Kisah Gereja Katolik di Jakarta yang Berubah Menjadi Tempat Isoman Pasien Covid-19

Kisah Gereja Katolik di Jakarta yang Berubah Menjadi Tempat Isoman Pasien Covid-19
info gambar utama

Kabar gembera berembus dari pusat Pastoral KAJ Samadi, Klender, Jakarta Timur. Romo Yustinus Ardhianto selaku pimpinan Samadi menyampaikan bahwa 9 orang telah dinyataan negatif pada 16.45 WIB pada 13 Juli 2021. Seperti diketahui sejak beberapa waktu lalu Samadi menjadi tempat isolasi mandiri pasien Covid-19.

"Mari teman-teman yang lain tetap optimis... banyak istirahat, makan yang sehat, air putih, obat/vitamin. Semua bisa sembuh... Semangat," ujar Romo Yustinus.

Saat masa kenaikan kasus Covid-19, Pusat Pastoral KAJ Samadi di Jakarta Timur ini memang memutuskan untuk mengubah tempatnya menjadi ruang isolasi untuk merawat pasien Covid-19. Keputusan ini diubah di tengah banyak rumah sakit di kawasan ibu kota yang kewalahan akibat terus bertambahnya jumlah pasien Covid-19.

Romo Yustinus, pastor Katolik yang bertanggung jawab di fasilitas tersebut, mengatakan setidaknya 90 suster, pendeta, dan staf lainnya merawat sekitar 60 pasien di Wisma Samadi. Sebanyak 75 ruangan dipersiapkan untuk menampung pasien yang mayoritas menunjukan gejala ringan.

"Bagi saya, proses penyembuhan tidak hanya obat tapi juga lingkungan yang nyaman, tutur Romo Yustinus yang mengaku pernah terpapar virus Corona, seperti dikabarkan ABC (28/7/2021)

Aksi Gerakan Sejuta Tes, Berbagi Nafas dengan Pinjamkan Tabung Oksigen Gratis

Memang, saat mengelilingi Pusat Pastoral KAJ Samadi, selain memiliki ruangan yang luas, tempat ini dikelilingi oleh taman yang akan membuat pasien menjadi lebih nyaman. Selain itu, banyaknya pohon-pohon dan tanaman membuat suasana pasien akan lebih segar selama melakukan isoman.

Terdapat sekitar 70 orang yang sudah dirawat dan diizinkan pulang, menurut Romo Yustinus. Sedangkan bila pasien mengalami gejala yang serius, pihak Samadi akan membawa mereka ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Dirinya menegaskan, pihak Samadi akan tetap menerima setiap pasien selama memungkinkan.

"Kami menerima pasien selama ada tempat yang tersedia, kedua bila kondisi mereka masih memungkinan untuk dirawat disini," tambah Romo Yustinus.

Menurut Romo Yustinus, para staff yang melakukan pelayanan di Samadi sadar akan bahaya infeksi Covid-19. Karena itu dirinya telah memilih para staff yang dianggap memenuhi syarat untuk melakukan pelayanan di Samadi. Pihak Samadi tidak memperbolehkan para romo-romo yang berusia lanjut dan juga memiliki imun lemah untuk terlibat.

"romo-romo yang berusia lanjut, sepuh-sepuh, sebaiknya tidak memberikan pelayanan seperti itu, atau romo-romo yang memilki imun lemah, kalau saya disamping penyitas Covid juga imun saya lumayan jadi tetap terlibat," tegasnya.

"Itu sudah menjadi risiko yang harus kami hadapi," katanya menambahkan.

Tidak membedakan agama

Romo Yustinus menegaskan pihak Pastoral KAJ Samadi tidak membedakan latar belakang agama dari pasien Covid-19 yang ingin menggunakan fasilitas isoman. Dirinya menyatakan tidak akan menimbang-nimbang apakah pasien tersebut memiliki keyakinan yang sama dengannya, atau bukan.

"Saya tidak peduli agamanya apa, pokoknya kalau sakit kita tolong, kita enggak pernah menimbang-nimbang dengan perbedaan-perbedaan yang ada," paparnya.

Selain itu, Romo Yustinus juga menyatakan bahwa mereka tidak pernah memberatkan soal biaya bagi para pasien yang ingin melakukan isoman. Dirinya menyebut kesembuhan pasien jauh lebih penting daripada masalah ekonomi. Karena itulah, Pastoral KAJ Samadi tetap menerima setiap pasien dari berbagai lapis ekonomi.

"Disini juga enggak usah khawatir, banyak yang bertanya, 'romo, saya bayar berapa?'.. Saya bilang, 'engga usah dipikirin, anda sembuh saja dahulu," ucapnya.

Romo Yustinus mengaku untuk biaya perawatan Covid-19 setidaknya membutuhkan Rp5 juta per orang, dan pasien bisa berkontribusi sesuai kemampuannya. Dirinya menyatakan, selama ini pihaknya mendapat dana dari Keuskupan Agung Jakarta beserta donasi lainnya. Gereja juga terbuka bagi semua latar belakang agama.

Kisah Malaikat Jalanan, Tembus Kemacetan untuk Membuka Jalan bagi Ambulans

"Kita semua adalah saudara," ujarnya.

Romo Yustinus mengatakan ia sempat mengurapi, yakni salah satu ritual pengolesan minyak dalam ajaran Kristen. Juga memberikan ritus terakhir kepada seorang pastor lain yang menderita Covid-19 melalui Zoom sebelum meninggal dunia.

Florentina Suharni Caturwati, seorang guru dan pasien di Wisma Samadi, berharap pemerintah bisa sediakan fasilitas serupa untuk digunakan sebagai tempat isolasi di tengah pandemi. Pasalnya banyak masyarakat yang tidak memiliki tempat isoman yang cukup memadai di rumah pribadinya.

"Kenapa? Karena sangat membantu karena untuk orang-orang yang bisa dikatakan keluarga besar lalu tidak punya fasilitas memadai di rumah, dengan misalnya kamar mandi yang lebih dari satu," jelasnya.

Mengenal Pastoral KAJ Samadi

Selain sebagai oase rohani di tengah kebisingan Jakarta, beberapa tahun terakhir ini, Samadi mengemban misi baru sebagai Pusat Pastoral Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Suasana yang terbangun di kompleks Pusat Pastoral KAJ Samadi, rasanya memang anomali. Karena di tengah Metropolitan Jakarta, suasana di sini terasa asri dan tenang.

KAJ membangun Rumah Samadi--sebutan awalnya--pada 22 Agustus 1960. Tujuannya adalah sebagai sarana pembinaan agama dan sosial dengan asas iman Katolik. Sejarah Samadi lambat laun bergeser dari yang tadinya untuk tempat kaderisasi, menjadi berfokus pada rumah retret, dan sampai hari ini menjadi pusat pastoral.

Pertama kali, masyarakat menyebut wisma ini "semedi", yang artinya meditasi, merenung. Kemudian, pastor Loegmann SJ yang ketika itu bertanggung jawab mengelola, menamai tempat ini sebagai "Wisma Samadi". Dengan nama ini, Wisma Samadi diharapkan menjadi jalan keselamatan bagi umat.

Awalnya masyarakat sekitar memang sempat tidak setuju dengan hadirnya wisma. Namun, karena adanya unsur pelayanan kesehatan dan pendidikan, warga setempat mulai menoleransi. Beberapa hal pun mulai diubah agar banyak yang datang berkunjung ke Samadi.

Indonesia Komphack, Lahirkan Inovator Andal di Tengah Pandemi

Seperti mengubah kapel di lantai atas yang kurang terjamah menjadi auditorium, beberapa ruang kegiatan menjadi kedap suara, menjaga keasrian halaman dan menambah kolam ikan sebagai simbol oase. Padahal awal tempat ini dibangun, tanah seluas kira-kira 2,3 hektare tersebut dirasa gersang.

"Harapannya orang datang ke sini bisa menikmati ketenangan," ujar Romo Yustinus.

Selain itu sebagai rumah retret, Samadi termasuk ramai peminat. Hal ini dirasakan oleh Thomas Djimin, bagian keamanan sejak tahun 1975. Saking banyaknya kelompok-kelompok yang datang, para karyawan sampai tidak bisa mengatur parkiran. Bahkan sulit mengambil libur.

"Saya susah mengatur parkiran beberapa tahun terakhir ini," jelasnya.

Dengan fasilitas yang memadai dan harga yang terjangkau, Samadi tidak hanya menjadi daya tarik umat Katolik saja, tetapi juga non Katolik. Romo Yustinus sepakat sejauh yang dilakukan adalah kegiatan rohani dan pembinaan spritual, Samadi akan mempersilakan. Dirinya juga bertekad untuk mempertahankan apa yang sudah dibangun ini terus bertumbuh.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini