Manfaatkan Limbah Elektronik, Ini Detail Pembuatan Medali Olimpiade Tokyo 2020

Manfaatkan Limbah Elektronik, Ini Detail Pembuatan Medali Olimpiade Tokyo 2020
info gambar utama

Topik mengenai Olimpiade Tokyo 2020 masih sangat menarik untuk dibahas, dan rasanya belum terlalu tepat untuk lepas dari pemberitaan saat ini. Terhitung sudah 3 hari perhelatan olahraga dunia ini digelar sejak tanggal 23 Juli, antusiasme dan semangat yang dimiliki baik dari masyarakat tanah air maupun kontingen Indonesia di Negeri Sakura nyatanya masih terus berlanjut.

Jika beberapa waktu lalu euforia yang dimiliki oleh masyarakat datang dalam bentuk menyambut persiapan, sekaligus menjadi waktu yang menegangkan bagi para atlet. Kali ini saat yang dinantikan akhirnya sudah tiba, dan dalam proses dilalui oleh jajaran atlet yang berjuang untuk mengharumkan nama bangsa.

Di balik antusiasme yang ada, harapan dari seluruh masyarakat termasuk atlet yang berpartisipasi di Olimpiade Tokyo 2020 sudah pasti sama, yaitu ingin mendapatkan hasil terbaik dari masing-masing cabang olahraga yang diikuti. Tak dimungkiri, keberhasilan kembali ke tanah air dengan medali yang terkalung di dada merupakan sesuatu yang diidam-idamkan oleh para kontingen.

Sampai tulisan ini dipublikasi, Senin, (26/07), Indonesia sendiri sudah berhasil meraih 2 medali dari cabor angkat beban. Pertama, medali perunggu yang berhasil dimiliki oleh atlet Windy Cantika di peringkat ketiga putri, kemudian medali perak yang didapat oleh Eko Yuli Irawan berkat keberhasilannya menduduki peringkat kedua di kelas 61kg putra.

Terlepas dari peraihan medali yang berhasil dimiliki oleh jajaran atlet asal berbagai negara, keberadaan medali yang menjadi hal penting dalam setiap gelaran Olimpiade tak pernah luput dari perhatian. Faktanya, selalu ada cerita dan makna unik dalam pengadaan medali di setiap Olimpiade yang berlangsung setiap musim.

Medali Pertama untuk Kontingen Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020

Fakta kandungan material medali Olimpiade dunia saat ini

Proses pembuatan medali perak Olimpiade Tokyo 2020
info gambar

Sekadar informasi bagi beberapa pembaca yang mungkin belum mengetahui, walau 3 medali yang ada pada Olimpiade umumnya dibagi menjadi kategori yaitu emas, perak, dan perunggu, faktanya ketiga medali tersebut tidak sepenuhnya terbuat dari material emas murni, setidaknya sejak tahun 1912.

Mengutip Westword.com, disebutkan bahwa olimpiade dunia yang masih memberikan medali emas dengan kandungan murni, kepada para pemenang setiap cabor terakhir dilakukan pada Olimpiade tahun 1912 di Stockholm.

Sedangkan menurut pedoman Olympic Charter yang juga dimuat dalam sumber yang sama, telah ditetapkan bahwa setidaknya harus ada sebanyak 6 gram emas yang terkandung dalam setiap medali emas untuk pemenang pertama dari masing-masing cabor yang dilombakan.

Sehingga jika ditelisik secara detail, disebutkan bahwa kandungan yang terdapat pada medali emas Olimpiade Tokyo 2020 saat ini mengandung 6 gram emas, dan sekitar 92,5 persen sisanya didominasi oleh perak.

Perubahan besar ini tentu dilakukan dengan beberapa alasan. Alasan yang paling utama pastinya untuk menghemat anggaran bagi negara yang mendapatkan kesempatan menjadi tuan rumah dari gelaran dunia ini. Kedua, kebijakan ini ditetapkan untuk meminimalisir pencurian medali emas murni, yang bisa dilebur menjadi emas batangan dan dijual dengan harga fantastis.

Mengenang Trio Srikandi, Peraih Medali Olimpiade Pertama untuk Indonesia

Adapun secara lengkap, berikut detail spesifikasi dari masing-masing medali yang ada pada gelaran Olimpiade Tokyo 2020, yang dimuat oleh Kompas.com.

Diameter: 85 milimeter

Ketebalan bagian tertipis: 7,7 milimeter

Ketebalan bagian paling tebal: 12,1 milimeter

Berat:

  • Medali emas - sekitar 556 gram
  • Medali perak - sekitar 550 gram
  • Medali perunggu - sekitar 450 gram

Komposisi:

  • Medali emas - 92,5 persen perak dan sisanya dilapisi dengan 6 gram emas
  • Medali perak - murni perak
  • Medali perunggu - 95 persen tembaga dan 5 persen seng
Ketika Indonesia Berhasil Kawinkan Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992

Pembuatan medali Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo yang libatkan seluruh rakyat Jepang

Pembuatan medali emas Olimpiade Tokyo 2020
info gambar

Sehubungan dengan olimpiade yang saat ini diselenggarakan di Jepang tepatnya Tokyo, rupanya ada fakta menarik sekaligus makna besar yang terkandung dalam proses pembuatannya yang memanfaatkan limbah elektronik dari seluruh rakyat Jepang.

Bukan kali pertama pembuatan medali merupakan hasil dari daur ulang limbah material yang mengandung bahan emas, perak, dan tembaga. Pada gelaran Olimpiade dan Paralimpiade Rio 2016 lalu, sebagian material yang digunakan juga berasal dari limbah elektornik dan sampah cermin usang.

Hal yang sama juga terulang dalam pembuatan medali di ajang Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo 2020, disebutkan bahwa persiapan yang dilakukan pemerintah Jepang dalam pembuatan sebanyak 5.000 medali yang terdiri dari medali emas, perak, dan perunggu, dengan memanfaatkan limbah elektronik bekas sudah dilakukan sejak tahun 2017.

Kala itu, proyek besar ini sudah dimulai sekitar bulan April dengan menyertakan partisipasi masyarakatnya untuk menyumbangkan limbah elektronik usang berupa ponsel, laptop, pc, dan konsol game yang sudah tidak terpakai.

Pelajar Indonesia Raih 6 Medali di Olimpiade Matematika Internasional
Proses daur ulang limbah elektronik di Jepang untuk pembuatan medali olimpiade Tokyo 2020
info gambar

Bahkan, pemerintah Jepang juga membuat penyebaran titik penjemputan untuk limbah elektronik yang sudah terkumpul di hampir 90 persen kota, kota kecil, dan desa di Negeri Sakura tersebut.

Hasilnya, limbah elektronik yang terkumpul diketahui terdiri dari 6,21 juta ponsel bekas yang berasal dari seluruh penjuru Jepang. Dan ketika melalui proses daur ulang yang panjang, berhasil diperoleh 70 pon (32 kilogram) emas, serta lebih dari 4.000 kilogram perak dan 2.000 kilogram perunggu.

Total kandungan emas, perak, dan perunggu tersebut nyatanya cukup untuk membuat sebanyak 5.000 medali, yang akan dibawa pulang sebagai bentuk penghargaan kepada para atlet asal berbagai negara yang berhasil menjadi juara di masing-masing cabor.

Melansir Dw.com, di saat yang bersamaan Jepang diketahui juga mengikutsertakan partisipasi masyarakat dengan mengadakan kompetisi terbuka untuk menentukan desain medali. Kompetisi desain medali tersebut akhirnya dimenangkan oleh seorang pria bernama Junichi Kawanishi.

Inovasi yang dilakukan oleh Jepang ini jelas sukses mencuri perhatian. Bagaimana tidak, walau konsep serupa sudah diterapkan pada Olimpiade Rio 2016, namun kala itu pemanfaatan limbah elektronik baru menyumbang sekitar 30 persen dari keseluruhan material yang diperlukan untuk membuat medali.

Sedangkan kali ini, Jepang menjadi negara pertama sebagai tuan rumah Olimpiade yang dalam pembuatan medali sepenuhnya memanfaatkan limbah elektronik, dan mengikutsertakan peran rakyatnya sekaligus sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Mengenal 28 Atlet Terbaik Indonesia yang Bakal Berjuang di Olimpiade Tokyo 2020

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini