Kilas Balik, Gelora Nasionalisme dari Bulu Tangkis

Kilas Balik, Gelora Nasionalisme dari Bulu Tangkis
info gambar utama

Pada tahun-tahun 50 an, satu-satunya media elektronik di negeri kita ini hanyalah radio (TV belum ada), karena itu semua rakyat Indonesia ini sumber informasinya adalah radio milik negara yaitu RRI – Radio Republik Indonesia (disamping koran).

Tak terkecuali penduduk di kampung saya di Kapasari Surabaya selalu mendengarkan RRI dalam program drama, atau kesenian ludruk dan pidato Bung Karno seta acara pertandingan bulu tangkis Thomas Cup. Acara dua terakhir ini yang membuat semua orang yang terkesima–takjub dan berdetak jantungnya.

Pidato Bung Karno dengan suara menggelegar dan perjuangan para pemain bulu tangkis nasional di penghelatan/pertandingan Thomas Cup di Inggris, membuat pendengar RRI tidak beranjak dari tempat duduk.

Saya termasuk anak-anak kecil yang ikut duduk di teras rumah orang yang menyetel/menghidupkan RRI itu. Kampung-kampung di kota Surabaya (dan diseluruh negeri) serasa sepi dan dan tegang manakala mendengarkan siaran langsung pertandingan bulu tangkis dunia ini.

Rakyat bersorak dan berteriak bangga manakala para pahlawan bulu tangkis kita, antara lain Ferry Sonnevile (waktu itu masih muda, berumur 27 tahunan), Tan Joe Hok, Tan Kin Gwan, Nyoo Kim Bie, dan Eddy Yusuf, berhasil menundukkan lawan-lawannya.

Seingat saya, sepi nya kota dalam event ini hampir sama dengan ketika seluruh orang di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia melihat tayangan TV pada saat Muhammad Ali--petinju legendaris Amerika Serikat bertanding.

Yang membuat kagum bangsa ini, atau yang membuat rasa nasionalisme kita meningkat adalah kenyataan, bahwa Indonesia memenangkan ajang pertandingan bulu tangkis dunia ini sebanyak 13 kali, berturut-turut dari tahun 1958, 1961, 1964, 1970, 1973, 1976, 1979, 1984, 1994, 1996, 1998, 2000, dan 2002.

Kemenangan Indonesia dalam ajang bergengsi dunia ini pada tahun 50 sampai 60-an lah yang rasanya membuat rasa nasionalisme kita lebih terasa, karena tahun-tahun itu Indonesia sedang mengalami berbagai bentuk pemberontakan dalam negeri dan berperang dengan negara asing, misalkan konfrontasi dengan Malaysia yang dibantu Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Selandia Baru, serta melawan Belanda dalam perebutan Irian Barat.

Banyak rakyat terharu dan menangis bila mendengar lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan setiap kali pahlawan bulu tangkis kita berjaya. Bulu kuduk kita berdiri merinding ketika teriakan MERDEKA! dan INDONESIA! dari rakyat kita, setelah selesainya lagu kebangsaan dikumandangkan.

Momen demam olahraga bulu tangkis ini memunculkan rasa nasionalisme yang tinggi, karena meskipun Indonesia adalah negara miskin--waktu itu, tapi mampu berjaya di level dunia dengan berhasil menjadi juara bulu tangkis internasional beberapa kali.

Berbagai kemenangan Indonesia di laga bulu tangkis dunia ini menimbulkan demam permainan jenis olahraga ini dimana-mana. Warga kampung yang tidak memilik lahan untuk olahraga, membuat lapangan bulu tangkis di kampungnya secara sederhana dengan membuat garis putih sebagai tanda itu adalah area untuk bulu tangkis atau badminton.

Saya melihat pemandangan dimana-mana warga bermain badminton, penjualan raket dan shuttle cock nya laris manis, dan disetiap pertandingan olahraga dalam acara 17 Agustusan, cabang olahraga bulu tangkis ini pasti menjadi cabang olahraga utama.

Saya dan teman-teman kecil tentu tidak ketinggalan terjangkit demam bulu tangkis ini dengan membeli raket bekas atau “rombengan” atau beli di pasar loak atau pinjam teman yang mempunyai raket. Saya sering menonton kakak sepupu saya (almarhum) Cak Tholib, bertanding hampir setiap sore melawan tetangga kami warga keturunan China, namanya Om Hendrick.

Ditengah-tengah pandemi covid-19 yang melanda dunia dan negara kita seperti sekarang ini, jarang kita mendengar lagu kebangsaan Indonesia sambil menangis haru. Kita memang masih sering mendengar lagu kebangsaan itu, tapi lewat acara zoom, dan kadang kita menyanyikannya hanya sekadar mengikuti prosedur protokoler acara itu tanpa melibatkan emosi kebangsaan.

Maklum, pandemi ini menyebabkan perubahan cara hidup kita termasuk ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Namun tiba-tiba, gelora nasionalisme yang saya alami saat masa kecil itu muncul kembali bersama seluruh rakyat Indonesia, ketika melihat video yang berseliweran di sosial media dan berita TV tentang kemenangan pemain bulu tangkis Indonesia, yakni dua wanita muda dari Sulawesi–Apriyani Rahayu dan Greysia Polii di ajang Olimpiade Tokyo Jepang, pada awal bulan Agustus 2021.

Mereka memenangkan pertandingan final bulu tangkis melawan Jia Yifan dan Chen Qingchen dari Cina di Musashino Forest Sport Plaza Tokyo. Saya melihat laporan wartawan TV internasional Al-Jazeera tentang sambutan seorang warga atas kemenangan kedua srikandi bulu tangkis itu yang berada di suatu apartemen di Jakarta.

Dia mendengar teriakan keras INDONESIA!!! dari warga yang tinggal di tingkat bawah warga itu tinggal. Dan saya pun bersama rakyat Indonesia ikut menangis bersama dua wanita pejuang bulutangkis yang dengan sikap hormat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sebelum penyerahan medali emas.

Momen itu merupakan hadiah bagi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 76 tahun ini.

MERDEKA!, INDONESIA!

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Penulis aktif menulis di Koran Jawa Pos, Surya, dan rutin menulis di GNFI. Beberapa tulisannya acapkali dimuat/dikutip Koran Malaysia dan Thailand. Penulis juga tersohor sebagai akademisi sekaligus professional di kota kelahirannya, Surabaya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Ahmad Cholis Hamzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Ahmad Cholis Hamzah.

AH
AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini