Kisah Sukses Pembudidaya Milenial Asal Bangka Selatan, Raih Omset Miliaran Rupiah

Kisah Sukses Pembudidaya Milenial Asal Bangka Selatan, Raih Omset Miliaran Rupiah
info gambar utama

Anak muda agar sukses ingin jadi apa? Pertanyaan itu mungkin bukan sekali-dua kali terdengar, dan sering diterima oleh kalangan anak muda atau yang kekinian lebih dikenal dengan sebutan “milenial”.

Beda kepribadian, tentu berbeda pula cita-cita dan tujuannya. Terlepas dari banyaknya fokus yang dimiliki masing-masing orang untuk berkarir, mulai dari bekerja di perusahaan tertentu sampai berwirausaha, tak dimungkiri jika salah satu tujuan utama yang sudah pasti dimiliki hampir semua orang adalah meraih kesuksesan dan memperoleh kehidupan yang mapan untuk masa depan.

Bicara soal membangun usaha, ada kisah menarik yang datang dari seorang pemuda bernama Maulayadi, asal Rias, Bangka Selatan. Pria kelahiran tahun 1994 ini nyatanya sukses menjadi seorang pembudidaya ikan dan sumber pangan air tawar lainnya. Tak tanggung-tanggung, omset yang berhasil diraih oleh pria yang akrab disapa Maul ini bahkan menyentuh angka miliaran.

Tentu tidak berhasil secara instan. Maul mengungkap bahwa dalam membangun usahanya, dia kerap kali mengalami kegagalan yang juga menelan kerugian cukup besar. Menariknya, Maul ternyata memiliki karir yang cukup menjanjikan sebelum memutuskan menjadi seorang pembudidaya, yaitu sebagai pekerja honorer di Pemkab Bangka Selatan.

Nano bubble generator untuk percepatan budidaya

Memulai usaha budidaya ikan sejak tahun 2015

Maulayadi saat memantau budidaya ikan kerapu
info gambar

Melansir Idxchannel, dijelaskan bahwa Maul sejatinya sudah memulai berbagai macam jenis usaha di usia yang masih sangat muda, yaitu 17 tahun sejak tahun 2011. Namun usaha yang pada akhirnya berfokus sebagai seorang pembudidaya ikan terutama berjenis kerapu mulai digeluti Maul sejak tahun 2015.

Dengan berbekal modal awal kurang lebih sekitar Rp200 juta, Maul mulai membuat 12 keramba apung untuk membudidayakan berbagai jenis ikan kerapu di Perairan Pulau Tinggi, Kecamatan Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan.

Lebih jauh, Maul secara detail juga menjelaskan seberapa banyak keuntungan atau omset yang bisa ia raih berkat hasil budidaya yang dilakukan.

“…Setelah saya geluti di tahun pertama, ternyata hasilnya cukup menggiurkan dan saya kembangkan lagi sampai sekarang, Alhamdulillah setiap tahunnya bisa meraih omset kurang lebih Rp1,5 miliar," jelas Maul.

Tak heran jika omset yang berhasil didapat Maul cukup besar. Pasalnya, hingga saat ini keramba apung yang dimiliki untuk membudidaya ikan kerapu tersebut sudah bertambah menjadi 48 keramba.

Hasil panen ikan kerapu yang dimiliki diekspor ke beberapa negara dibawah naungan Koperasi wilayah setempat, yaitu koperasi Usaha Muda Inovatif. Selain itu, Maul juga sekaligus berhasil membuka lapangan pekerjaan dengan melibatkan belasan tenaga kerja.

Bangkitkan Perekonomian Masyarakat Sumberwaru Melalui Budidaya Ikan Kerapu

Budidaya udang Windu dan Vannamei

Udang Vannamei
info gambar

Bukan hanya ikan kerapu, pada tahun 2016 Maul nyatanya juga melakukan budidaya untuk jenis sumber pangan air tawar lainnya, yaitu udang dengan jenis Windu dan Vannamei.

Melansir laman resmi Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Belitung, Maul juga menceritakan bahwa budidaya udang yang ia lakukan di lahan seluas satu hektar miliknya masih mengandalkan metode yang sangat tradisional.

Namun terlepas dari keterbatasan metode tersebut, Maul mengakui bahwa hasil yang diperoleh dari budidaya udang ini pun cukup menjanjikan. Dirinya menjelaskan bahwa sejak tahun 2016 hingga saat ini, usahanya di bidang budidaya udang sudah berhasil 4 kali panen, dengan siklus satu tahun satu kali panen.

"Total sudah 4 kali panen, satu kalinya gagal, ruginya yah lumayan tapi dak buat jera lah, kalau soal keuntungan, yang pasti bisa buat beli mobil," ungkap Maul yang tak menyebutkan secara rinci keuntungan yang didapat dari budidaya udang ini.

Tak berpuas diri, kedepannya Maul disebutkan berencana mengembangkan budidaya udang berjenis Vannamei dengan cara semi intensif bersama teman kelompoknya.

"Ada lahan sekitar 10 hektar, nanti rencananya mau membentuk koperasi atau kelompok dan membuat budidayanya naik level semi intensif, kami juga sedang berupaya untuk mencari modalnya, " tutur Maul.

Wow! Diekspor ke Seluruh Dunia, Udang Sumbang Devisa Negara Terbesar

Tantangan yang dihadapi dalam usaha budidaya

Budidaya udang yang masih dilakukan secara tradisional
info gambar

Walau mendapat omset yang cukup besar baik dari budidaya kerapu maupun udang, Maul mengungkap bahwa kondisi tersebut tidak berjalan secara mulus. Tetap ada beberapa tantangan yang harus ia lalui dalam kelangsungan usahanya, terutama di tengah situasi pandemi.

Dalam hal budidaya kerapu, hasil panen yang biasanya diandalkan sebagai komoditas ekspor belakangan mengalami kesulitan pemasaran, mengingat negara tujuan ekspor menutup keran pembelian ikan dari luar negeri, termasuk Indonesia.

"Saat ini yang siap panen ada kurang lebih 4 ton, namun kita tidak bisa jual karena tidak bisa ekspor keluar, sedangkan kita harus mengeluarkan biaya operasional secara rutin, jadi kami harus mencari modal cadangan lagi sampai bisa ekspor. ini yang menjadi kendala saat ini," jelas Maul, soal kendala yang dihadapi saat ini.

Sedangkan dari sisi kendala untuk rencana budidaya udang yang ingin ia lakukan di lahan seluas 10 hektar, hambatan datang dari segi pengetahuan dan Teknik budidaya serta permodalan. Maul mengungkap bahwa saat ini pihak perbankan belum memberikan kepercayaan untuk kelompoknya meminjam modal dengan nominal yang cukup besar.

"Kiranya Dinas Perikanan bisa bantu untuk akses permodalan, karena untuk lahan seluas 10 hektar semi intensif membutuhkan modal yang cukup besar, ini yang kami butuhkan dukungan untuk meyakinkan pihak bank" tanda maul.

Sementara itu menanggapi hambatan usaha dari budidaya kerapu yang hasil panennya tersendat dari segi pemasaran dan ekspor, pihak Pembina Koperasi Usaha Muda Inovatif, Sumindar menyatakan sudah mengupayakan solusi agar operasional kerapu tersebut bisa tetap berjalan dengan baik.

"Dengan kondisi seperti ini, kami membuka ruang bagi investor untuk bergabung dengan sistem bagi hasil hingga 30 persen, dengan modal investasi kurang lebih Rp500 juta,” tutup Sumindar.

Teknologi Digital Mulai Digunakan untuk Perikanan Budidaya Nasional

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini