Punya Peran Krusial, Kinerja Keuangan dan Saham Rumah Sakit Meroket di Tengah Pandemi

Punya Peran Krusial, Kinerja Keuangan dan Saham Rumah Sakit Meroket di Tengah Pandemi
info gambar utama

Di tengah situasi pandemi yang masih menimpa Indonesia dan memberikan dampak negatif ke berbagai sektor, kondisi sebaliknya justru terjadi pada sektor kesehatan dalam hal ini perusahaan farmasi dan rumah sakit terutama yang berasal dari pihak swasta.

Fenomena pandemi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tindakan medis yang dibutuhkan, nyatanya memberikan sentimen positif bagi industri kesehatan yang memegang peran penting nan utama dalam penanganan kasus Covid-19 di Indonesia.

Melansir Kumparan Bisnis, dampak positif yang memengaruhi sejumlah perusahaan kesehatan di Indonesia ternyata sudah terlihat sejak tahun 2020 lalu, atau lebih tepatnya semenjak awal kasus pandemi muncul.

Pengaruh positif yang terjadi diketahui membuat kinerja perusahaan farmasi dan rumah sakit mencatatkan peningkatan dari segi kinerja keuangan, yang secara langsung juga menyebabkan nilai saham perusahaan terkait sebagai emiten yang mencatatkan namanya di Bursa Efek Indonesia (BEI), mengalami peningkatan harga yang cukup signifikan, beberapa bahkan meroket dengan tajam.

Kisah Dr Lie Dharmawan, Dokter yang Jual Rumah untuk Bangun Rumah Sakit Apung

RS Siloam yang membalikkan keadaan rugi menjadi laba

RS Siloam
info gambar

Melansir Lokadata, sejumlah rumah sakit besar yang sudah memiliki puluhan wilayah operasional di sejumlah kota, bahkan mencatatkan pendapatan dan laba yang meningkat pesat dibanding periode yang sama pada tahun 2020.

Rumah sakit pertama yang diketahui mencatatkan kinerja gemilang datang dari PT Siloam International Hospitals Tbk. (RS Siloam). Siloam bahkan diketahui berhasil membalikkan kondisi perusahaan dari yang sebelumnya mengalami kerugian dan berganti menjadi catatan keuntungan atau laba.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasi, Siloam berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp3,8 triliun pada semester I 2021. Dari pendapatan tersebut, diperoleh laba bersih mencapai Rp291,54 miliar. Padahal, pada semester I di tahun 2020, Siloam diketahui mencatatkan kerugian sebesar Rp130,04 miliar, yang artinya perusahaan mendapat lonjakan laba lebih dari 200 persen.

Secara lebih detail, pihak Siloam memberikan informasi bahwa pendapatan besar yang dimiliki pada tahun ini sebagian besar didominasi oleh pemasukan dari layanan rawat inap, yang diketahui memberikan kontribusi Rp2,08 triliun. Nilai tersebut naik sebesar 52,57 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2020, dengan catatan pemasukan sebesar Rp1,36 triliun.

Bersamaan dengan hal tersebut, sisa pendapatan yang diiliki Siloam diketahui berasal dari layanan rawat jalan yang menyumbang pemasukan sebesar Rp1,19 triliun, meningkat sebesar 87,2 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya dengan catatan pemasukan Rp637 miliar.

Pihak Siloam juga memberikan bocoran mengenai tiga wilayah operasi yang memberikan kontribusi pendapatan paling besar, lengkap dengan detail pendapatan yang diraih, berikut detailnya:

  1. MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta: Rp517,8 miliar,
  2. RS Siloam Lippo Village, Banten: Rp488,4 miliar, dan
  3. RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta: Rp433,4 miliar.
Ini Kecanggihan yang dimiliki Rumah Sakit Universitas Indonesia!

RS Hermina catat peningkatan laba empat kali lipat

RS Hermina Manado
info gambar

PT Medikaloka Hermina Tbk., atau perusahaan di sektor kesehatan yang memiliki izin usaha sebagai pengelola rumah sakit Hermina juga mencatatkan kenaikan performa finansial yang cukup signifikan di semester I 2021 ini, yaitu dengan pendapatan sebesar Rp3,09 triliun yang meningkat sebesar 78,7 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Dari pendapatan tersebut, menariknya diperoleh laba yang meningkat sampai dengan 4,3 kali lipat. Lebih detail, dari yang sebelumnya hanya diperoleh laba senilai Rp134,25 miliar, kemudian di tahun ini meroket menjadi Rp714,68 miliar.

Layanan rawat inap nyatanya tetap menjadi penyumbang pendapatan yang mendominasi dengan besar persentase sebesar 71,63 persen atau mencapai Rp2,22 triliun dari total pendapatan. Kontribusi layanan ini meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya, yang menyumbang 64,67 persen dari total pendapatan.

Persentasi pendapatan sisanya disumbangkan dari layanan rawat jalan yang diketahui memberikan kontribusi pendapatan sebesar Rp856,95 miliar. Angka itu diperoleh melalui layanan penunjang medis dan diagnostik yang biasanya diperlukan untuk pemeriksaan kondisi, terkait pengobatan Covid-19.

Menilik Keberadaan Telemedicine dan Startup Kesehatan di Indonesia

Saham Siloam yang mengganas dan emiten kesehatan yang diprediksi menguat

Pergerakan harga saham RS Siloam
info gambar

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kinerja keuangan gemilang dari perusahaan kesehatan yang terdaftar sebagai emiten di BEI nyatanya membuat nilai atau harga saham dari perusahaan terkait menampilkan catatan hijau di lantai bursa.

Sebagai contoh, Siloam menjadi salah satu pihak yang sampai saat ini masih mencatatkan performa baik di pasar saham sepanjang semester I 2021, sejalan dengan laporan keuangan yang sebelumnya dilaporkan meningkat.

Jika melihat harga sama di situs BEI, nilai saham Siloam yang tercatat sebagai emiten dengan kode nama SILO berada di harga Rp5.650 per lembar saham pada awal tahun, tepatnya 4 Januari 2021. Walau sempat mengalami beberapa kali penurunan, namun per hari Senin (2/8/2021), nilai saham dari Siloam nyatanya ditutup dengan harga Rp8.600 per lembar saham, atau naik sekitar 50 persen.

Dalam rentang waktu 6 bulan atau selama semester I 2021 ini, nilai saham tertinggi yang berhasil diraih Siloam berada di harga Rp10.725 pada tanggal 12 Juli lalu. Pergerakan harga saham Siloam tersebut hanya salah satu contoh dari beberapa emiten perusahaan di sektor kesehatan lainnya yang juga mengalami peningkatan cukup signifikan.

Menanggapi fenomena kinerja keuangan sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan, yang juga dibarengi dengan meroketnya harga saham, ternyata tidak dipandang sebagai hal yang mengejutkan oleh Analis Senior CSA Research Institute, Reza Priyambada.

Menukil Idxchannel, Reza mengungkap bahwa adanya kasus penyakit selain Covid-19 yang terjadi di masa pandemi juga menyebabkan industri kesehatan mengalami peningkatan kinerja yang signifikan.

"Di tengah kondisi pandemi seperti saat ini, tidak hanya masalah Covid, adanya penderita penyakit lainnya yang harus mendapatkan pelayanan RS akan memicu permintaan, sehingga akan menambah sumber pendapatan dari RS" pungkas Reza.

Arsitek Pembangunan Rumah Sakit Corona Adalah Pria Kelahiran Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini