4 Jenama Fesyen Lokal yang Konsisten Lestarikan Wastra Nusantara

4 Jenama Fesyen Lokal yang Konsisten Lestarikan Wastra Nusantara
info gambar utama

Beberapa tahun silam, kain tradisional seperti batik, tenun, atau songket, terkesan kaku dan formal. Biasanya, kain-kain tersebut hanya dipakai untuk pergi ke acara penting macam kondangan. Namun, saat ini, sudah banyak perancang busana dan jenama lokal yang membuat pakaian ready to wear dengan wastra Nusantara.

Kini, kain khas Indonesia telah menjadi bagian dari tren fesyen di Tanah Air. Tak perlu menunggu pesta, pakaian dari kain tradisional sudah bisa dipakai sehari-hari, dari busana kerja hingga pakaian santai. Model pakaiannya pun semakin beragam dan mengikuti tren.

Berikut empat jenama fesyen lokal yang memiliki koleksi pakaian dari wastra Nusantara:

Lekat

Salah satu jenama fesyen lokal yang patut diapresiasi ialah Lekat. Didirikan oleh Amanda Lestari, sejak tahun 2013 Lekat fokus dan konsisten mengangkat tenun Baduy untuk menjadi pakaian ready to wear.

Amanda memilih tenun Baduy yang motifnya geometris, repetitif, pola tidak rumit, dan warnanya yang dapat dipadupadankan dengan mudah. Desain kontemporer bernuansa etnik pun mendominasi koleksi rancangan Lekat.

Jenama Lekat bisa jadi pilihan bagi para wanita yang ingin tampil dengan kain tradisional tapi tetap terlihat edgy dan modern. Beberapa produk Lekat antara lain atasan, gaun, celana, rok, jumpsuit, luaran, hingga tas dan sepatu.

Pesona Wastra Indonesia, Lebih dari Sekadar Kain Penutup Tubuh

Sejauh Mata Memandang

Masih ingat selendang bermotif ayam jago yang digunakan tokoh Cinta (Dian Sastrowardoyo) dalam film “Ada Apa Dengan Cinta? 2” Ya, itu adalah salah satu koleksi paling populer dari jenama Sejauh Mata Memandang.

Chitra Subyakto adalah perancang busana di balik jenama tersebut. Ciri khas Sejauh Mata Memandang ialah warna-warna cerah dengan motif unik, yang terinspirasi dari ayam jago dari mangkuk mi ayam, ikan, daun semanggi, sawah, hingga cerita timun mas.

Tak sekedar main warna dan motif, mungkin banyak yang belum tahu bahwa kain yang digunakan Sejauh Mata Memandang ialah batik. Memang batik yang digunakan cenderung kurang umum karena bukan bermotif klasik. Namun, kembali lagi kepada konsep batik yang dilihat dari teknik pembuatannya, yaitu tulis dan cap.

Menurut keterangan sang desainer, ia memang sengaja tidak menampilkan motif batik konvensional agar lebih menarik perhatian anak muda. Untuk kainnya sendiri, dibuat dengan pewarna alami yang tidak berbahaya untuk lingkungan serta berasal dari pengrajin dari Jawa, Bali, hingga Sumba.

Dari kain-kain tersebut, Chitra menyulapnya menjadi pakaian dengan model longgar, termasuk celana, kemeja, tunik, kebaya, jaket, terusan, luaran, dan bolero. Selain pakaian, ada juga kain, bandana, tas, celemek, table runner, serbet, tatakan gelas, sarung galon, hingga masker. Tersedia pula busana untuk pria dan anak-anak.

Tak Hanya Batik, Inilah Jenis Kain Tradisional Asli Indonesia yang Mendunia

Lulu Lutfi Labibi

Lulu Lutfi Labibi merupakan seorang perancang busana asal Yogyakarta yang identik dengan busana-busana berbahan lurik. Lurik merupakan tenun bermotif garis-garis yang terkenal di Jawa.

Di tangan Lulu, lurik menjadi busana yang unik dan desainnya pun menarik. Seringkali, Lulu membuat pakaiannya dengan teknik draping, di mana kain dililit, ditumpuk, dan diikat. Salah satu yang jadi inspirasinya ialah konsep Wabi-Sabi dari Jepang yang mengedepankan keindahan dalam ketidaksempurnaan.

Selain lurik, Lulu juga sering mengeksplorasi wastra lain seperti tenun Kupang, batik tulis, hingga membuat desain untuk batik cap.

Mengenal Griya Kain Tuan Kentang dan Kain Tenun Palembang yang Mendunia

Ikat Indonesia

Tahun 2011, perancang busana kenamaan Tanah Air, Didiet Maulana, membuat jenama Ikat Indonesia. Konsep yang diangkat ialah membawa kekayaan budaya Indonesia ke dalam fesyen modern. Koleksi pertamanya menampilkan kesederhanan.

Selama berkarya, Ikat Indonesia telah berkolaborasi dengan jenama internasional, seperti Starbucks, Disney, dan Mattel yang memproduksi Barbie. Tak hanya itu, Ikat Indonesia juga pernah bekerjasama dengan Garuda Indonesia untuk memproduksi seragam untuk para awak kabin.



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini