Bukti Cinta di Balik Kemegahan Mausoleum OG Khouw Petamburan

Bukti Cinta di Balik Kemegahan Mausoleum OG Khouw Petamburan
info gambar utama

Ditengah gemerlapnya Metropolitan Jakarta, terdapat sebuah bangunan hitam tinggi menjulang yang terlihat megah di antara batu-batu nisan lainnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Petamburan, Jakarta Pusat. Dari kejauhan, bangunan ini layaknya gazebo raksasa dengan pilar-pilar jangkung berbahan batu granit di sekelilingnya.

Di tengah bangunan itu terdapat patung malaikat. Ketika mendekat ke bagian dalam, dua makam terbujur berdampingan di dalamnya. Itu lah makam Oen Giok (OG) Khouw beserta istri. Seorang konglomerat di masa Hindia Belanda. Mereka bersemayam di bangunan megah yang bernama Mausoleum.

Dilihat dengan mata telanjang, Mausoleum OG Khouw memang mewah bukan main. Mousoleum ini diketahui memiliki tinggi 15 meter yang dilapisi oleh tiang dan dinding marmer ekspor dari Italia yang menjadi pelindung dari abu jenazah di bawahnya. Belum lagi kehadiran empat patung penjaga di empat penjurunya.

"Konon mausoleum ini adalah yang termegah di Asia Tenggara, ongkos pembuatannya mencapai Rp3 miliar kala itu, bahkan lebih megah dari makam Rockefeller (pebisnis minyak AS) yang adalah orang terkaya masa itu," cerita Adjie Hadipriawan, Ketua Komunitas Love Our Heritage, seperti dikabaran Detikcom.

(4 Maret 1621) - Pemerintahan Kota Batavia Berdiri

Pembangunan Mausoleum itu dilakukan oleh istri OG Khouw. Lim Sha Nio selama empat tahun (1927-1931). OG Khouw sendiri wafat di Ragaz, Swiss pada 1 Juli 1927. Empat patung asal Italia bergaya Neorenaisans mengelilingi bangunan Mausoleum, yang melambangkan masa kehidupan manusia, yakni masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan lanjut usia.

Mengutip dari National Geographic, seorang warga Delft yang menggemari arsitektur Hindia, Oliver Johannes Raap, mengatakan arsitektur bangunan ini bergaya campuran, yakni "Campuran Historisme dan Art Deco". Pada awal abad 20, memang munculnya gaya ini di latarbelakangi semangat mengembalikan elemen gaya klasik.

Selain itu, kemudahaan mendapatkan material, seperti beton, besi, baja, dan kaca, telah membebaskan arsitektur dari batasan-batasan material abad silam. Perubahan cara pandang karena ketersedian material ini didasarkan kebutuhan hidup peradaban manusia. Di samping itu kita bisa menyaksikan bentuk "tiga tahap" yang berkarakter gaya Art Deco.

"Penggunaan elemen Art Deco, menceritakan bahwa pendiri makam ini tidak mau dianggap ketinggalan zaman, namun sebagai lambang keabadian," ucap Oliver.

Patung malaikat pada sisi makam ini merupakan lambang agama Kristen. Patung ini sebagai simbol kehidupan setelah wafat.

"Alkitab menceritakan tentang malaikat pada sisi makan Yesus, yang membawa pesan untuk para pengunjung: Yang Anda cari tidak ada di sini. Ia telah bangkit," pungkasnya.

Dahulu, Mausoleum ini memiliki sebuah pintu kayu jati bergagang kuningan yang menjadi pelindung akses masuk ke dalam makam. Namun, karena faktor waktu dan vandalisme, akhirnya pintu itu dicopot dan diganti jeruji besi.

Masuk ke dalam Mausoleum, tampak sebuah ruangan kecil yang melingkar dengan penerangan seadanya berdinding marmer. Di salah satu sisinya terpampang marmer berwajah O.G Khouw dan istrinya Lim Sha Nio. Sayangnya, pasangan ini tidak memiliki keturunan, sehingga tidak ada yang menjaga keberlangsungan Mausoleum ini.

Sosok OG Khouw

Pada awal abad ke-20, sosok O.G Khouw begitu terpandang. Dia merupakan anak dari Lieutenant (Letnan) Titulair China, Khouw Tjeng Kee (1832-1883), yang memiliki tanah-tanah partikelir di Tambun, Bekasi. Sampai hari ini kediaman Sang Letnan masih menjadi tengara di dekat Stasiun Bekasi.

O.G Khouw tidak menjabat sebagai opsir China layaknya sang ayah, dirinya mendapat pendidikan Belanda sejak kecil. Ia merupakan bagian dari generasi pertama Tionghoa peranakan yang menerima pendidikan serta berbahasa Belanda. Mulai dari akhir abad ke-19, dirinya lebih banyak menghabiskan waktunya di Eropa.

Oleh Ratu Wilhelmina, OG Khouw mendapat kehormatan sebagai perwakilan orang Tionghoa di Hindia Belanda. Saat itu dirinya pun meminta permohonan naturalisasi sebagai warga Negara Belanda, yang kemudian dikabulkan pada Juli 1908. Sejatinya tidak mudah bagi seorang Tionghoa di Hindia Belanda untuk menjadi seorang warga negara Belanda.

Memang selama perjalanan sistem kolonial, Khouw meminta persamaan hak dengan bangsa Eropa. Maka namanya lebih sering disebut sebagai OG Khouw. Padahal sebagai warga Tionghoa, nama yang benar adalah Khouw Oen Giok. Karena itu juga tidak aneh kalau dirinya memiliki sebuah Mausoleum layaknya orang Eropa.

Gejolak Bumi di Batavia Tempo Dulu

Khouw juga dikenal sebagai seorang dermawan, baik di Hindia Belanda maupun Negeri Belanda. Namun sedikit catatan tentangnya yang sampai pada kita. Salah satu jiwa filantropi Khouw untuk anak-anak Tionghoa di Batavia adalah, Dia menyediakan rumahnya yang berada di daerah Pinangsia untuk digunakan sebagai Hollandsch Chinnessche School (HCS) pertama di Batavia pada 1908.

Inilah pendidikan sekolah dasar untuk anak-anak Tionghoa yang pengantar lisan maupun tulisannya berbahasa Belanda. Sekolah ini selevel pada tingkat sekolah dasar pada zaman sekarang. Pendirian HCS juga memiliki impilikasi politik terhadap kebijakan pemerintah Hindia Belanda kepada komunitas Tionghoa.

Khouw juga pernah tercatat sebagai donatur Roode Kruis--Palang Merah Belanda sebesar--40.000 gulden pada tahun 1915 saat terjadi Perang Dunia I (1914-1918) yang terjadi di Eropa. Beberapa sumber juga menyebut, bahwa Khouw terlibat sebagai ketua penggalangan dana Jang Seng Le, Sebuah poliklinik yang melayani masyarakat Batavia sejak 1924.

Bukti cinta dari pemakaman

Pesona Mausoleum ini menyeruak di permakaman yang sunyi. Surat kabar Soerabaiasch Handelsblad terbitan 6 Oktober 1932, merilis bahwa Gubernur Jenderal, perwakilan Susuhunan Pakubuwana, bersama lebih dari 42.000 pihak berkepentingan lainnya telah mengunjungi dan mengagumi karya ini.

Inilah bangunan penanda zaman berupa Mausoleum cinta. Nyonya Khouw telah membangun makam megah yang didirikan untuk menunjukan rasa cinta yang mendalam terhadap pasangan hidupnya. Hal ini sangat jelas terlihat dari batu nisan yang tertulis gewijd atau dedikasi kepada OG Khouw.

Setelah kepergian Khouw selama 30 tahun, jandanya wafat pada 18 Desember 1957. Nyonya Khouw telah mempersiapkan makamnya sendiri di sisi kiri suaminya. Jelang satu abad usia Maousoleum Khouw, kemegahan itu masih menyala-nyala di TPU Petamburan. Keberadaannya bersanding dengan makam-makam Eropa pada abad yang silam.

Beberapa marmer sengaja dipecahkan oleh perilaku manusia, diduga upaya pencurian nisan marmer yang marak pada 1970-an. Bagian interior langit-langit mausoleum pun tampak sedikit kotor. Lampu yang tepat ada di atas nisan pun malah menjadi sarang burung. Selain itu, adanya sistem drainase yang tak lagi berfungsi karena setiap hujan deras, rubanah selalu tergenang dengan air hujan.

Indonesia Graveyard, Komunitas yang Belajar Sejarah dari Kuburan

Kendati berada di TPU, makam OG Khouw sempat terbengkalai selama puluhan tahun. Bahkan, banyak orang yang tidak tahu sejarah dan siapa yang dimakamkan di sana. Namun, selama beberapa tahun terakhir, banyak komunitas pencinta sejarah dan budaya mulai berusaha untuk menyelamatkan makam tersebut.

Sebuah warisan di balik kemegahan mausoleum kepada kita, sebagai penanda zaman yang megah tapi seolah terbengkalai perlindungan cagar budaya. Akankan ia tetap lestari sebagai bagian riwayat jejak peranakan Tionghoa di Jakarta?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini