semuanya untuk makan di rumah duka," katanya

Sesuai adat, Kata Ngatiman, keluarga yang meninggal menyediakan makanan bagi para petakziah. Namun bila bertepatan dengan bulan puasa demi menjaga toleransi hanya mengundang yang tak berpuasa.

"Alhamdulilah selama ini tak ada hambatan menjalankan ibadah. Salat, puasa, dan tarawih tetap lancar."

Selain itu, permakaman Ngadas adalah wujud lain dari sikap guyub rukun semua warga Ngadas saat dikebumikan. Setiap warga Hindu dan Buddha dikebumikan dengan nisan ke arah Gunung Semeru yang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya arwah. Warga Muslim dikebumikan berlawanan, menghadap kiblat sesuai syariat Islam.

Hal inilah yang akan terlihat saat ritual Nyadran atau berziarah ke makam leluhur Suku Tengger yang bermukim di lereng Gunung Bromo. Dalam ritual ini, ribuan suku Tengger, baik laki-laki atau perempuan akan melakukan arak-arakan menuju makam setempat dengan diiringi gamelan dan tarian reog ala suku Tengger.

Sambil membawa aneka sejaji, seperti bunga, serta kue, warga masuk ke area permakaman. Sesaji kue dan bunga menggambarkan sedekah anak cucu kepada leluhurnya. Sebelum ritual nyadran atau nyekar dimulai, dukun setempat terlebih dahulu memberi ceramah agama. Ceramah itu berisi peringatan bahwa warga Suku Tengger harus terus mengingat leluhur.

Warga suku Tengger yang mengikuti tradisi Nyadran pun dari beragam lintas agama. Mereka saling menghormati satu dengan yang lain, karena hanya satu adat yaitu adat Suku Tengger. Camat Sukapura, Yulius Christian, menyebut kebhinekaan sesungguhnya ada di lereng Gunung Bromo. Suku Tengger bisa hidup dengan bermacam agama, tapi rukun.

Yadnya Kasada, Simbol Pengabdian Warga Tengger pada Sang Hyang Widhi

"Di sini lereng Gunung Bromo ini, bersatu antara umat beragama, Hindu, Buddha dan Muslim. Ini menunjukan satu kebhinekaan bangsa Indonesia. Di sini hidup rukun, tidak saling membedakan. Kali ini digelar ritual nyadran atau nyekar ke makam para leluhurnya yang diikuti ribuan warga Suku Tengger," ucap Camat Yulius, melansir Detikcom.

Setelah semua makam sudah diberi aneka sesaji dan bunga, dukun setempat membacakan doa-doa mengunakan bahasa Suku Tengger. Nyadran atau memberi sedekah leluhur, merupakan peninggalan kerajaan Majapahit, tujuannya untuk menghormati arwah leluhur. Kegiatan ini merupakan puncak dari perayaan Hari Karo tradisi Suku Tengger.

Secuil kebhinekaan di Desa Ngadas

Kepala Desa Mujianto mengatakan secara legalitas suku Tengger di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, memeluk ragam agama seperti; Hindu, Buddha dan Islam sejak 1970-an, setelah pemerintah hanya mengakui lima agama. Sementara keyakinan masyarakat setempat sebagai agama lokal tak diakui.

Selama ini mereka tetap berdampingan, hidup rukun tak ada konflik agama. Mujianto mempraktikan hidup berdampingan dan rukun bersama dengan agama lain. Ia tinggal serumah bersama ibunya yang memeluk Buddha dan mertuanya beragama Hindu.

"Berurutan ibu melaksanakan Waisak, mertua beribadah galungan dengan menyiapkan sesaji. Sementara saya, anak dan istri tetap melaksanakan puasa," ujarnya.

Penduduk desa Ngadas memiliki tiga keyakinan agama yang dipeluk. Diantaranya pemeluk agama Buddha sebesar 50 persen, agama Islam 40 persen, dan agama Hindu 10 persen. Ada tiga masjid, satu pura, dan satu vihara di desa itu untuk menjalankan ibadah masing-masing. Di desa ini, masyarakatnya memegang teguh adat istiadat kehidupan lebih plural.

Joko Tri Haryanto, peneliti dari Balai Peneliti dan Pengembangan Agama wilayah Semarang, melalui jurnalnya, menjelaskan, walau di Ngadas terpolarisasi dalam banyak agama, namun masyarakatnya tetap taat dan tunduk pada adat Tengger. Pandangan masyarakat juga masih mempercayai kekuatan supranatural.

Hal tersebut, juga bisa dilihat dari spasial atau hunian pemukiman yang tidak ada pembagian khusus bedasarkan agama. Semua umat beragama membaur dan hidup berdampingan. Kondisi ini bisa terlihat dari praktik-praktik sosial, seperti tradisi sayan (undang), gantenan dan genten cecelukan (saling bergantian membantu, gantian mengundang makan), nyelawat (salawatan) apabila ada musibah kematian.

"Hal ini menandakan tidak ada persoalan dalam perbedaan agama, dan rasa kebersamaan sebagai warga Tengger sangat kuat mendukung terwujudnya kerukunan ini," tulisnya dalam artikel yang berjudul Kerarifan Lokal Pendukung Kerukunan Beragama Pada Komunitas Tengger Malang, Jatim.

Pakar Hukum Universitas Widyagama Malang yang juga peneliti budaya Suku Tengger, Purnawan D Negara, menuturkan bahwa awalnya Suku Tengger menganut Hindu Kuna atau Buddha Jawa Sanyata. Tapi, setelah negera hanya menetapkan lima agama, keyakinan agama Buddha Jawa Sanyata tak diakui.

Ritual Air Suci di Mata Air Wendit Oleh Warga Suku Tengger

Sehingga mereka memilih agama Buddha dan Hindu yang secara tata cara keagamaan menyerupai. Sementara Islam diyakini sudah masuk Desa Ngadas sejak lama yang saat itu dibuka oleh Eyang Sedek sekitar abad ke-18, sebagai perluasan pengaruh kerajaan Islam, Keraton Kasunanan Surakarta.

"Mbah Sedek itu Mohammad Sidiq," ujar Mujianto.

Berikutnya, permukiman berkembang setelah terjadi imigrasi masyarakat Tengger yang sebelumnya tinggal di desa lain sekitar Gunung Bromo. Hampir 99 persen warga Ngadas merupakan masyarakat Suku Tengger. Mbah Sedek, sambung Mujianto, mengajari sebuah mantra saat menyembelih ayam, yakni bacaan basmalah dan dua kalimat sahadat.

"Agar saat menyantap ayam yang disembelih sudah halal," katanya.

Mantra tersebut sampai sekarang digunakan masyarakat penganut Buddha Jawa Sanyata dan dukun saat menyembelih hewan ternak. Makam Mbah Sedek atau Eyang Sedek pun masih dikeramatkan dan diziarahi seluruh masyarakat Tengger di Ngadas.

Merawat kebhinekaan

Pura Sapto Argo dipenuhi umat Hindu, mereka duduk bersimpuh di dalam pura. Khusuk mereka beribadah Hari Raya Galungan. Termasuk anak-anak yang diajak untuk turut beribadah. Ritual persembahyangan dipimpin pemuka Hindu setempat.

Selemparan batu dari Pura, umat Buddha berkumpul di Vihara setempat. Mereka tengah menyiapkan sembahyang Reboan setiap Rabu. Sedangkan umat Islam tengah beribadah salat Zuhur di musala dan masjid setempat.

"Toleransi sudah mendarah daging, secara alami. Mengikuti pesan orang tua dan leluhur, secara turun temurun. Pesan orang tua lebih tinggi nilainya dibandingkan guru spritual," kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Ngadas, Timbul Oerip.

Pesan leluhur melekat, dijaga dan diamalkan sampai sekarang. Pada beberapa momen, warga Ngadas akan merayakan hari raya bersama, seperti umat Hindu merayakan Galungan, umat Buddha merayakan Waisak, dan umat Islam beribadah puasa Ramadan.

"Galungan, Waisak, dan puasa berurutan. Besok semua umat mengikuti upacara adat Unan-unan meminta keselamatan kepada Tuhan," kata Timbul.

Kebersamaa dan toleransi sudah terpatri dalam jiwa setiap umat beragama di Ngadas. Ketiga umat, bergotong royong membantu pembangunan masing-masing tempat ibadah. Vihara dibangun 1985, disusul Pura pada 1986, dan masjid dibangun 1987. Semua umat berbaur, bersama-sama membantu pembangunan sarana ibadah.

Belajar Toleransi dari Suku Tengger

Pemuka agama Buddha di Ngadas, Ponadi, menjelaskan kerukunan umat beragama tak terlepas dari peran Kepala Desa Mujianto yang sekaligus berperan sebagai Kepala Adat. Agama ditempatkan sebagai keyakinan induvidu, tapi seluruh masyarakat Suku Tengger terlibat dalam melestarikan adat budaya.

"Setiap agama punya tuntutan sendiri. Kenapa bertengkar? Kenapa gegeran?" kata Ponadi.

Malam itu usai umat Islam salat tarawih, seluruh tokoh adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat berkumpul di rumah Kepala Desa. Duduk meriung di depan sebuah meja berisi aneka makanan, buah dan kudapan. Mereka tengah menggelar upacara mepek, artinya melengkapi kebutuhan upacara Unan-unan.

Dukun muda Senetran memimpin doa, merapal mantra berbahasa Tengger. Usai mepek, bergantian mereka makan bersama dengan aneka makanan yang terhidang. Istri mereka memasak daging kerbau, termasuk menyiapkan aneka sesajian. Kerbau dikurbankan karena kepercayaan Suku Tengger, bahwa kerbau merupakan hewan yang pertama muncul di Bumi.

Malam itu, mereka bergotong royong menyiapkan upacara sakral ini. Mengesampingkan perbedaan agama. Adat menjadi pemersatu dan menjaga kerukunan antaragama. Semua antusias, termasuk umat Islam yang tengah berpuasa.

"Adat terjaga karena kekuatan masyarakat yang mencintai adat. Masih berpegang teguh adat istiadat. Tak peduli siapapun Kepala Desa dan dukunnya," pungkas Mujianto.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini