Pelabuhan Atapupu, Tempat Para Pedagang Berburu Cendana Terbaik di Dunia

Pelabuhan Atapupu, Tempat Para Pedagang Berburu Cendana Terbaik di Dunia
info gambar utama

Pelabuhan Atapupu adalah salah satu pelabuhan di Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Pelabuhan ini sedang didorong menjadi pelabuhan transit bagi barang-barang yang akan diantar ke Timor Leste maupun sebaliknnya ke Indonesia. Letaknya di tapal batas Indonesia yang hanya 15 km dari perbatasan RI-Timor Leste, telah membawa pertumbuhan ekonomi, khususnya Kota Atambua.

Ternyata sejak masa lalu, Pelabuhan Atapupu telah menjadi pelabuhan tersibuk yang ada di wilayah timur Nusantara. Dikisahkan, para pedagang cendana dari China melakukan perjalanan dagang paling sedikit dua kali dalam satu tahun, membawa cendana dari Timor untuk diperdagangkan di Malaka dan diteruskan ke China dan India.

Mereka berlabuh di dua belas pelabuhan, di antaranya pelabuhan Dili, Liquica, Kutubaba, serta Batugede. Salah satu pelabuhan terbesar adalah Atapapena (Atafufus, Atapupu) yang juga dikenal sebagai Namon Sukaer (Pelabuhan Pohon Asam), karena ditumbuhi pohon asam. Diduga pohon itu dibawa oleh pedagang China atau Jawa pada masa Kerajaan Majapahit.

Nama pelabuhan itu kemudian berubah menjadi Namon Malai atau Pelabuhan Malayu, sekarang bernama Atapupu. Selain menjadi pusat penjualan cendana, Atapupu juga menjadi pusat penjualan budak. Konon nama Atapupu berasal dari Ata (budak) dan Pupu (lebam), budak yang dipukuli hingga lebam kulitnya. Kawasan ini pun merupakan bekas pelabuhan ramai yang diakui dunia.

Observatorium Timau NTT Akan Jadi Tempat Pemantauan Planet Layak Huni

Hal ini karena nama Atafuffus--sebutan orang Portugis untuk Atapupu, dapat ditemukan dalam peta dunia karya kartografer Diego Ribero pada 1539. Daerah pesisir itu tercatat sebagai perkampungan China yang ramai, seperti yang dikabarkan oleh Pater Kraaiijvanger dalam suratnya kepada Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen pada 1 Agustus 1883.

"Sekarang kami sudah dua bulan hidup sebagai warga Atapupu. Rumah kami berada di antara perkampungan orang-orang China," tulisnya yang dilansir dari National Geographic.

"Orang China disini jumlahnya mencapai 300 orang. Rupaya mereka senang dengan kedatangan kami. Terutama ada seorang kapiten Cina yang selalu memberi bantuan, makanan, dan daging untuk kami. Orang China sudah lama masuk ke Atapupu."

Sambil menunggu angin yang membawa kapal-kapal pedagang China berlayar kembali ke Malaka, mereka menetap sementara di Atapupu. Dari Atapupu, orang China menyebar ke seluruh tanah Timor. Tujuan mereka adalah pasar Maubara dan pasar Kutubaba--sekarang Timor Leste--untuk mencari pasokan cendana.

Terdapat pula pelabuhan muda di bagian selatan Pulau Timor yang disebut Kota Looksina (kampung China, Betun) dan Besikama dibuat belakangan setelah Atapupu mengalami kemunduran. Lalu lintas perdagangan cendana ini mulai surut pada akhir abad ke-18. Belanda yang coba menguasainya pun mengalami kerugian besar pada 1752.

Namun, orang China masih terus bertahan dalam rute perdagangan ini sampai akhir abad ke-19. Sambil berjalan ke pedalaman Atambua, Lahurus, Besikama, Kefa, Soe dan seluruh wilayah Timor untuk mencari kayu cendana. Para pedagang China tak jarang menikah dengan perempuan-perempuan lokal para putri penguasa tanah Timor.

Cendana, emas hijau dari Timor

Cendana Pulau Timor dihargai sangat mahal dan menjadi komoditas spesial pada masa awal globalisasi dunia. Sementara itu, Pulau Timor pada abad ke-16 terkenal sebagai satu-satunya sumber cendana terbaik di dunia. Bahkan begitu terkenalnya, membuat pedagang China dari Makau dan Hong Kong merambah Timor harus melalui jalur rahasia.

Kisah aktifitas perdagangan cendana di Timor adalah sebuah naskah perjalanan panjang yang ditulis oleh Wang Da Yuan. Naskah itu berjudul Daoyi Chi Lue pada 1350 yang menyebutkan bahwa di wilayah Timor tidak tumbuh selain cendana serta komoditas ini diperdagangkan dan ditukar perak, besi, porselen, kain, dan manik-manik.

Pengawas perdagangan China di Hong Kong, Chau Ja Kua menulis pada 1225 bahwa Timor sudah berhubungan dengan Pulau Jawa karena perdagangan Kayu Cendana yang dianggap sebagai kayu cendana terbaik. Pilliot Lamster juga menulis bahwa perdagangan kayu cendana dengan China sudah dilakukan sejak awal abad Masehi.

O.W.Walters menambahkan bahwa China melakukan kontak dengan Timor sudah dimulai pada awal abad Masehi. Selain pedagang China yang datang, pedagang-pedagang India juga datang dan membarternya dengan kuda yang dibiakkan di Pulau Sumba. Para pedagang India dan China membawa cendana dari Timor untuk diperdagangkan.

Nantinya cendana akan ditukar dengan barang-barang mewah seperti logam, perhiasan, kain sutera, keramik. Dengan campur tangan para padagang ini cendana pun memasuki pelabuhan-pelabuhan dagang international Asia seperti Malaka, India, dan China. Cendana merupakan rempah wewangian yang banyak diperlukan masyarakat Arab, India, dan China.

Di Arab, cendana abadi menjadi wewangian para sufi. Di India dan China, ia menjadi bahan utama pembuatan dupa dan aroma terapi yang berfungsi sebagai bagian dari kegiatan pemujaan dalam agama Hindu-Buddha. Minyak cendana juga digunakan untuk terapi pengobatan, kosmetik, peralatan rumah tangga seperti furniture, dan juga peti mati.

Jembatan BJ Habibie, Penghargaan dari Timor Leste untuk Habibie

Dalam catatan kronik China, cendana seperti halnya pala dan cengkeh dikirim ke China dari "negeri asing". Dalam catatan, kronik China buku Sejarah Negara Wei (Wei Shu 386-550) disebutkan chan tan (cendana) berasal dari India bagian selatan. Lambat laun, asal daerah cendana putih ditemukan, yakni Timor.

Begitu pula seperti dalam Nagarakertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca pada 1365 telah menyebut Timor di dalam naskahnya. Ia menginformasikan bahwa kayu cendana putih yang dibawa dari Timor pertama-tama dihantar ke Majapahit melalui Kediri sebagai bahan upeti. Sejak saat itulah Pulau Timor mulai dikenal sebagai penghasil kayu cendana.

Sehingga tidak mengherankan apabila beberapa kerajaan di Nusantara dan juga bangsa asing memiliki hasrat untuk menguasi wilayah Timor seutuhnya. Seperti misalnya Kerajaan Majapahit, Kerajaan Ternate, Portugis, hingga Belanda. Tidak hanya dari luar, dari internal perebutan untuk menguasai Timor terjadi antara kelompok Paji dan Demong.

Seiring waktu yang terus bergulir meninggalkan untaian kisah masa lalu, julukan Nusa Cendana bagi tanah Timor semakin pudar. Ribuan batang pohon cendana yang dulu diagungkan dalam kronik klasik China tak lagi tampak. Usaha budidaya cendana putih pun tidak berjalan mulus diterpa perubahan iklim yang semakin memanas.

Atapupu kembali jadi pelabuhan International

Pada masa dulu pelabuhan Atapupu, menjadi salah satu pelabuhan alternatif sejumlah aktivitas pelayaran antarpulau di sepanjang gugusan laut, seperti penyebrangan ke Pulau Alor, Lembata, juga ke Dili (waktu masih Timor Timur). Serta ke sejumlah pulau lain di luar Nusa Tenggara Timur seperti, Pulau Jawa, Sulawesi serta Kalimantan.

Pelabuhan Atapupu pun akhirnya menjadi pelabuhan sentra, aktivitas pelayaran dan bongkar muat penumpang dan barang seperti sembako, hewan ternak, serta sejumlah komoditas pertanian lainnya. Di bagian lainnya juga ada pelabuhan rakyat, sebagai salah satu urat nadi warga nelayan di sepanjang pesisir daerah itu.

Begitu strategisnya pelabuhan Atapupu pasca Timor Timur merdeka 10 tahun silam dan membentuk negara Republik Demokratik Timor Leste, pelabuhan tersebut menjadi salah satu rebutan sejumlah pemangku kepentingan. Hal ini memang dengan satu tujuan menjadikan pelabuhan Atapupu sebagai sentra perdagangan international ke Timor Leste.

"Bagaimana kita punya pelabuhan laut tetapi arus barang ekspor ke Timor Leste dari Indonesia tidak melalui pelabuhan Atapupu. Kita terus dorong agar bisa jadi pelabuhan transit," ucap mantan Gubernur NTT Frans Lebu Raya pada 2016 lalu.

Makin Eksis di Timor Leste

Selama ini, katanya, semua barang yang hendak dikirim ke Timor Leste dari sejumlah daerah di Indonesia, seperti Makassar dan Pulau Jawa. Dilakukan langsung ke Timor Leste tanpa singgah di Pelabuhan Atapupu. Hal ini katanya merugikan daerah yang memiliki pelabuhan yang strategis ini.

Posisi Pelabuhan Atapupu yang strategis sehingga dipandang penting untuk patut dijadikan sebagai salah satu pelabuhan transit ekspor ke Timor Leste. Hal ini juga bisa sejalan dengan misi Presiden Jokowi mempercepat pertumbuhan ekonomi memamfaatkan potensi laut Indonesia. Koneksi tol laut untuk membuka akses transportasi barang dan orang antar wilayah di Indonesia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini