Kabau, Kreasi Kacamata Lokal dari Limbah Papan Skate

Kabau, Kreasi Kacamata Lokal dari Limbah Papan Skate
info gambar utama

Selalu banyak jalan untuk berkarya, salah satunya dengan memiliki kreativitas tanpa batas. Dengan modal tersebut, siapa saja bisa membuat karya yang sebelumnya mungkin tak terpikirkan. Ditambah lagi dengan lebih peka terhadap sekitar, karena bukan tak mungkin inspirasi dan ide datang tak jauh dari lingkungan.

Sebagai contoh, Reynanto Akhmad Aditya (Ditto) dan Bonny Andrew (Andro) yang memiliki hobi skateboard memulai bisnis Kabau karena terinspirasi dari banyaknya limbah papan skate yang rusak dan terbuang begitu saja.

Jika sudah rusak, misalnya patah, kebanyakan papan skate sulit diperbaiki dan kebanyakan pemain skateboard akan memilih untuk membeli yang baru. Berangkat dari kepekaan ini, Andro dan Ditto yang merupakan lulusan desain Universitas Trisakti ini memanfaatkan ‘sampah’ papan skate menjadi produk kacamata yang unik.

Jalan Panjang Jenama Indonesia hingga Dikenal Dunia

Memanfaatkan limbah untuk berkarya

Dari hobi bermain skateboard dan melihat banyaknya limbah papan skate, Ditto dan Andro pun memulai bisnisnya, Kabau, pada tahun 2011.

Untuk material, papan skate dipilih karena memiliki kayu mapel berserat halus, kuat, dan fleksibel. Seluruh produk kacamata kayu yang dibuat Kabau terbuat dari papan skate bekas. Menurut keterangan Ditto, Kabau mendapatkan stok papan bekas dari sistem open donasi.

“Para skateboarder mendonasikan lima papan skate bekas pakai dalam kondisi apapun. Sebagai apresiasi, Kabau membuatkan satu buah kacamata dari papan yang didonasikan dengan tujuan menjalin komunikasi dan saling mendukung dengan para pemain skateboard,” ujar Ditto kepada Good News From Indonesia, Selasa (27/07/2021).

Mengingat terbatasnya ketersediaan bahan baku, maka pihak Kabau pun membatasi produksinya. Dalam sebulan, mereka hanya mengerjakan 10-15 buah kacamata. Untuk menyiasati, maka Kabau pun fokus pada pemesanan custom dan menyesuaikan dengan keinginan pemesan.

Adapun syarat papan skate yang memadai untuk pembuatan kacamata Kabau ialah memiliki serat bagus, tidak ada retak, dan tidak lapuk. Setiap papan yang ada akan dipilih dan diperiksa kondisinya, mengingat kualitas papan tentu berbeda-beda. Namun, kata Ditto, tak ada patokan merek papan tertentu, hanya saja merek luar negeri memang memiliki kualitas grade lebih baik.

Pertama di Dunia, Sepatu dari Kulit Ceker Ayam Asal Bandung

Produk unik dan diproses secara handmade

Semua kacamata kayu yang dibuat Kabau masih dikerjakan secara handmade. Keseluruhan produksi dibuat satuan menggunakan alat semi-manual sehingga membutuhkan kontrol tangan dengan meminimalkan kesalahan saat pembuatan, memilah kondisi serat papan terbaik untuk dijadikan kacamata dengan kualitas terbaik

Untuk menambah nilai estetika, kacamata Kabau juga tak hanya terbuat dari kayu, melainkan ada tambahan lain sebagai kombinasi, yaitu besi, kain, hingga bahan kayu eksotis lain seperti jati, sungkai, dan sonokeling.

Karena memanfaatkan limbah papan skate dengan motif beragam, hal ini pun berpengaruh pada desain kacamata. Bisa dibilang, produk kacamata Kabau tidak pasaran karena motif setiap kacamata dapat berbeda sesuai bahan yang tersedia.

Dari satu papan utuh, kata Ditto, bisa menghasilkan sampai empat buah kacamata. Uniknya, pembeli bisa request model bingkai kacamata, ukuran, warna tampilan, tipe lensa, hingga grafir nama. Lama pengerjaannya sekitar 10-15 hari kerja mulai dari diskusi hingga produksi.

Tak hanya kacamata, Kabau juga memanfaatkan sisa hasil potongan papan skate untuk berbagai produk menarik. Di antaranya ada kalung, cincin, gantungan baju, lampu meja, tatakan gelas, dan talenan.

Saat ini, produk-produk Kabau dijual secara daring melalui media sosial dan e-commerce. Kisaran harga kacamatanya sendiri sekitar Rp1,2 sampai Rp1,5 jutaan. Jika tertarik memilikinya, jangan lupakan bagian perawatan. Sebab, kacamata ini terbuat dari material kayu yang mungkin belum umum digunakan.

Tak terlalu sulit, Ditto menyarankan agar menghindari kacamata tertindih benda berat, sering dibersihkan setelah pemakaian atau terkena hujan, dan tidak terpapar sinar matahari langsung dalam waktu lama. Jangan khawatir kacamata akan mudah rusak, karena Kabau telah menggunakan finishing coat untuk menutupi pori kayu agar lebih tanah dari jamur dan pelapukan.

Eiger, Produk Petualang Asal Bandung yang Mendunia

Perjalanan Kabau mempopulerkan kacamata kayu

Nama Kabau pada jenama ini terinspirasi dari kata Minangkabau, yang merupakan tempat asal kedua pendirinya. Kini, usianya telah mencapai 10 tahun. Tentu bukan perjalanan yang singkat.

Sebagai inspirasi bagi generasi muda yang ingin berbisnis, rupanya Kabau pun dimulai dengan modal kecil. Ditto mengatakan bahwa modal awal untuk pendukung seperti lensa dan engsel, sekitar Rp300-500 ribuan. Sedangkan, mereka mendapatkan bahan baku utama, yaitu papan skate, secara cuma-cuma.

Saat ini, Kabau memiliki studio bernama Namines yang terletak di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk berkreasi dan memproduksi produk-produk dari limbah papan skate.

Mereka pun memasarkan produknya lewat bazar, pameran seni, komunitas, hingga media sosial. Hingga kini, kacamata Kabau tak terbatas dijual dalam negeri, tetapi telah dipasarkan sampai ke Malaysia, Jepang, Swiss, Australia, Dubai, hingga Amerika Serikat.

Untuk mempertahankan eksitensinya, Kabau pun terus berinovasi dengan meluncurkan produk home decor dan melakukan kolaborasi dengan seniman dan jenama lokal lain. Rencana jangka panjang, Kabau ingin memperluas penjualan produknya hingga ke banyak negara dan membangun offline store, serta bisa memproduksi produk secara massal.



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini