Lebah Klanceng Sang Sinar Harapan untuk Biodiversitas di Sudut Ibu Kota

Lebah Klanceng Sang Sinar Harapan untuk Biodiversitas di Sudut Ibu Kota
info gambar utama

Jakarta merupakan gudang sejarah, kuliner bersahaja, dan menyimpan budaya menawan. Jakarta bisa menjelma menjadi tempat konservasi, terbukti dengan adanya Kebun Binatang Ragunan yang melindungi beragam fauna, atau Seaworld di Taman Impian Jaya Ancol yang mengingatkan kita akan kekayaan samudra.

Mari menggali harta tersembunyi Jakarta berupa tempat konservasi nan asri di sudut barat kota metropolitan ini. Kawan dapat menemukan sebuah petak seluas 15 hektar yang ditumbuhi pohon lebat di antara rumah penduduk dan deretan toko. Tempat tersebut adalah Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat.

Hutan Kota Srengseng merupakan ruang terbuka hijau yang diresmikan oleh pemerintah DKI Jakarta pada tahun 1995. Hutan yang layak dijuluki sebagai ‘Paru-paru Jakarta Barat’ ini juga memiliki fungsi lain yang penting bagi kelestarian lingkungan, yakni menyimpan plasma nutfah dari berbagai jenis tumbuhan dan sejumlah satwa.

Hutan Kota Srengseng ditumbuhi ratusan jenis pohon dan ditempati oleh satwa, seperti biawak, burung air raja udang, ular, dan sebagainya. Hal tersebut meneguhkan fungsinya sebagai tempat konservasi.

Penghuni baru di Hutan Kota Srengseng

Potret lebah di bunga | Foto: Pengetahuan Bertani
info gambar

Pada awal tahun 2020 lalu, Hutan Kota Srengseng kedatangan penghuni baru, yakni tiga spesies lebah trigona atau lebah kranceng. Hal ini tentu menjadi berita baik mengingat lebah klanceng merupakan satwa endemik Indonesia, dan kini sedang menghadapi penurunan jumlah secara drastis di alam.

Lebah klanceng merupakan lebah bertubuh mungil yang berasal dari genus Trigona dan tidak memiliki sengat. Fakta bahwa lebah ini berwatak cukup ‘ramah’ dan tidak memiliki sengat membuat para ranger dan pengunjung suka bertamu ke rumah para lebah.

Lebah klanceng tersebar di berbagai daerah di Indonesia, yakni Pulau Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Namun, lebah ini juga hidup di negara lain seperti Australia, Brazil, dan Malaysia. Ada tiga spesies lebah kranceng yang pindah rumah ke Hutan Kota Srengseng, yakni trigona itama, trigona torasika, dan trigona biroi.

Kawan dapat mengikuti atraksi menarik jika berkunjung ke Hutan Kota Srengseng, khususnya ke ‘rumah’ lebah klanceng. Pada hari tertentu, saat hutan sedang sepi pengunjung atau di akhir minggu, para ranger memperbolehkan pengunjung untuk mencicipi madu langsung dari sarang lebah klanceng.

Berbekal sedotan kecil, Kawan dapat mengisap cairan manis dari relung berbentuk bulat yang disusun oleh koloni lebah kranceng. Kawan dapat merasakan sensasi geli mengingat lebah-lebah berukuran kecil ini terbang mondar-mandir di sisi tubuh Kawan. Namun, ketika berhasil menghisap madu tersebut, Kawan akan terkejut dengan rasanya yang lezat, manis, dan memiliki sentuhan rasa asam yang menyegarkan.

Menurut para ranger, madu yang dihasilkan oleh lebah klanceng memiliki rasa yang unik dan khasiat yang lebih baik dibanding madu yang dihasilkan lebah biasa. Madu lebah klanceng juga dibanderol dengan harga yang lebih mahal, yakni mencapai Rp200.000 untuk beberapa milliliter.

Hal itu disebabkan oleh produksi madu lebah klanceng yang sedikit dan jarang, dimana dalam seminggu hanya dapat dihasilkan sekitar 100 sampai 200 mililiter madu. Selain madu, lebah klanceng juga menghasilkan propolis atau getah lebah yang biasa digunakan untuk produk kecantikan. Kelebihan yang dimiliki oleh lebah klanceng menjadikan lebah ini istimewa dan bernilai tinggi.

Budidaya biodiversitas lebah

Penempatan koloni lebah klanceng | Foto : Dokumentasi Pribadi
info gambar

Kehadiran lebah klanceng di Hutan Kota Srengseng, dan pertemuan mereka dengan para ranger dan pembudidaya yang bertanggung jawab merupakan berita baik. Saat ini, populasi lebah dikabarkan turun hingga 57 persen akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.

Perubahan iklim mengakibatkan kenaikan suhu bumi yang tidak cocok dengan kondisi optimal pertumbuhan dan perkembangbiakan lebah. Kerusakan lingkungan mengurangi jumlah tumbuhan bernektar sehingga lebah kekurangan asupan makanan.

Penurunan populasi lebah kian parah akibat pencurian koloni lebah dan transaksi secara tidak adil oleh beberapa oknum. Mengingat nilai ekonomi lebah klanceng yang tinggi, pencurian koloni yang diikuti oleh kematian koloni lebah akibat perawatan yang tidak baik tentunya dapat terjadi.

Oleh karena itu, sejumlah investor dan pemerintah berinvestasi ke koloni lebah klanceng dan menitipkannya di Hutan Kota Srengseng. Hutan yang satu ini memiliki banyak pohon berbuah, tumbuhan berbunga, dan sumber resin yang dapat menyebabkan lebah klanceng dapat hidup sejahtera.

Tak ada penebangan, pembakaran, atau tindakan merusak alam lain di hutan ini karena dijamin ketat oleh peraturan daerah. Hutan Kota Srengseng juga dijaga oleh para ranger yang bertanggung jawab dan memiliki rasa cinta besar pada alam.

Keberadaan Hutan Kota Srengseng dan koloni lebah klanceng di dalamnya menorehkan status baru bagi ibu kota Jakarta. Selain sebagai ibu kota yang gagah dan kota metropolitan yang gemilang, Jakarta juga menjadi harapan baru untuk konservasi sumber daya alam Nusantara.

Para ranger menjadi representasi warga Jakarta yang peduli dengan keberlanjutan lingkungan. Budidaya lebah klanceng di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat, menghadirkan harapan baru untuk kelestarian biodiversitas Indonesia.*

Referensi:Portal Resmi Provinsi DKI Jakarta | Kompas.com | Merdeka.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DS
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini