Kisah Malaikat Jalanan, Tembus Kemacetan untuk Membuka Jalan bagi Ambulans

Kisah Malaikat Jalanan, Tembus Kemacetan untuk Membuka Jalan bagi Ambulans
info gambar utama

Relawan biker Indonesia Sebastian Dwiyantoro dan timnya sangat sibuk membantu ambulans menavigasi lalu lintas padat di Depok, kota satelit di pinggiran Jakarta itu memang terkenal dengan kemacetannya saat jam padat. Mereka melewati padatnya kendaraan untuk membawa pasien Covid-19 ke rumah sakit ketika infeksi melonjak di Indonesia.

Media Singapura Straits Times hari Senin, (05/07/2021) melaporkan, para relawan ini mengendarai sepeda motor di depan ambulans dengan suara sirene yang memekakan telinga. Mereka mengosongkan ruang dan menghentikan mobil lain untuk memberi jalan ambulans yang membawa orang sakit ke fasilitas medis atau jenazah ke pemakaman.

Saat suara sirene ambulans terdengar memecah keheningan, seketika itu pula tiga orang pengendara roda dua berseragam jaket merah bergegas memasang helm mereka dan menyalakan mesin motor. Ketiga pengendara motor itu pun memacu kencang kendaaraan mereka dan menyusul ambulans dengan cepat.

Para tenaga kesehatan yang ada di dalam ambulans tersebut nampaknya tidak asing dengan para pengendara motor tersebut. Salah seorang paramedik itu pun spontan menurunkan jendela dan memberitahukan ketiganya tempat tujuan ambulans tersebut : Sebuah fasilitas isolasi mandiri Covid-19 di pinggiran selatan Jakarta.

Dengan sigap, salah seorang pengendara motor memisahkan diri dari rombongan dan maju ke depan. Ia membunyikan sirene motornya sendiri dan dengan lambaian tangan meminta agar pengendara lain memberikan jalan bagi ambulans. Untuk 15 menit ke depan, tugas ketiga pengendara motor tersebut seakan tanpa henti.

Sepanjang perjalanan mereka harus terus menerus meminta mobil, truk dan motor untuk mengalah dan memberi jalan atau menepi sejenak. Kebanyakan pengendara menuruti permintaan mereka namun ada pula yang tidak. Tantangan para relawan ini memang semakin berat dengan naiknya kasus Covid beberapa pekan ini.

Aksi Gerakan Sejuta Tes, Berbagi Nafas dengan Pinjamkan Tabung Oksigen Gratis

Pada waktu luangnya, Dwiyantoro (24), selama empat tahun ini bekerja untuk kelompok sukarelawan Indonesia Escorting Ambulance (IEA). Ia mengatakan timnya sekarang melakukan hingga 20 perjalanan sehari dibandingkan tiga atau empat perjalanan sebelum lonjakan kasus terbaru. Ia pun sebagai manusia, cukup khawatir mengenai hal tersebut.

"Saat ini kami jujur merasa takut (terinfeksi) Covid-19, tetapi saya selalu berpikir ini adalah panggilan tugas dari hati kami untuk membantu, dan pada saat yang sama, kami juga harus menghindari terinfeksi Covid-19," Kata Dwiyantoro yang sehari-hari bekerja sebagai satpam.

Sebelum pandemi, Jakarta dari tahun ke tahun selalu menempati posisi teratas daftar kota-kota di dunia dengan kemacetan terparah menurut studi yang diadakan oleh perusahaan teknologi TomTom. Perusahaan yang sama juga menemukan bahwa di hari-hari tertentu, tingkat kepadatan jalanan Jakarta bisa mencapai 95 persen.

Tidak jarang ambulans bisa terjebak kemacetan, hingga tak bergerak di Jakarta. Terkadang nyawa seseorang pun hilang karena ambulans tak dapat mencapai tempat tujuan mereka dengan cepat.

"Setiap kali saya melihat orang enggak kasih jalan ke ambulans itu agak greget. Kenapa sih enggak ada (orang) yang peka untuk kasih jalur dan prioritaskan ambulans?" katanya yang merupakan koordinator IEA untuk wilayah Depok.

"Ambulans ini (kendaraan) emergency. Sedangkan menteri atau orang penting punya pengawalan sendiri dan kasih jalan buat mereka. Kenapa ambulans enggak ada yang kawal," tambahnya kesal.

Selama pandemi, para anggota IEA memang terpaksa bekerja lebih lama dan mengawal lebih banyak ambulans. Selain itu dengan padatnya rumah sakit, mereka pun harus mengawal ke tempat-tempat yang lebih jauh. Namun semua itu terbayarkan, saat seorang kerabat pasien mengucapkan "terima kasih" kepada mereka.

Para malaikat jalanan

"Pengalaman saya ketika orang tua tertabrak mau berangkat kerja. Pagi itu benar-benar jam berangkat kerja ya, crowded dan gangguan jalan," ungkap Yunus Musthofa (33) melansir Liputan6.

"Dengan penuh rasa ketakutan, rasa kalut karena ayah saya dalam ambulans, saya bingung bisa sampai atau tidak waktunya. Karena situasi dipindahkan ke RS Gatot Subroto, harus segera dioperasi karena pendarahan," sambungnya.

Untung, bantuan datang tanpa terduga. Sekitar empat pengendara motor tiba-tiba mendekati ambulans tersebut dan mengetuk jendela sopir. Mereka menanyakan rumah sakit tujuan ambulans.

"Mereka membantu membukakan jalan. Syukur, alhamdulilah pemandu motor yang tidak saya kenal itu mengantarkan sampai Atrium, tanpa halangan di jalan, meskipun keadaan macet," tutur Yunus.

Aksi heroik para pengendara motor yang tak dikenal ini akhirnya menginspirasi Yunus. Ayahnya selamat, sebab ambulans datang tepat waktu. Karena itu, dia ingin bisa membalas jasa dengan ikut membukakan jalan bagi ambulans. Yunus pun bergabung dalam IEA pada awal tahun 2018.

Menilik Progres Vaksinasi Covid-19 di Indonesia, Sudah Sejauh Mana?

"Sangat bergerak hati saya untuk menolong, jadi saya ingin tahu ini organisasi apa, bergerak di bidang apa. Pas saya cek di media online, ternyata sejalan dengan hati saya, ingin membantu," ucap pria yang sehari-hari bekerja sebagai insyinyur di bidang minyak dan gas (migas) ini

Dirinya pun rela berpanas-panasan demi mengawal ambulans di waktu senggangnya. Hal ini dilakukannya secara cuma-cuma, tak dibayar sepeserpun. Hatinya senang bila melihat pasien sampai di rumah sakit dengan lancar. Walau banyak hambatan di jalan, baik kemacetan atau makian dari pengendara lain.

"Dikata-katai jagoan jalan, dikatai enggak punya otak, dikatai bahasa binatang, sering, ya kita maklumi. Dia (pengguna jalan) mungkin enggak tahu yang di dalam ambulans lagi membutuhkan penanganan intensif, dia enggak tahu," kata Yunus sembari tertawa.

Bisa dikatakan, para anggota IEA bak 'malaikat jalanan'. IEA yang didirikan pada 1 Oktober 2017, memang murni dijalankan oleh para relawan dan menolak untuk dibayar. Meski banyak keluarga pasien yang ingin membalas jasa.

"Berdirinya IEA adalah dari kesadaran masyarakat Indonesia terhadap perjalanan ambulans. Seperti yang kita tahu, ambulans salah satu kendaraan yang mendapat hak prioritas jalan seperti yang tercantum dalam undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 pasa 134, poin kedua setelah pemadam kebakaran," jelas Nova Tri Widyatmoko pendiri IEA.

Dia menegaskan sudah menjadi prinsip hidupnya agar bisa berguna bagi banyak orang. Organisasi yang sudah legal ini juga kerap membekali anggotanya dengan pengetahuan akan pertolongan pertama atau first aid. Yakni dengan memberikan pelatihan Basic Life Support (BLS), penanganan patah tulang, penanganan luka terbuka, dan lainnya.

"Jadi dengan anggota IEA yang mencapai 2.000 anggota tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Bali, diharapkan ini bisa menambah skill atau kemampuan teman-teman lebih bermamfaat untuk masyarakat, khusunya dalam penaganan laka lantas di jalan," tutur Nova.

Ingin bekerjasama dengan polisi

IEA menjadi salah satu komunitas pemandu mobil ambulans yang eksis di Indonesia. Dalam melaksanakan tugasnya, organisasi ini bekerja secara sukarela dan tidak menerima uang sepeserpun. Selain itu, mereka akan bekerja bedasarkan permintaan dari pengendara ambulans.

"Untuk sistem kerjanya, awalnya kami menunggu di depan rumah sakit, sekalian kami sosialisasi dengan driver ambulans dan meminta nomor mereka untuk dimasukan ke group whatsapp IEA," kata Kabid Humas Nasional IEA Sidqi Muhammad Luthfi yang dikabarkan Detikoto.

"Nah dari situ barulah para driver mobil ambulans menghubungi kami untuk meminta bantuan membuka jalan dan lain-lain. Akhirnya terbentuklah sistem seperti itu," lanjut Sidqi.

Sejauh ini, IEA masih melayani pemanduan di dalam kota. Namun jika butuh pelayanan hingga luar kota, maka tim IEA dari daerah akan melanjutkan tugas itu. Mereka juga masih menggunakan kendaraan roda dua. Sebab motor dinilai lebih efektif untuk membuka jalanan yang macet.

"Sesuai SOP, setiap pengawalan itu maksimal 4 motor. Biar kondusif dan biar nggak terlihat arogan sama masyarakat atau pengguna jalan lain," pungkasnya.

Nova sendiri berharap IEA bisa semakin dikenal agar mudah bekerja sama dengan pihak terkait. Terutama saat harus membuka jalan. Dirinya ingin agar dinas kesehatan maupun pihak kepolisian bisa berkoordinasi dengan IEA. Hal ini agar tak ada kesalahpahaman dari masyarakat, juga bisa mengedukasi anggota terkait pengawalan jalan.

Para Pengusaha Yogyakarta Bagikan 16.000 Voucher Makanan dan Minuman

"Mudah-mudahan dari pihak kepolisian bisa memberikan pelatihan-pelatihan safety riding ataupun tata acara pengawalan," ungkapnya.

Nova juga berpesan, masyarakat harus sadar bahwa ambulans wajib diutamakan saat berada di jalan. Sebab, bisa saja suatu saat nanti mereka berada di dalam ambulans dalam kondisi terburu-buru.

"Karena satu detik yang bisa kita berikan kepada mereka itu sangat bermamfaat untuk kelanjutan hidup," pungkas Nova.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini