Hikayat Pohon Afo, Awal Mula Penyebaran Cengkih dari Maluku hingga Afrika

Hikayat Pohon Afo, Awal Mula Penyebaran Cengkih dari Maluku hingga Afrika
info gambar utama

Saudagar-saudagar Melayu mengatakan bahwa Tuhan menciptakan Timor untuk kayu cendana, Banda untuk pala, dan Maluku untuk cengkih. Pohon komoditas ini tidak tumbuh di tempat lain di dunia kecuali di tempat itu. Daya tarik rempah-rempah (cengkih dan bunga pala) menjadi dorongan utama perkembangan perdagangan antar bangsa di Asia Tenggara.

Pakar tumbuh-tumbuhan menyatakan, bahwa cengkih (syzygium aromaticum) hanya tumbuh di Ternate, Moti, Makian, dan Bacan. Pala dan bunga merahnya diperoleh dari pohon pala (myritica fragrans) terdapat di Pulau Banda. Setelah tahun 1550 pohon-pohon ini ditanam di kawasan lain di Nusantara.

Melalui komoditi cengkih dan pala, dapat ditelusuri jalur-jalur pelayaran dan perdagangan, juga seberapa jauh hubungan Maluku dengan dunia luar. Sebuah sumber tertulis Romawi dari Plinus Major (tahun 75 Masehi) menyebutkan garyophyllon--sebutan cengkih pada zaman itu--telah dikenal di benua Eropa pada awal abad Masehi.

Namun, jauh sebelum itu pada sebuah ekskavasi arkeologis di Terqa, suatu situs di Mesopotamia--sekarang Syria--ditemukan vas bunga yang penuh berisi cengkih. Vas bunga ini ditemukan pada sebuah ruangan dapur rumah sederhana yang berasal dari sekitar tahun 1700 SM. Walau tentunya masih banyak perdebatan yang muncul.

"Ini sebenarnya sudah banyak yang membantah katanya itu bukan cengkih karena kelopaknya ada lima. Tapi melihat ada temuan pitolit pisang sampai di Situs Kor Diji (Pakistan) dari sekitar 4.000 tahun yang lalu, mungkin saja cengkih sudah sampai ke Terqa," ucap Daud Aris Tanudirjo, arkeolog Universitas Gajah Mada (UGM), dalam Historia.

Jalur Rempah Nusantara Ada di Pulau Seram

Kerajaan Roma kuno membeli lada dan kayu manis dari India dan East Indies--nama Indonesia zaman penjajahan dulu. Rempah-rempah lainnya dari East Indies sudah mencapai Roma melalui Afrika Timur. Pada abad ke-2000 SM, Nusantara telah menjadi urat nadi perdagangan laut antara dunia barat dan timur.

Komoditas yang diperjualbelikan kala itu termasuk cengkih dan jenis rempah lainnya. Masyarakat Maluku juga memperdagangkan cengkih sampai ke Arab, India, dan China, pada abad 200 SM. Dapat diketahui bahwa rempah-rempah dari Indonesia itu sudah memberi sumbangan bagi kemajuan peradaban dunia.

"Selain menambahkan cita rasa ke potongan daging kering dan asin atau melarutkan rasa asin ikan yang itu-itu saja, rempah juga digunakan untuk berbagai tujuan seperti memanggil Tuhan dan mengusir setan, menyembuhkan penyakit atau mengusir wabah..," tulis Jack Turner dalam bukunya yang berjudul Sejarah Rempah dan Erotisme Sampai Imprealisme.

Rempah memiliki jenis yang beragam. Dalam bukunya, Turner mengutip katalog dagang dari abad ke-14 yang ditulis saudagar dari Florance, Francesco Balducci Pegolotti, yang mencantumkan tak kurang 188 jenis rempah. Di antara semuanya, cengkih dan pala termasuk bunganya memiliki daya tarik paling kuat dan bernilai lebih dari emas.

"Cengkih dan kadang-kadang pala dan bunga pala disebut di dalam catatan perdagangan di Kairo dan Alexandria sejak abad ke-10, tapi semuanya itu sangat jarang dan mahal di Eropa hingga akhir abad ke-14. Orang Tiongkok juga mengenal cengkih dan pada masa Dinasti Tang tetapi menggunakannya dengan hemat sebelum abad ke-15," ungkap Anthony Reid, sejarawan terkemuka dalam bukunya berjudul Southeast Asia in the Age of Commerce.

Cengkih layaknya harta karun

Bagaikan emas dan permata, harum dan kehangatan cengkih menjadi harta karun berharga di abad ke 15. Hal ini memunculkan perebutan bangsa-bangsa besar seperti Portugis, Spanyol, dan Belanda. Mereka rela berlayar mengarungi ombak besar, membelah laut dari barat ke wilayah Timur hingga sampai di tanah Maluku Utara.

Sejarah mencatat kedatangan bangsa Portugis di wilayah Maluku Utara, tepatnya ke Ternate, pada 1512. Tujuannya mencari dan menemukan pulau rempah-rempah. Pada masa itu, Sultan Bayanullah memberikan hak kepada Portugis untuk melakukan perdagangan rempah-rempah termasuk sang primadona, cengkih.

Sampai sekarang, Maluku Utara--termasuk Ternate--masih menjadi daerah penghasil rempah-rempah, termasuk cengkih. Padahal pada masa perusahaan dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang saat itu berkuasa di pulau ini di abad ke-17 hingga ke-19, memerintahkan untuk menebang pohon-pohon cengkih dan pala.

5 Provinsi Produsen Cengkih Tertinggi di Indonesia

Kebijakan bernama extirpatie, ini memusnahkan pohon-pohon cengkih dan pala. Warga pribumi pada masa itu juga tidak diperbolehkan menanam dan atau memelihara pohon-pohon rempah dengan tujuan agar menjaga monopoli perdagangan rempah dunia. Saat itu Belanda menggunakan sistem pelayaran Hongi untuk memantau kerajaan-kerajaan di Maluku.

Kebijakan ini dilakukan, lantaran mulai 1652 harga rempah-rempah di pasar internasional mengalami penurunan tajam. Untuk mendongkrak harganya, produksinya dikurangi dan pohon-pohon cengkih ditebang. Akan tetapi, lebatnya pepohonan di Gunung Gamalama, memungkinkan masyarakat lokal menyelamatkan pohon cengkih.

Cengkih Afo, pohon cengkih tertua di dunia

Terletak di Desa Tongale, pohon cengkih Afo yang berusia sekitar 200 tahun masih berdiri dengan kokohnya. Ini merupakan pohon cengkih tertua yang ada di tanah Maluku Utara, atau mungkin di dunia. Sebenarnya ada tiga pohon cengkih Afo, yang berusia 500 tahun (Cengkih Afo 1), 250 tahun (Cengkih Afo 2), dan 200 tahun (Cengkih Afo 3).

Sayangnya cengkih Afo 1 sudah tumbang di 2001 silam, dan Cengkih Afo 2 tumbang di 2019. Kini hanya tersisa Cengkih Afo 3 yang masih berdiri kokoh dan memproduksi bunga cengkih setiap tahunnya, meskipun tidak banyak.

Konon pada zaman penjajahan dulu, pohon ini sengaja ditanam di dalam rimbunnya hutan di lereng Gunung Gamalama. Tersembunyi di balik pepohonan tinggi besar yang dikenal dengan nama pohon Afo. Oleh karena itu, sekarang masyarakat mengenal pohon cengkeh tertua ini dengan nama Cengkih Afo.

Belakangan diketahui, bahwa Cengkih Afo merupakan varietas cengkih dengan kualitas tertinggi. Hingga bibitnya menjadi bibit induk dari pohon-pohon cengkih yang tersebar di daratan Maluku Utara, bahkan Nusantara.

Rempah Indonesia: Inilah Riwayatnya yang Mengubah Dunia

"Cengkih terbanyak di dunia, di Zanzibar (Afrika) juga (bibitnya) berasal dari Cengkih Afo ini. Pada 1770, bibit itu diselundupkan seorang warga Prancis ke Zanzibar," Cerita Jauhar Mahmud, Ketua Komunitas Cengkih Afo and Gamalama Species, seperti ditulis Econusa.

Jauhar juga menjelaskan bahwa bunga dari Cengkih Afo memiliki kualitas tertinggi, karena memiliki struktur yang padat, kadar air yang rendah, daya susut cenderung rendah. Rasanya relatif lebih pedas bila dibandingkan dengan bunga cengkih jenis lainnya. Itu sebabnya harga Cengkih Afo menduduki peringkat tertinggi di antara jenis-jenis cengkih pesaingnya.

Cengkih Afo jadi destinasi wisata

Saat ini, kawasan di sekitar Cengkih Afo dikelola oleh warga desa di bawah naungan Komunitas Cengkih Afo and Gamalama Spices. Wilayah ini dibangun menjadi ekowisata sejarah berbasis masyarakat. Komunitas ini juga tidak memperbolehkan penggunaan plastik sekali pakai untuk menjaga kelestarian ekosistem.

Saat Anda mendaki bukit Cengkih Afo yang telah disulap menjadi destinasi wisata jalur rempah, akan membuat perjalanan terasa menyenangkan, bagaikan mencumbu dan menyingkap kembali tabir kejayaan rempah-rempah Nusantara tempo dulu. Selain pohon cengkih, bukit ini juga ditumbuhi komoditas rempah lain, seperti pala dan kayu manis.

Tentunya yang membuat perjalanan makin berkesan, pengunjung bisa dimanjakan suguhan kopi dan teh berbahan rempah. Termasuk melihat langsung teknik memasak Rimo-rimo yang dikerjakan sekelompok ibu-ibu. Rimo-rimo adalah aneka makanan yang disajikan dengan proses pemanggangan dan diolah dengan campuran rempah-rempah terbaik Maluku Utara.

Produksi Cengkih Indonesia Diperkirakan Membaik Tahun Ini

Komunitas cengkih Afo juga mengajak kelompok tani setempat untuk bertani di kawasan wisata Cengkih Afo dengan sistem tumpangsari. Hal ini bertujuan agar manfaat dan keberkahan yang didapat dari wisata Cengkih Afo dapat dirasakan oleh berbagai pihak.

"Kita tidak bisa diam, kita harus menjaga Cengkih Afo ini. Untuk itu kita mengundang orang agar suka dengan alam rempah-rempah dan tidak melupakan sejarah. Saya tidak menawarkan view, tapi saya menawarkan alam dan cerita rempah-rempah," tutup Jauhar.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini