Pantang ke Cirebon Tanpa Mencoba Nasi Jamblang dan Nasi Lengko

Pantang ke Cirebon Tanpa Mencoba Nasi Jamblang dan Nasi Lengko
info gambar utama

Siapa yang pernah berkunjung ke Cirebon? Bila dari arah Bandung atau Jakarta menuju Tegal, Semarang, Purwokerto, Kudus, Surabaya, Yogyakarta, atau Solo, biasanya akan melewati Kota Cirebon. Kota yang berada di jalur pantura ini menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Barat.

Tak akan menyesal mengunjungi Cirebon untuk liburan. Di sana, Anda bisa berwisata ke kawasan keraton, mengunjungi berbagai objek wisata alam seperti Situ Cicerem, Bukit Gronggong, dan Telaga Remis, atau belanja produk batik di Sentra Batik Trusmi. Kemudian, pastinya memanjakan perut dengan makanan-makanan tradisional yang lezat.

Setidaknya, ada dua makanan khas Cirebon yang wajib dicoba yaitu nasi lengko dan nasi jamblang. Kedua makanan ini masih cukup sulit ditemukan di daerah lain sehingga bisa jadi alasan untuk mengunjungi Cirebon dan merasakan langsung di tempat asalnya.

Nasi jamblang

 Nasi jamblang | @Fsyimage Shutterstock
info gambar
Mencicipi Kenikmatan Cwie Mie, Sajian Mi Ayam Khas Malang

Nasi jamblang merupakan salah satu makanan khas Cirebon yang memiliki ciri khas yaitu nasi dibungkus daun jati. Konon, makanan ini berasal dari daerah Jamblang, di mana pra penjualnya kebanyakan berasal.

Di rumah makan yang menyediakan masakan ini, nasi jamblang disajikan dengan model prasmanan. Pembeli bebas memilih lauk sesuai selera. Biasanya pilihan lauknya pun beragam, mulai dari tahu-tempe goreng, ayam goreng, perkedel, sate kentang, telur dadar, semur hati atau daging, paru goreng, ikan asin, balakutak, aneka pepes, dan sambal goreng hati.

Masakan balakutak atau cumi tinta hitam menjadi salah satu menu favorit untuk dimakan bersama nasi jamblang. Meski penyajiannya prasmanan, biasanya nasi putih sudah dipisahkan per porsi dengan bungkusan daun jati.

Nasi jamblang awalnya merupakanan makanan yang sering dikonsumsi ribuan pekerja kasar yang membangun jalanan dari Anyer hingga Panarukan pada zaman penjajahan Belanda. Harganya terbilang murah dan banyak dibeli buruh kasar di pelabuhan dan kuli angkut.

Pada masa itu, pembungkus nasi pun masih terbatas. Sehingga daun jati digunakan untuk membungkus nasi karena teksturnya rapat, daunnya kuat, dan tidak mudah sobek. Nasi yang dibungkus daun jati pun tidak mudah basi sehingga cocok disimpan dalam waktu lama. Kenapa harus disimpan? Mengingat pada saat itu kerja paksa teramat kejam sehingga para pekerja harus curi-curi waktu untuk makan.

Salah satu warung makan nasi jamblang termashyur di Cirebon ialah Nasi Jamblang Bu Nur. Lokasinya ada di Jalan Cangkring, Kecamatan Kejaksan. Di sana, nasi jamblang disajikan dengan 40 jenis lauk, termasuk sate udang, oseng kedelai hitam, otak sapi goreng, pari cabe hijau, terong balado, serta aneka semur dan pepes.

Garang Asem, Hidangan Ayam Asam Pedas dari Grobogan

Nasi lengko

 Nasi lengko | @Reezky Pradata Shutterstock
info gambar

Berbeda dari nasi jamblang, nasi lengko merupakan hidangan yang terdiri dari nasi putih, tempe dan tahu goreng, irisan mentimun, taoge rebus, irisan daun kucai, bumbu kacang, dan ditaburi bawang goreng. Umumnya, nasi lengko ditambahkan kecap manis encer. Tak lupa, dilengkapi dengan kerupuk aci berwarna putih.

Sepiring nasi lengko memang tampak sederhana. Isinya hanya nasi, sayuran, dan tahu-tempe. Namun, perpaduan bahan dan bumbu kacangnya membuat makanan ini begitu lezat dan disukai banyak orang. Bahkan, nasi lengko menjadi makanan wajib dikunjungi banyak orang ketika berkunjung ke Cirebon.

Rasa nasi lengko memiliki perpaduan gurih, manis, dan pedas, biasanya dari cabai yang diulek bersama bumbu kacang. Harganya pun murah-meriah, sekitar Rp10-15 ribu seporsi.

Untuk mencoba kelezatan nasi lengko, Anda bisa bertolak ke warung Nasi Lengko H. Barno yang melegenda. Warung yang sudah berjualan sejak tahun 1968 ini memang terkenal dengan menu nasi lengko yang nikmat. Sejak dahulu, rasa bumbu kacangnya tak pernah berubah. Di sana, ada tambahan sate kambing untuk melengkapi nasi lengko.



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini