Mengenal Lebih Jauh Impulsive Buying, Biar Enggak Boros di Akhir Bulan!

Mengenal Lebih Jauh Impulsive Buying, Biar Enggak Boros di Akhir Bulan!
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

Akhir bulan tiba! Menandakan kalau uang bulanan atau gajian akan segera cair. Bisa digunakan buat membeli barang-barang kebutuhan, ditambah lagi memborong produk-produk yang sudah lama didambakan. Siap untuk menggelontorkan uang, Kawan?

Sebelum itu, ada sebuah nasihat untuk Kawan. Meskipun mendapatkan banyak uang secara mandiri rasanya menyenangkan, tapi ini bisa jadi bumerang tersendiri kalau Kawan menggunakannya dengan tidak bijak.

Dalam artian membeli apa pun yang memikat mata tanpa memerhatikan kebermanfaatannya untuk kehidupan sehari-hari Kawan. Mulai dari membeli pigura pajangan, memborong perhiasan, hingga menggelontorkan dana pada barang-barang yang sudah dimiliki.

Tanpa disadari, ternyata uang yang Kawan habiskan sudah mencapai lebih dari setengah uang bulanan atau gaji Kawan. Melihat hal ini, Kawan pun panik dan tidak habis pikir, “Mengapa uang saya cepat habis, padahal masih perlu dialokasikan untuk berbagai kebutuhan?”

Mengenal impulsive buying

Ilustrasi | Foto: The Happilionaire Lifestyle Blogger
info gambar

Jika benar Kawan mengalami seperti itu, berarti tandanya Kawan sedang terkena impulsive buying. Apa itu impulsive buying? Melansir laman The Economic Times, impulsive buying merupakan aktivitas pembelian besar-besaran yang tidak direncanakan pelakunya. Nah, keputusan ini dilandaskan pada pemikiran yang tidak rasional.

Pemikiran tidak rasional tersebut diciptakan oleh para pemasar. Mereka melakukan hal ini semata-mata untuk meningkatkan penjualan. Lantaran, ketakutan dan isu-isu sosial yang diemban oleh calon konsumen dinilai seksi sebagai sumber pendapatan. Membuat para pemasar gencar-gencaran dalam mengeksploitasi para calon konsumen.

Seperti Apa Efek 'People Pleaser' di Tempat Kerja?

Mengapa kita kesulitan dalam mengatasi impulsive buying?

Ilustrasi | Foto: Amartha Blog
info gambar

Menyambung pembahasan sebelumnya, alasan mengapa calon konsumen kesulitan dalam menghadapi impulsive buying disebabkan dari pemanfaatan pemasar atas emosi, pengalaman masa lalu, dan keuntungan yang diperoleh calon konsumen.

Maksudnya seperti ini. Apabila Kawan tengah mengalami hari yang penat, apa yang pertama kali akan Kawan lakukan? Tak sedikit dari Kawan akan membeli banyak barang secara impulsif untuk mengobati perasaan Kawan. Aktivitas ini dirasakan dapat membuat Kawan lupa dengan pengalaman menyebalkan, meskipun nantinya merugikan diri Kawan.

Memahami Seluk Beluk Vaksinasi COVID-19 di Indonesia

Nah, rasa emosional inilah yang dimanfaatkan para pemasar sebagai ladang pendapatannya. Dengan menghadirkan iklan yang dekat dengan kehidupan calon konsumen, para pemasar mencoba untuk ‘memaksa’ Kawan untuk membeli produk jenama mereka. Melalui bonus gratis ongkir apabila segera membeli produk misalnya.

Bagaimana cara efektif mengatasi impulsive buying?

Ilustrasi | Foto: The Happilionaire Lifestyle Blogger
info gambar

Setelah mengetahui impulsive buying, barang tentu Kawan mendapati banyaknya kerugian yang ditimbulkan pada diri Kawan. Tidak hanya pada masa sekarang saja, tetapi juga dampak ke depannya. Maka itu, berikut beberapa cara efektif mengatasi impulsive buying.

Buat daftar belanja per 30 hari

Cara termudah untuk mengatasi impulsive buying tentunya dengan membuat daftar belanja per 30 hari. Di mana per 30 hari, Kawan tidak membeli apa pun kecuali kebutuhan.

Kawan baru bisa membeli barang-barang yang diinginkan tatkala akan berjumpa dengan 30 hari berikutnya. Cara ini dijamin dapat meneguhkan komitmen Kawan dalam mengelola keuangan.

Membuang sedikit uang untuk jajan

Mengelola keuangan pribadi secara rapi memang memberikan banyak manfaat untuk diri Kawan. Namun, tahukah Kawan, kalau ini bisa membuat diri Kawan stres?

Maka itu, cobalah untuk mengalokasikan sedikit uang untuk menyenangkan diri Kawan. Entah itu membeli produk fesyen terkini, makan hidangan mahal, dan lain sebagainya.

Berwisata ke Kabupaten Siak yang Penuh Sejarah

Tunggu satu hari sebelum membeli barang

Sudah menemukan barang-barang yang Kawan inginkan? Bagus. Ini menandakan kalau Kawan memang manusiawi. Kendati demikian, janganlah terburu-buru dalam menjajakan cuan Kawan.

Beri dulu waktu sejenak. Dinginkan kepala Kawan, sampai tidak merasa getar-getir ingin segera membeli barang. Kemudian, pikirkan perspektif lain, tanyakan pada diri, “Apakah barang-barang ini jika dibeli akan sering-sering digunakan? Atau malah sebaliknya?”

Tambah lagi, bandingkan harga produk tersebut dengan masa-masa sebelumnya. Apakah harga aslinya memang sebesar itu. Atau hanya taktik para pemasar saja. Kawan bisa melakukannya dengan cara membandingkan harga produk tersebut, dengan harga pasaran dan kecocokan akan kualitasnya.

Bekukan kartu kredit

Kawan sudah melakukan cara-cara di atas namun tetap terjerumus dalam impulsive buying? Berarti, langkah terakhir yang harus kawan lakukan adalah satu: bekukan kartu kredit punya Kawan!

Maksud dari membekukan kartu kredit di sini bukan berarti dirusak atau dihancurkan secara fisik, ya, Kawan. Intinya, Kawan hanya mengambil uang bulanan dari bank untuk kebutuhan pokok saja. Setelah mengambilnya, simpanlah kartu kredit di suatu tempat di rumah, termasuk dengan kertas catatan pin rekeningnya.

Itulah informasi mengenai impulsive buying dan cara mengatasinya. Di akhir bulan ini, apa saja barang-barang yang ingin Kawan beli? Yuk, biasakan diri untuk berhemat dan berinvestasi demi kehidupan gemilang di masa yang akan mendatang!*

Referensi:Ramsey | The Economic Times | The Simple Dollar

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini