Melihat Perkembangan Kapal Pinisi dan Budaya Maritim di Nusantara

Melihat Perkembangan Kapal Pinisi dan Budaya Maritim di Nusantara
info gambar utama

“Nenek moyangku seorang pelaut, gemar mengarung luas samudra”.

Tentunya Kawan GNFI tidak akan asing lagi dengan penggalan lirik lagu anak–anak tersebut. Nenek moyang kita memang pelaut yang ulung. Mereka adalah penjelajah samudra menggunakan kapal-kapal berteknologi tinggi. Dari Selat Malaka, Semenanjung Arab, hingga Tanjung Harapan di Afrika sudah mereka lalui.

Bahkan, peta penjelajahan orang-orang Jawa kuno sudah mencantumkan daerah Brazil di Amerika Selatan. Kalau kita melihat catatan kuno Tiongkok yang ditulis sekitar 131 Masehi, orang-orang Jawa dulu lah yang pertama kali menjalin hubungan kedua bangsa tersebut.

Padahal, pada waktu itu, Tiongkok belum memiliki kebudayaan berlayar. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa kita jauh lebih unggul dalam teknologi kapal dibandingkan Tiongkok, yang notabene sudah sangat maju peradabannya pada kala itu.

Awal Sejarah Kemaritiman Indonesia

Potret Tim patroli KP Hiu 12, PSDKP Lampulo menangkap KIA | Foto: Dok. PSDK Lampulo (Kompas.com/Raja Umar)
info gambar

Sejarah kemaritiman Indonesia bisa kita telusuri dari awal perdagangan rempah-rempah di nusantara. Entah mulai kapan rempah ini populer, tetapi sejak awal sejarah, rempah-rempah yang hanya tumbuh di Kepulauan Maluku, Jawa, Sumatra dan pulau lainya menjadi komoditas yang sangat laris di pasaran.

Bukan hanya di pasaran nusantara, tetapi sangat dicari di seluruh dunia. Hal ini praktis membuat nusantara menjadi jalur perdagangan yang sangat ramai pada kalanya. Dari kegiatan perdagangan itu akhirnya mendorong orang-orang nusantara untuk menciptakan berbagai teknologi kapal.

Entah itu untuk keperluan kargo atau pun militer, guna menjaga laut dari para perompak. Bahkan, salah satu teknologi kapal nusantara, yaitu kapal jung telah tercatat oleh para Pelaut Portugis yang kala itu berhasil menguasai Pelabuhan Malaka.

Jung Jawa, Kapal Raksasa Legendari yang Serang Portugis di Malaka

Menurut orang–orang Portugis, kapal jung milik para Pelaut Jawa benar–benar mengerikan. Ukurannya yang terlampau besar, membuat kapal terbesar Portugis tidak terlihat seperti kapal sama sekali. Bahkan, kapal milik Pati Unus yang merupakan Panglima Demak mampu memuat lebih dari 10.000 prajurit.

Lalu, jika kita adalah keturunan para pelaut, kenapa sekarang kita sangat jauh dengan kebudayaan maritim? Kenapa banyak di antara kita yang sangat takut dengan lautan?

Bahkan, banyak sekali mitos yang menyeramkan tentang laut. Mulai dari Legenda Ratu Kidul, Nyi Rara Kidul, Nyi Blorong, dan lainya. Apakah sudah tidak tersisa lagi kebudayaan maritim dari nenek moyang kita?

Akan sangat merugi tentunya jika memang tidak ada yang tersisa. Namun, betapa beruntungnya kita masih banyak komunitas masyarakat yang memegang teguh warisan leluhurnya. Salah satunya adalah orang–orang Konjo dengan Kapal Pinisi yang melegenda, yang telah terdaftar di UNESCO sebagai Mahakarya Agung Warisan Budaya Tak Benda yang dimiliki Bangsa Indonesia.

Melihat kapal pinisi Indonesia

Potret kapal pinisi | Foto: trivago.com.au
info gambar

Kapal pinisi ini sangat unik, karena dalam proses pembuatannya dikerjakan secara tradisional, mengandalkan keahlian tangan para ahli kapal dari suku Konjo. Pengerjaannya dilakukan secara gotong royong dan dipimpin oleh seorang pawang kapal yang biasa disebut dengan Panrita Lopi.

Panrita Lopi memimpin jalanya pembuatan kapal dari penebangan bahan kayu pertama hingga kapal siap untuk berlayar. Teknik pembuatannya juga berbeda dengan pembuatannya kapal lain. Papan-papan kayu di kapal ini tidak disatukan menggunakan paku, tetapi menggunakan pasak kayu dari bahan kayu yang tersisa.

Pinisi sendiri sebenarnya bukanlah julukan pada sebuah kapal. Namun, merujuk pada sebuah sistem layar, tiang-tiang layar dan konfigurasi tali yang secara turun-temurun terekam dalam tradisi Suku Konjo. Sistem pinisi ini sering diterapkan di kapal dengan jenis lambung Lambo dan palari, kapal dengan jenis inilah yang biasanya disebut dengan kapal pinisi.

Dahulu, kapal pinisi digunakan orang–orang Bugis untuk mengarungi samudra yang luas. Tujuh samudra sudah ditaklukkan. Hal ini disimbolkan dengan tujuh layar yang dimiliki oleh kapal pinisi.

Kora-kora, Kapal Perang Kebanggaan Ternate yang Usir Portugis di Maluku

Kapal pinisi juga menjadi simbol akan ramainya jalur perdagangan di nusantara, khususnya di wilayah timur yang menjadi pusat dari komoditi rempah–rempah di dunia. Orang–orang Bugis menggunakan kapal pinisi sebagai kapal barang untuk mengangkut rempah–rempah, yang diperdagangkan di Pulau Jawa, Malaka, hingga ke seluruh penjuru dunia.

Saat ini, kapal pinisi digunakan sebagai alat transportasi nelayan di Bulukumba dan sekitarnya. Para nelayan menggunakannya untuk mencari ikan. Layar sudah tidak menjadi penggerak utama, tenaganya diganti dengan motor baling–baling.

Namun, tak jarang juga kapal pinisi banyak digunakan untuk pariwisata. Bagi wisatawan yang ingin mencoba menaiki kapal tradisional dan merasakan pengalaman tinggal di atas kapal, pinisi adalah pilihan yang terbaik. Bahkan, banyak selebriti yang menggunakan jasa pinisi ketika berlibur.

Pelestarian Pinisi

Perahu pinisi bulukumba | Foto: Celebes.co
info gambar

Kapal pinisi menjadi salah satu simbol kebudayaan maritim yang masih terjaga di Indonesia. Festival besar setiap tahun diadakan di Bulukumba sebagai upaya pelestarian. Memang upaya pelestarian harus selalu digalakkan untuk menjaga tradisi ini.

Tradisi kapal pinisi menyimpan pengetahuan lokal mengenai berbagai hal. Mulai dari pengetahuan pemilihan bahan kapal, teknik perencanaan, perakitan, hingga pelayaran.

Dalam upaya pelestarian kapal pinisi, sepertinya harus dilakukan pendekatan lain. Jika hanya mengandalkan festival, pengetahuan dari tradisi pembuatan kapal pinisi tidak akan berkembang dan sulit untuk di pelajari lebih lanjut.

Ini 5 Kapal Tradisional Khas Indonesia Bukti Nenek Moyang Seorang Pelaut

Sangat mungkin jika tradisi dari pembuatan kapal pinisi, diekstrak menjadi kurikulum yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Namun, tentunya juga harus diperhatikan secara teliti mengenai segala aspek pembuatannya dari awal hingga akhir.

Tradisi pembuatan kapal pinisi harus dilihat secara utuh, sebagai sebuah warisan leluhur yang harus diteruskan pengetahuannya. Dengan begitu, nilai–nilai yang terkandung di dalamnya tidak ada yang tereduksi.

Selain itu, pinisi juga bisa dikolaborasikan dengan keberadaan jalur pempah di nusantara. Pinisi bisa digunakan untuk pelayaran pariwisata menyusuri jalur rempah. Maka, terjalin keterkaitan sejarah antara kapal pinisi dan keberadaan jalur rempah di nusantara.*

Referensi:National Geographic | IDNTimes

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DA
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini