Filosofi Kopi Leworook, Kopi Nikmat Khas Flores Timur

Filosofi Kopi Leworook, Kopi Nikmat Khas Flores Timur
info gambar utama

Sebelum tahun 1970, seorang bernama Dominikus Kampung Leworook, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur sering melihat para pastor dan biarawan mengonsumsi minuman berwarna hitam. Namun, Dominikus tidak mengetahui bahwa minuman tersebut adalah kopi.

Akhirnya, setelah mengetahui bahwa ada kebun kopi berada di daerah Hokeng, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, beberapa warga Kampung Leworook berjalan kaki menuju Hokeng sejauh 30 kilometer. Tujuannya hanya satu, yaitu mengambil anakan kopi di kebun kopi Hokeng tersebut.

Dengan keberanian yang ada pada dirinya, Dominikus dan temannya mencabut beberapa tanaman kopi di daerah perkebunan Hokeng. Kemudian, anakan kopi yang dicabut tersebut dibawa ke Kampung Leworook untuk ditanam di sana. Hasilnya, sekitar tahun 1980, beberapa area kebun kopi di Kampung Leworook telah menghasilkan buah.

Ternyata, memperkenalkan kopi dari perkebunan Kampung Leworook kepada masyarakat dalam maupun luar Kabupaten Flores tidaklah mudah. Butuh perjuangan panjang karena saat itu kopi Leworook belum memiliki nama dan harga jual masih sangat murah.

Proses pembuatan kopi leworook

Biji Kopi yang Baru Dipanen
info gambar

Tahun 2012, anak Dominikus bernama Yoland mulai tertarik mengembangkan kopi tersebut. Pada tahun 2015, Yoland mulai menjalankan usaha kopi. Mereka membeli biji kopi jenis rebusta dari petani dan mengolah kopi Leworook secara tradisional, yaitu biji kopi digoreng di tembikar dengan alat yang berbahan kayu.

Dengan pengetahuan seadanya dan berkat belajar dari internet, Yoland menjalani usahanya dengan berbekal tungku, kayu bakar, tembikar dari tanah liat, lesung dan alu sebagai penggati mesin giling. Namun, karena alu dan lesung semakin sulit diperoleh, proses peghalusan pun lambat sehingga jika dalam jumlah banyak diputuskan untuk menggilingnya di pasar.

Deretan Kopi Jadul di Indonesia

Kopi digoreng secara tradisional sehingga memiliki cita rasa yang unik. Kayu yang digunakan pun harus memiliki kadar kambium tinggi. Semakin tinggi kambiumnya, mempengaruhi cita rasa kopi. Hasil kopinya pun memiliki aroma yang khas dan bagi pencinta kopi, terasa nikmat dan sedap.

Setelah digoreng, biji kopi ditumbuk di lesung. Lalu, diayak dan dimasukan ke dalam plastik transparan dan dititipkan di kios-kios di Kota Larantuka maupun dijual di pasar tradisional.

Kampung Leworook memiliki satu potensi alam yang perlu dikembangkan, yakni kopi Leworook. Kemudian, kopi Leworook mulai ditanam pada laham seluas satu hektare dengan jenis biji kopi yang ditanam, yaitu dominan jenis robusta.

Bukan tanpa sebab, ciri spesifik tanaman tersebut antara lain dapat tumbuh pada ketinggian 2.000 sampai 8.000 mdpl dengan curah hujan terbatas. Selain itu, jenis robusta memiliki kadar kafein lebih tinggi dan rasanya lebih pahit, tetapi rasa lebih dominan buah-buahan sehingga sangat disukai bagi penikmat kopi pada umumnya.

Perbaikan Ekonomi dan Relasi Gender dalam Sistem Agroferestri Kopi

Bibit kopi yang ditanam diambil dari bibit kopi pilihan yang sudah disiapkan di kebun petani di Kampung Leworook. Proses penanamannya dilakukan dengan mencabut tanaman kopi dari anakan di sekitar pohon induk, lalu dipindahkan ke areal yang hendak ditanam.

Setelah ditanam, tiga bulan kemudian digembur dan dibuat semacam pematang kecil di sekitar pohon kopi untuk mencegah erosi akibat hujan yang dapat mengakibatkan akar dan batang kopi kekurangan nutrisi. Kopi yang ditanam merupakan kopi organik sehingga tidak menggunakan pupuk pada tanaman tersebut.

Pemasaran kopi leworook

Biji kopi robusta yang merupakan jenis kopi Leworook
info gambar

Musim tanam kopi biasa dimulai pada Juli hingga akhir September, sedangkan memasuki Oktober merupakan panen raya. Saat ini, lahan seluas satu hektare itu baru sepertiga yang ditanami kopi.

Jika semua lahan ditanami, pada saat panen bisa mencapai nilai optimis sebanyak 1,5 ton. Namun hal tersebut belum dapat dicapai disebabkan pendampingan budidaya dan pascapanen belum dilakukan secara maksimal. Selain itu, faktor pengalaman di bidang pertanian dan perkebunan masih dilakukan secara tradisional, dan modal usaha pun masih minim untuk perawatan hingga panen tiba.

Walaupun begitu, pemasaran kopi Leworook cukup menggembirakan karena telah dipasarkan hingga ke kota Malang, Jakarta, bahkan telah ada pembeli yang berasal dari Hongkong. Kini, kopi bubuk Leworook sudah dijual dalam kemasan yang cantik dan menarik. Bungkusan dari bahan plastik yang berwarna hitam dan bertuliskan "Kopi Bubuk Leworok, Kopi Asli" dan telah tercipta pasar bagi kopi dari kampung kecil bernama Leworook.

Warung Kopi dan Santapan Nusantara Ini Kesuksesan Usaha Kuliner Indonesia di Swiss

Kopi Leworook menjadi kopi jenis robusta yang memiliki rasa kopi unik sehingga berbeda dengan kopi jenis lainnya. Hal itu disebabkan tempat tumbuhnya di sekitar gunung berapi Leraboleng. Humus tanah khas gunung berapi terasa hingga ke aroma kopi yang sedap.

Untuk mencicip kopi ini, Kawan hanya perlu merogoh kocek mulai dari Rp5.000 untuk 30 gram, Rp15.000 75 gram, Rp20.000 untuk 125 gram, Rp35.000 200 gram, dan Rp75.000 untuk 500 gram.

Tak perlu khawatir, pada tahun 2019, kopi Leworook telah mendapat izin dari BPOM sehingga pemasaran kopi Leworook bisa lebih meluas ke seluruh Indonesia maupun luar negeri.

Kini, dari kopi menyadarkan banyak masyarakat Kampung Leworook akan perjuangan yang tak kenal lelah dari para petani. Menjadi petani kopi tidaklah mudah. Para petani sudah merawat dengan susah payah, tetapi belum tentu harga kopi selalu berpihak pada mereka. Kadang naik, kadang turun sehingga tidak jarang para petani terpaksa mengikuti harga pasar yang tidak bisa mereka kendalikan.

Kini, nama kopi Leworook telah mengangkat nama kampung yang ada di Desa Leraboleng, Kecamatan Titihena, Kabupaten Flores Timur. Bagi siapa saja yang berkunjung ke Kabupaten Flores Timur, silakan merasakan nikmatnya kopi Leworook di kafe, warung, dan hotel yang ada di kota Larantuka. Rasakan sensasi nikmat dan aroma dari kopi khas Flores Timur ini.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

ET
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini