Inovasi Piring Ramah Lingkungan dari Pelepah Pinang yang Berdayakan Petani

Inovasi Piring Ramah Lingkungan dari Pelepah Pinang yang Berdayakan Petani
info gambar utama

Alasan praktis dan murah membuat kita terbuai menggunakan produk berbahan plastik, serta stirofoam sebagai wadah makanan. Rupanya, di balik kemudahan tersebut muncul konsekuensi lingkungan karena limbah keduanya sangat sulit untuk terurai secara alami.

Plastik memerlukan waktu 1000 tahun lamanya, sementara stirofoam tidak dapat terurai secara alami. Stirofoam juga mengandung zat stirena yang dapat mengontaminasi makanan sehingga berbahaya bagi kesehatan.

Keprihatinan akan masalah tersebut mendorong diciptakanya produk alternatif dari bahan yang aman bagi lingkungan, maupun kesehatan seperti pelepah pinang (arecha catechu). Berawal dari penelitian yang dilakukan oleh dosen Teknologi Industri Pertanian Universitas Jambi, pelepah pinang dipilih karena pemanfaatanya belum maksimal dan hanya dianggap sebagai limbah perkebunan.

Ide untuk membuatnya menjadi piring datang dari kebiasaan masyarakat setempat yang menggunakan pelepah pinang sebagai pembungkus bekal saat berladang. Didirikanlah Rumah Jambe-e sebagai rumah produksi untuk mengembangkan hasil penelitian.

Proses pembuatan pelepah pinang jadi piring

Pelepah pinang yang dapat diolah menjadi kerajinan piring. | Foto: instagram.com/rumahjambee
info gambar

Untuk membuat piring, pertama-tama pelepah dibersihkan dan dijemur. Kemudian, pelepah yang dipotong seperti lembaran dimasukan ke mesin pencetak dengan tekanan bersuhu tinggi untuk membentuknya menjadi piring.

Tekanan juga mengurangi kadar air dalam pelepah sampai di bawah 10 persen agar produk dapat bertahan lama. Mesin pencetak tersebut dirakit sendiri oleh Rumah Jambe-e untuk keperluan produksi piring.

Longser, Seni Tari Tradisional Penuh Banyolan dari Jawa Barat

Bentuk yang dihasilkan beragam dari piring bulat, piring persegi, sampai mangkok. Piring juga memiliki corak yang terbentuk alami dari pelepah tanpa penambahan bahan kimia. Harga jualnya berkisar Rp2.000 sampai Rp3.000 per buah dan rata-rata terjual 2.000 buah dalam sebulan. Pesanan juga datang dari mancanegara yaitu Singapura dan Korea Selatan.

Ketika menjadi limbah, piring pelepah tidak membahayakan lingkungan karena hanya membutuhkan waktu dua bulan untuk terurai. Selain itu, tampilan alami piring pelepah memiliki nilai estetis yang sesuai dengan tren produk 'kembali ke alam'. Contohnya, besek anyaman bambu kembali marak digunakan oleh pelaku usaha untuk menambah nilai estetika produk sekaligus bentuk kepedulian lingkungan.

Perkembangan industri pinang

Jambi adalah provinsi pinang. Namanya sendiri berasal dari kata jambe yang berarti pinang dan memiliki flora identitas provinsi berupa pinang merah. Luas perkebunan pinang di Jambi pada tahun 2017 mencapai 17.969 hektare yang tersebar di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dan Kabupaten Muaro Jambi.

Kebun-kebun tersebut menghasilkan buah pinang yang bijinya (areca nut/betel nut) menjadi komoditas ekspor unggulan di Jambi. Jambi juga memiliki pinang betara yang memiliki buah besar dengan kadar air rendah sehingga ditetapkan sebagai varietas unggul sejak tahun 2013.

Filosofi Kopi Leworook Khas Flores Timur 

Bahkan, digadang-gadang sebagai yang terbaik di dunia. Pinang sendiri dimanfaatkan di luar negeri sebagai permen kesehatan serta bahan baku kosmetik.

Sayangnya pandemi COVID-19 membuat permintaan pinang dari negara tujuan ekspor terbesar seperti India, Bangladesh, dan Cina menurun. Melansir Kompas, ekspor pinang dari Jambi yang semula bernilai 15 juta dollar AS pada April 2021 turun menjadi 10,3 juta dollar AS pada Mei. Petani kembali menelan pil pahit dengan anjloknya harga pinang yang semula Rp12.000 menjadi Rp7.000 per kilogram.

Buah pinang berisi biji bernilai ekspor. | Foto: flickr.com/Reloaded
info gambar

Di saat sulit tersebut, petani mendapatkan pendampingan untuk memanfaatkan pelepah pinang dari Rumah Jambe-e dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Jambi. Pelepah yang semula hanya digunakan untuk mainan anak-anak, dan biasa dibakar sebagai limbah kini memiliki nilai jual setelah diolah sebagai kerajinan.

Porang, Komoditas Ekspor yang Sedang Populer dan Menjanjikan Bagi Petani Indonesia

Petani dibekali dengan mesin pencetak piring yang penggunaanya praktis dan dimotori dengan kompor atau tabung gas. Mesin awalnya berkapasitas daya 4.000 watt, dan sengaja dimodifikasi agar sesuai dengan skala rumahan. Hasil dari kerajinan pelepah pinang yang dibuat petani kemudian akan disalurkan ke Rumah Jambe-e untuk dipasarkan secara daring.

Harapanya, piring pelepah dapat menjadi alternatif penggunaan plastik dan stirofoam sebagai wadah makanan dan turut menjadi solusi dari permasalahan sampah di negeri ini. Semakin banyaknya inovasi berupa produk ramah lingkungan menunjukan itikad baik kita untuk memperbaiki hubungan dengan lingkungan.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FW
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini