Tiga Artefak Indonesia Senilai Rp1,2 Miliar Dikembalikan dari New York

Tiga Artefak Indonesia Senilai Rp1,2 Miliar Dikembalikan dari New York
info gambar utama

Jaksa Wilayah Manhattan, New York, AS, mengumumkan pengembalian tiga barang antik berbentuk patung kepada masyarakat Indonesia. Pengembalian ini dilakukan dalam acara reptriasi yang dihadiri oleh Konsul Jenderal RI, Arifi Saiman dan Deputi Agen Khusus Investagi Keamanan Dalam Negeri AS, Erik Rosenblatt.

Tiga patung yang dikembalikan yakni patung Dewa Siwa (ukuran 6x4x8,25 inci) yang bernilai sekitar Rp186 juta rupiah. Selain itu patung Dewi Parwati (ukuran 5,5x4,5x7,5 inci) bernilai sekitar Rp467 juta, dan patung Dewa Ganesha (ukuran 3x2,5x4,5 inci) bernilai sekitar Rp596 juta. Total nilai tiga patung tersebut Rp1,25 miliar.

Dalam keterangan tertulisnya, Konjen RI menyampaikan terima kasih dan apreasiasi yang sebesar-besarnya terhadap jasa jaksa New York dan Deputi Agen Khusus Investigasi Keamanan Dalam Negeri AS (HSI), Erik Rosenblatt, berserta jajarannya yang berhasil mengupayakan pengembalian tiga artefak tersebut.

"Atas nama Republik Indonesia, izinkan saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Satuan Perdagangan Barang Antik Kejaksaan Wilayah Manhattan dan Keamanan Dalam Negeri atas kerja keras dan dedikasi mereka dalam melakukan penyelidikan terhadap para pelaku kejahatan untuk membawa keadilan dan pengembalian artefak budaya ke negara asalnya yang sah," terang Arifi.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid, juga berterima kasih kepada Jaksa Wilayah Manhattan terkait pengembalian ini. Serta Konjen RI di New York yang telah bekerja keras untuk melakukan penyelidikan terhadap para pelaku kejahatan untuk membawa keadilan dan pengembalian artefak budaya ke negara asalnya yang sah.

Indonesia Akan Pamerkan 400 Artefak di Europalia

"Tiga patung itu adalah Objek Diduga Cagar Budaya atau ODCB, mengikuti ketentuan UU 11/2010 tentang Cagar Budaya," kata Hilmar, dalam keterangannya, Jumat (23/7/2021).

Hilmar menambahkan, bahwa dalam UU sudah dijelaskan bahwa ODCB tidak bisa dibawa ke luar negeri. Namun, tetap ada saja oknum tidak bertanggung jawab yang menyelundupkan barang-barang tersebut ke luar negeri.

"Kita bersyukur bahwa pelakunya sudah ditangkap dan bendanya bisa diselamatkan dan diserahkan kembali ke Indonesia," ucapnya.

Jaksa New York, County Cyrus Vance Jr, pun menyampaikan rasa hormatnya dapat mengembalikan tiga benda cagar budaya kembali kepada pemiliknya yang sah, yakni Indonesia. Ia menyatakan bahwa kejahatan penjarahan warisan budaya dan penjualan artefak kuno, merupakan serangan terhadap sejarah suatu bangsa.

"Saya ingin berterima kasih kepada Unit Perdagangan Barang Antik di kantor saya dan mitra kami di Investigasi Keamanan Dalam Negeri atas upaya tanpa henti mereka yang telah menghasilkan hampir 400 harta yang dikembalikan ke 11 negara selama setahun terakhir. Saya menantikan pemulangan lebih lanjut dalam waktu dekat," ujarnya

Agen Khusus Penanggung Jawab HSI New York, Peter C Fitzhugh, menegaskan pentingnya penyitaan benda-benda cagar budaya. Juga pengembalian ke negara asal untuk menguatkan kerja sama berkelanjutan Pemerintah AS dalam melindungi sejarah bagi generasi yang akan datang.

"Artefak yang dipulangkan hari ini adalah bagian dari kekayaan sejarah budaya Indonesia," kata Fitzhugh.

Kronologi pencurian

Penyelundupan tiga artefak Indonesia yang diduga obyek cagar budaya itu, bermula dari penyelidikan yang dilakukan oleh Antiquites Trafficking Unit, New York Country District Attorney's Office, bersama dengan Homeland Security AS. Upaya ini sudah dilakukan selama satu tahun terakhir

Tiga artefak ini didapatkan dari hasil jarahan candi oleh pria warga negara Amerika keturunan India bernama Subhash Kapoor. Pria yang juga seorang dealer seni itu terlibat dalam jaringan perdagangan ilegal benda antik. Kapoor dan terdakwa lain umumnya menyelundupkan barang antik yang dijarah ke Manhanttan, dan menjualnya di galeri yang berbasis di Madison Avenue, Art of the Past.

Sejak 2011 hingga 2020, lebih dari 2.500 artefak yang diperdagangkan secara ilegal oleh Kapoor termasuk dari Indonesia, Kamboja, Sri Lanka, India, Pakistan, Afghanistan, Thailand, Nepal, Myanmar, dan negara-negara lainnya. Nilai total benda-benda cagar budaya itu senilai 143 juta dolar AS.

New York County District Attorney's Office pertama kali mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Kapoor pada 2012. Pada Juli 2019, pengaduan dan serangkaian surat perintah penangkapan untuk Kapoor dan tujuh rekan terdakwa diajukan. Pada 2020, kantor ini mengajukan dokumen ekstradisi untuk Kapoor, saat ini ia berada di penjara India dan menunggu persidangan.

Temuan Arkeologi di Pulau Alor, Makam Anak Berusia 8 Ribu Tahun

Sejak Agustus 2020, New York County District Attorney's Office telah mengembalikan 393 benda cagar budaya ke 11 negara, di antaranya;

  • 3 artefak ke Indonesia,
  • 12 artefak ke Tiongkok,
  • 13 artefak ke Thailand, dan
  • 33 artefak ke Afghanistan.

Benda yang dikembalikan adalah sepasang patung Budha dari Sri Lanka, sebuah prasasti batu kapur tahun 664 SM dari Mesir.

Lain itu ada juga;

  • Peti mati emas yang dicuri setelah Revolusi Mesir pada 2011,
  • 3 patung marmer dari Lebanon,
  • Sebuah mosaik Romawi yang digali dari Kapal Nemi, peninggalan Etruria yang dicuri dari situs pekuburan bersejarah yang dikenal sebagai Kota Orang Mati,
  • Fragmen sarkofagus marmer,
  • Arca Budha yang dicuri dari situs penggalian arkeologi,
  • Sepasang arca abad ke 12 dari India,
  • Koleksi arca perunggu abad ke-8 SM, dan
  • Satu set koin Yunani Kuno.

Ratusan artefak lainnya segera dipulangkan setelah negara pemilik bisa menerimanya di tengah pandemi. Sementara itu, lebih dari seribu artefak ditahan pengembaliannya karena menunggu proses pidana terhadap para penyelundup.

Pihak District Attorney berharap setelah benda-benda tersebut direpatrasi ke Indonesia, ODCB tersebut akan dipajang di meseum atau tempat lainnya yang dapat dilihat oleh publik.

Akan dijadikan cagar budaya

Dikutip dari Kompas, Arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Harry Octavianus Sofian, mengatakan setidaknya ada tiga jenis arca bedasarkan kuantitas pemujanya.

Pertama, arca istadewata, yaitu arca yang dimiliki oleh perseorangan sehingga dapat dibawa ke mana-mana.

Kedua, arca kuladewata, yaitu arca yang dimiliki keluarga, biasanya terdapat di rumah-rumah.

Ketiga, arca Garbadewata, yaitu arca yang dipuja oleh banyak orang, dalam hal ini masyarakat.

"Kemungkinan ketiga arca tersebut adalah arca istadewata milik perseorangan yang biasanya dibawa oleh pendeta ke mana-mana. Jika pendeta hendak menggelar upacara keagamaan, dia bisa melakukan di mana-mana," kata mahasiswa diktoral Paris Nanterre University ini.

Dilihat dari penampakan patinasinya, Harry menduga ketiga patung tersebut asli. Artinya, patung Dewa Siwa, Dewi Parwati, dan Dewa Ganesha, tersebut memang diduga kuat adalah benda kuno peninggalan bersejarah atau obyek cagar budaya.

Menapaki Riwayat Pembangunan Museum Papua di Jerman

Di Indonesia, banyak arca dewa-dewi Hindu ditemukan di candi-candi dengan ukuran-ukuran besar dan terbuat dari material baru. Patung-patung berukuran besar seperti ini biasanya digunakan untuk upacara-upacara keagamaan kerajaan atau negara.

Penemuan tiga patung ini membuka peluang penelitian baru bagi arkelog. Mereka ditantang untuk bisa mengungkap asal-usul, sejarah, dan narasi di balik patung dewa-dewi itu.

Selain itu, menurut Hilman pemerintah akan mempercepat penetapan ODCB sebagai cagar budaya. Hal ini mengingat pasar gelap untuk barang antik cukup besar. Jika sudah ditetapkan dan kemudian beredar di galeri atau balai lelang di luar negeri, bisa dipastikan barang itu curian atau selundupan.

"Dengan begitu, setidaknya kita bisa mengurangi niat orang untuk membelinya," ucapnya.

Selama ini, Ditjen Kebudayaan bekerja sama dengan Kepolisian Negara RI bersama jaringan interpol dalam memantau peredaran benda cagar budaya yang diselundupkan ke luar negeri. Dari New York, Arifi Saiman juga berkomitmen akan selalu mendukung upaya penyelidikan artefak-artefak lain yang diduga diselundupkan dari Indonesia ke AS.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini