Menakar Peluang Indonesia Raih Medali Emas di Cabor Bulutangkis Ganda Putri

Menakar Peluang Indonesia Raih Medali Emas di Cabor Bulutangkis Ganda Putri
info gambar utama

Sejak Olimpiade Barcelona 1992 hingga ajang terakhir Olimpiade Rio 2016, Indonesia tak mampu mempersembahkan satu pun medali bulutangkis dari nomor ganda putri. Raihan terbaik hanya mencapai babak perempat final di Olimpiade pada 1992, 1996, 2000, dan 2016.

Di pengujung Bulan Juli 2021, sejarah baru ditoreh oleh srikandi Indonesia. Greysia Polii dan Apriyani Rahayu menjadi satu-satunya ganda putri Tanah Air yang berhasil menembus babak final olimpiade.

Sebelumnya, Greysia/Apriyani menjadi ganda putri Indonesia pertama yang mencapai semifinal olimpiade. Kini, mereka menjadi putri Indonesia pertama yang akan mendapatkan medali minimal perak di olimpiade.

Sejarah tercatat di Musashino Sports Plaza, Tokyo, sesuai Greysia/Apriyani menyingkirkan wakil Korea Selatan, Lee So Hee/Shin Seung Chan. Greysia/Apriyani yang tampil begitu menggebu mampu unggul straight game lewat skor 21-19 dan 21-17.

Kemenangan melawan Lee/Shin membuat pasangan Greysia/Apriyani berhak tampil di partai puncak ganda putri Olimpiade Tokyo 2020. Keberhasilan pasangan Greysia/Apriyani menyegel tiket lolos ke final membuat asa Indonesia mendulang medali emas cabor bulutangkis masih terjaga.

Medali Pertama untuk Kontingen Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020

Perjalanan menuju babak final

Tergabung di Grup A bersama Chow Mei Kuan/Lee Meng Yean (Malaysia), Chloe Birch/Lauren Smith (Inggris), dan ganda putri nomor satu dunia, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang), Greysia/Apriyani selalu menunjukkan penampilan terbaik sejak pertandingan pertama mereka.

Greysia/Apriyani tampil luar biasa untuk menjadi juara Grup A dengan catatan sempurna alias tidak terkalahkan.

Mereka harus berjuang keras selama tiga set pada laga penyisihan terakhir, sebelum akhirnya berhasil mengalahkan Ganda Putri Jepang peringkat 1 dunia, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota, 24-22, 13-21, dan 21-8.

Pertandingan yang berlangsung selama 84 menit ini berjalan sangat ketat. Terutama pada babak pertama. Laju impresif Greysia/Apriyani belanjut ke perempatfinal dan semifinal.

Greysia Apriyani menaklukkan wakil China, Du Yue/Li Yin Hui, di perempatfinal dalam tiga gim dengan skor 21-15, 20-22, dan 21-17. Greysia/Apriyani melanjutkan laju impresifnya di semifinal dengan menundukkan wakil Korea Selatan.

Duo monster China, penantang di final

Pasangan China, Chen Qing Chen/Jia Yifan akan menjadi lawan Greysia/Apriyani di babak final ganda putri Olimpiade Tokyo 2020 | Foto: Getty Image
info gambar

Di babak final, Greysia/Apriyanii ditantang duo monster, Chen Qing Chen/Jia Yifan. Pasangan ganda putri asal China ini dijuliki "dua monster" karena sepak terjang dan performanya yang luar biasa.

Keangkeran pasangan China ini sudah terlihat dari level junior, kala itu mereka mampu menyabet 2 gelar World Junior Championships 2014 dan World Junior Championships 2015. Di mana kejuaraan tersebut merupakan turnamen paling bergengsi di kelas junior.

Memasuki level senior, performa pasangan ini kian meroket. Pada November 2017, mereka mampu menembus peringkat 1 BWF setelah mengkudeta peraih medali emas Olimpiade Rio 2016 asal Jepang, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahasi.

Sederet gelar bergengsi di berhasil mereka raih, di antaranya, Juara Asian Games 2018, Juara BWF World Tour Finals 2019, Juara All England Open 2019, dan yang paling fenomenal, mereka menyabet gelar World Championships 2017 di usia yang masih tergolong sangat muda (20 tahun).

Moncer di level individu, kedigdayaan mereka menular ke level tim. Chen/Jia mampu membawa Tim Nasioanl China meraih runner-up Sudirman Cup 2017, sekaligus menjuarai Sudirman Cup 2019 di rumah mereka sendiri, Nanning, China.

Di Olimpiade Tokyo kali ini, mereka mampu menembus final setelah mengahlahkan pasangan nomor 1 Korea Selatan, Kim So Yeong/Kong Hee Yong di semifinal dengan skor telak 21-15 dan 21-11 dalam tempo 44 menit.

Sebelumnya di babak perempatfinal, Chen/Jia juga berhasil menumbangkan unggulan satu dari Jepang, Yuki Fukushima/Sayaka Hirota dengan rubber game 18-21, 21-10, dan 21-10.

Catatan Prestasi Atlet Indonesia di Ajang Olimpiade

Head to Head Greysia/Apriyani vs Chen Qing Chen/Jia Yi Fan

Di atas kertas, wakil China ini memang lebih diunggulkan. Dari segi peringkat BWF, Chen/Jia berada di posisi 3 sementara pasangan Indonesia berada di posisi 6. Selain secara peringkat mereka berada di atas Greysia/Apriyani, rekor pertemuan keduanya juga masih berpihak kepada Chen/Jia.

Chen/Jia mampu meraih enam kemenangan dalam sembilan pertemuannya dengan ganda putri nomor satu Indonesia ini. Greysia/Apriyani harus kalah di Hong Kong Open, Thomas & Uber Cup Finals 2018, BWF World Tour Finals 2018, All England 2019, Australian Open 2019, dan World Tour Finals 2019.

Tiga sisanya dimenangkan Greysia/Apriyani sejak keduanya pertama kali dipasangkan. Kemenangan berat itu diraih saat mentas di ajang French Open, BWF World Championships 2018, dan BWF World Championships 2019.

Kendati kalah head to head, namun tidak menutup kemungkinan Greysia/Apriyani bisa menjadi juara. Pasangan Indonesia ini punya catatan manis ketika bertemu Chen/Jia. Pada pertemuan pertama mereka di semifinal French Open 2017, Greysia/Apriyani mampu unggul telak dengan skor 21-5 dan 21-10.

Di kejuaraan sebesar olimpiade dengan tingkat pressure tinggi, rekor hanyalah catatan di atas kertas. Terbukti dari beberapa pertandingan sebelumnya, pemegang head to head harus pulang lebih awal. Sebut saja Nozomi Okuhara yang kalah dari He Bing Jiao, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dari Aaron Chia/Soh Wooi Yik, dan penguasa tunggal putra, Kento Momota yang harus takluk di tangan Kwang Hee Heo di babak penyisihan.

Apapun hasil yang didapat oleh Greysia/Apriyani, setidaknya satu keping medali sudah mereka amankan. Perak atau emas, nama mereka sudah tercatat sebagai ganda putri Indonesia dengan capaian terbaik di Olimpiade.

Mengenang Trio Srikandi, Peraih Medali Olimpiade Pertama Untuk Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Iip M. Aditiya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Iip M. Aditiya.

Terima kasih telah membaca sampai di sini