Dampak Positif Membangun Sense of Ownership di Lingkungan Kerja

Dampak Positif Membangun Sense of Ownership di Lingkungan Kerja
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

Di zaman serba cepat seperti sekarang ini, seluruh manusia dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman dan menciptakan berbagai inovasi untuk mempercepat laju peradaban. Contoh mudahnya, Kawan bisa lihat dari lingkungan kerja yang menuntut kinerja serba cepat dari karyawan-karyawannya.

Produktivitas seluruh karyawan menjadi kunci dari kesuksesan perusahaan. Inilah yang membuat kebanyakan perusahaan memberikan berbagai bentuk dorongan buat karyawan-karyawannya, mulai dari pemberian tunjangan yang menarik, jam kerja yang fleksibel, kepastian gaji, hingga keuntungan-keuntungan lainnya.

Kendati demikian, memberdayakan karyawan-karyawan secara optimal tidak bisa dicapai bilamana kita melupakan aspek kesehatan mental mereka. Indikator sehat atau tidaknya mental karyawan bisa dilihat dari sense of ownership atau rasa kepemilikan diri karyawan.

Apakah mereka merasa bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan, atau malah cenderung menunda-nunda pekerjaan. Apakah seiring berjalannya waktu performa kinerja semakin membaik atau malah sebaliknya. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang bisa menjadi pertimbangan perusahaan untuk menilai sense of ownership pada diri masing-masing karyawannya.

Pelajari 7 Tools Berikut Jika Ingin jadi Content Writer

Apa manfaat dari sense of ownership?

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya Kawan mengetahui manfaat dari adanya sense of ownership di lingkungan kerja. Pertama-pertama, barangkali Kawan bisa menengok hasil studi tahun 2015 oleh Md. Hasan Jafri, seorang dosen Gaedu College of Business Studies, Royal University of Bhutan, yang mengungkapkan kalau rasa kepemilikan memberikan dampak positif terhadap kinerja karyawan.

Dampak-dampak positif yang dimaksud antara lain memberikan rasa aman untuk diri karyawan, meningkatkan produktivitas karyawan, secara tidak langsung mendorong karyawannya untuk mengembangkan keahlian, dan menciptakan berbagai inovasi di lingkungan kerja.

Cara membangun sense of ownership

Ilustrasi | Foto: Unsplash
info gambar

Setelah dilihat-lihat, ternyata banyak sekali manfaat sense of ownership untuk lingkungan kerja, bukan? Bagi Kawan yang berada di posisi apa pun, tentu aspek ini dapat menjadi inspirasi Kawan untuk membentuk ekosistem kerja yang inklusif dan kondusif. Maka itu, tak perlu berlama-lama lagi, berikut beberapa cara membangun sense of ownership di lingkungan kerja.

Mengenal Lebih Jauh Impulsive Buying Agar Tidak Boros di Akhir Bulan 

Jadikan kesalahan sebagai hal yang lumrah terjadi

Semua orang pasti pernah membuat kesalahan, entah dalam perkara kecil maupun perkara besar. Yang pasti, kebanyakan orang akan mempelajari kesalahan ini dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak mengulanginya lagi.

Oleh karena itu, sebaiknya perusahaan memberikan ruang kepada karyawan untuk melakukan kesalahan, agar di kemudian hari mereka bisa mengevaluasi kesalahan-kesalahan ini dan mengembangkan cara kerja mereka.

Jangan menghakimi kinerja karyawan hanya karena melakukan satu atau dua kali kesalahan. Ini malah membuat karyawan merasa tidak berharga dan demotivasi. Sehingga, sense of ownership jadi musykil tumbuh di lingkungan kerja.

Tampung pendapat karyawan

Bagaimana cara mudah membangun sense of ownership? Tentunya dengan memanusiakan karyawan-karyawannya. Yang dengan kata lain, perusahaan sepatutnya mengakomodasi kebutuhan karyawan untuk berpendapat secara terbuka.

Lebih dari itu, kalau bisa jadikanlah pendapat mereka sebagai bagian dari solusi atau inovasi perusahaan. Sehingga karyawan-karyawan pun akan merasakan betul kepemilikan diri mereka di tempat perusahaan mereka bekerja.

Seperti Apa Efek 'People Pleaser' di Tempat Kerja?

Menceritakan visi jangka panjang perusahaan

Pernahkah Kawan bergabung ke suatu organisasi atau perusahaan demi posisi semata, bukan karena mengetahui betul visi mereka? Jika benar Kawan seperti itu, sebenarnya tidak apa-apa. Namun, Kawan harus berhati-hati, karena ini bisa memberikan dampak kurang baik ke diri Kawan secara jangka panjang!

Okelah Kawan tahu apa saja yang harus dikerjakan setiap hari. Tidak ada hambatan, semua pekerjaan beres terselesaikan. Akan tetapi, kalau Kawan tidak tahu alasan kuat mengapa Kawan harus bekerja secara optimal setiap harinya -- kecuali faktor gaji dan tunjangan lainnya -- Kawan hanya bekerja seadanya.

Maka itu, sebaiknya perusahaan mengalokasikan waktu khusus untuk membahas visi jangka panjang perusahaan. Jelaskan ke seluruh karyawan, bagaimana dampak kinerja karyawan untuk rekan-rekan kerjanya, atasan, dan untuk kemajuan perusahaan. Tentunya, dengan penjelasan yang menyenangkan dan tidak kaku.

Hormati karyawan

Semua orang ingin dihargai, tidak ada satu pun yang suka harga dirinya diinjak oleh orang-orang lainnya. Terlebih, jika dirinya direndahkan lantaran status sosial atau hasil kinerjanya.

Oleh karena itu, buat perusahaan, sebaiknya menginvestasikan waktu untuk berdialog dengan karyawan-karyawan mereka, kemudian tidak lupa menghormati mereka, terlepas dari apa pekerjaan mereka.

Terbangunnya iklim kerja yang memperhatikan kesetaraan dan keadilan secara penuh dapat mendorong karyawan untuk lebih produktif dalam bekerja. Sehingga, sense of ownership pun akan terbangun dengan baik di lingkungan kerja.

Membangun sense of ownership mampu menjadi kunci utama dalam memajukan perusahaan. Dengan memanusiakan karyawan-karyawan secara penuh, tak ayal perusahaan dapat menjadi garda terdepan di sektornya. Semoga ini bisa tercapai di Indonesia, ya, Kawan!*

Referensi: Dale Carnegie | HR in Asia | The Economic Times

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini