Nikmatnya Tidur Beralaskan Pasir, Kebiasaan Warga Sumenep Madura

Nikmatnya Tidur Beralaskan Pasir, Kebiasaan Warga Sumenep Madura
info gambar utama

Kampung Pasir di Sumenep Madura terkenal dengan beberapa kebiasaan unik yang dimilikinya. Kebiasaan tersebut bahkan dinyatakan sebagai adat istiadat yang sudah dilakukan secara turun-temurun dari zaman dulu hingga saat ini. Kebiasaan unik ini adalah masyarakatnya terbiasa tidur beralaskan pasir.

Menikmati tidur yang enak, biasanya orang menempati suatu ruang dengan suasana sejuk serta berbantal dan berkasur yang empuk. Namun, bagi masyarakat di Desa Legung Timur, Legung Barat, dan Dapenda, Kabupaten Sumenep, Madura, kenikmatan tidur justru mereka rasakan ketika terlentang di hamparan pasir.

Selain menjadi tradisi yang turun-temurun, setiap rumah di desa ini memang memiliki kewajiban memiliki kasur pasir di rumahnya. Bahkan tidak hanya di dalam rumah saja, masyarakat setempat juga menaruh pasirnya di halaman rumah dan beberapa tempat lainnya untuk bersantai bersama keluarga dan tetangga.

"Tidur di pasir sudah menjadi tradisi turun temurun bagi warga di sini selama ratusan tahun. Bahkan masih ada ibu-ibu melahirkan di atas ranjang pasir dengan dukun bayi," ujar Hanafi, salah satu warga desa, pada Kumparan.

Memang kebanyakan anak dari tiga desa ini dilahirkan di atas pasir. Jadi, dari kecil mereka memang sudah akrab dengan latar berpasir. Mereka lahir, bermain, bertumbuh, berkembang, dan menjadi dewasa, di atas pasir sehingga tidak jarang ada yang menyebut mereka sebagai manusia pasir.

Di kampung ini dihuni kurang lebih 500-600 orang. Aktivitas keseharian masyarakat, adalah menjadi buruh nelayan dan pedagang. Sebagian pula jadi perantauan mencari pekerjaan di luar daerah, seperti Jakarta, Bali, dan Kalimantan. Rumah adat Madura di kampung ini juga masih terbangun baik, struktur bangunannya pun tidak tampak rusak sedikit pun.

Pasir di sekeliling halaman rumah jadi ikon adat istiadat yang sudah ada mulai sejak dulu. Di emperan rumah debu pasir yang berhamburan tidak dianggap sebagi kotoran, melainkan berkhasiat yang dipercaya menghindari penyakit. Sementara itu teras rumah hanya ditemukan pasir sebagai pengganti meja dan kursi.

Orang yang hendak bertamu biasanya duduk di bawah dengan menggunakan alas hambal. Namun sebagian ada yang dipersilakan duduk langsung di atas pasir. Bagi penduduk di kampung ini, benda bumi seperti pasir tidak bisa diremehkan. Pasir pun mereka percaya bisa menyembuhkan penyakit.

Mengenal Lebih Dekat Pesona Keelokan Batik Madura

"Tidur di atas pasir bisa lebih nyenyak dibandingkan dengan kasur. Kalau tidak beralas pasir, tidurnya tidak nyenyak, sekali pun tidur di atas kasur," kata Bangso, warga Kampung Pasir.

Agar lebih nyaman, mereka tetap menggunakan bantal dari kapas. Tujuannya ialah agar rambut mereka tetap bersih dari butiran pasir. Namun, beberapa warga juga enggan memakai bantal kapas. Mereka membuat gundukan pasir sebagai pengganti bantal kapas saat tidur.

Kini beberapa tidak menggunakan pasir sebagai keseluruhan alas rumah mereka. Beberapa bagian rumah kini dipadukan dengan lantai keramik. Ruang tamu menjadi bagian umum untuk dikeramik. Teras dan kamar tidur mereka lebih sering ditemui dengan pasir. Bahkan dapat dijumpai, meskipun rumah sudah dikeramik, namun dilapisi dengan timbunan pasir.

Pasir bukan sembarang pasir

Pasir di rumah mereka bukanlah pasir sembarangan. Pasir ini berasal dari sekitar Pantai Lombang dengan tekstur lembut, bersih, dan mengkilap. Bahkan bila tubuh dalam keadaan basah, pasir ini tidak akan lengket dan menempel pada tubuh. Selain itu pasir ini berwarna putih kecoklatan dan tidak berbau.

Warga biasanya memilih pasir yang ada di bawah pohon cemara. Sebelum digunakan, pasir lebih dulu diayak menggunakan alat penyaring. Hal ini bertujuan menyaring material seperti kerikil kecil, sisa cangkang hewan laut atau kotoran lain yang menempel. Timbunan pasir ini diyakini memiliki efek relaksasi sekaligus menyembuhkan penyakit.

Menurut Bangso, masyarakat di sekeliling kampung jarang terkena penyakit hingga dirawat di rumah sakit. Lantaran daya tahan tubuh mereka cukup kebal, sehingga penyakit tidak mudah lengket, sekalipun usianya sudah tua.

Terbukti salah seorang pengunjung dari Kabupaten Jember yang keluarganya tengah mengidap penyakit diabetes. Karena itu selain jadi pengunjung, orang ini juga kerabat akrab warga kampung pasir. Dirinya datang untuk berkonsultasi agar keluarganya bisa sembuh dari penyakit.

Cerita Pondok Pesantren Anti Sampah Plastik di Sumenep 

"Saya menyarankan agar tinggal di sini dan bersama-sama tidur berkasur pasir. Siapa tahu bisa perlahan sembuh melalui keyakinan kita," cerita Fakir Ramdani, dalam Tagar.

Orang yang terkena penyakit itu akhirnya datang dibantu orang yang akrab sama Fakir. Orang tersebut menetap kurang lebih selama sebulan. Memang semula terasa kurang nyaman setiap hari bergelumuran pasir. Karena dipaksa, ia pun akhirnya jadi terbiasa.

"Apa hasilnya, orang ini merasakan sesuatu jika rasa capeknya akibat banyak duduk mulai hilang. Setelah diperiksa ke dokter, penyakit diabetes itu dikabarkan sudah hilang," ungkapnya.

Pasir diklaim sebagai eksofoliator alami, tekstur buktiran super halusnya dipercaya mampu membantu mengelupas kulit secara otomatis. Para ahli menyebutnya, tidur di atas pasir dengan kesehatan lebih dikaitkan kepada kondisi tubuh yang jauh lebih rileks. Nuansa pantai terasa saat berbaring di atas pasir ini.

Bahkan, pasir ini mampu membuat suhu di dalam ruangan menjadi lebih sejuk di tengah cuaca panas, begitu pula sebaliknya.

"Pasir ini seolah menyesuaikan suhu, karena bila cuaca panas, pasir ini tetap terasa sejuk dan nyaman," imbuh Hanafi.

Asisten Deputi Bidang Sumber Daya Mineral, Energi dan Non Konvensional, Amalyos Chan, sangat takjub ketika merasakan langsung bagaimana rasanya bersantai di pasir Desa Legung Timur ini.

"Pasir ini unik, ketika udara panas, pasir menimbulkan rasa sejuk di kulit, begitupun sebaliknya. Jika udara dingin akan terasa menghangatkan," ucapnya.

Potensi wisata

Tradisi tidur di atas pasir, masyarakat sudah banyak mengenalnya sebagai bagian dari wisata ke Kampung Pasir. Tradisi ini memang dinilai sebagai tradisi yang unik. Banyak warga berdatangan dari luar daerah hanya ingin mengetahui langsung aktivitas tradisi ini. Sayangnya, warga menilai pemerintah masih minim perhatian kepada daerah wisata ini.

Tak dimungkiri jika warga menginginkan pemerintah memerhatikan secara khusus tradisi yang sudah turun-temurun ini, caranya dengan menyejahterakan masyarakat kampung dengan memberikan semacam bantuan dan fasilitas kebutuhan hidup.

"Bantuan ada, tapi hanya pada segelintir orang. Maksudnya warga kampung disini ingin pembangunan desanya berkembang maju, misalkan dengan difasilitasi bantuan pavling jalan untuk peningkatan infrastuktur," harap Satrayu, warga Kampung Pasir.

Amalyos sempat berdiskusi dengan perangkat serta penduduk desa setempat mengenai potensi Kampung Pasir ini. Menurutnya, Kampung Pasir ini memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi rumah singgah juga wisata bagi tamu luar daerah.

"Sebenarnya bisa didesain seperti kampung unik di (Khyusu) Jepang. Hasil swadaya bisa dimanfaatkan warga sendiri. Jangan ambil pasirnya keluar tapi biar pengunjungnya yang datang langsung merasakan di tempatnya," ujarnya.

Kampung Pasir ini sangat cocok untuk disinggahi sebagai destinasi wisata yang unik oleh masyarakat luas. Selain merasakan sendiri nikmatnya tidur di atas pasir, wisatawan juga dapat mempelajari bagaimana kepercayaan masyarakat terhadap pasir. Selain itu, destinasi wisata ini pun tidak jauh dari tempat wisata lainnya, seperti Pantai Lombang dan Pantai Slopeng.

Namanya Busok, Kucing Leopard dari Madura yang Ingin Diakui Dunia

Lokasi Kampung Pasir ini mudah ditemukan, karena hanya terdapat satu jalan alternatif saja dari kota menuju Jl. Gepura sampai ke Batang-Bantang. Meski harus menempuh waktu sekitar 45 menit dari Kota Sumenep, wisatawan tidak akan kecapekan karena kondisi jalan yang baik dan beraspal.

Jika ingin berkunjung, disarankan tidak pada jam kerja masyarakat. Lebih baik datang di waktu sore ketika warga sedang rehat, sehingga Anda bisa mengelilingi desa sekaligus berbincang dengan warga. Anda juga bisa merasakan makanan olahan ikan, seperti bakso ikan, atau pentol ikan yang digoreng.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini