Tong Sin Fu, Pencetak Generasi Emas Bulu Tangkis Indonesia yang Terlupakan

Tong Sin Fu, Pencetak Generasi Emas Bulu Tangkis Indonesia yang Terlupakan
info gambar utama

Hariyanto Arbi menghabiskan malam dengan berbincang-bincang. Lawan bicaranya di kamar itu adalah Tong Sin Fu. Banyak yang dibicarakan malam itu, namun yang paling utama adalah soal masa depan Tong Sin Fu. Om Tong--panggilannya--mengaku gerah dan resah dengan kondisinya saat itu.

Pengajuan status Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah lama diurus kembali mentah. Indonesia akhirnya kehilangan sosok besar di dunia bulu tangkis setelah Tong dengan sangat terpaksa akhirnya harus pindah ke China sebagai pelatih. Permasalahan kewarganegaraan memaksa dirinya angkat kaki dari Tanah Air.

Tong tidaklah lahir di China. Dia lahir di Teluk Betung, Lampung, pada 13 Maret 1942. Ketika masih menangani timnas Indonesia, dia bernama Fuad Nurhadi. Kariernya dimulai dari pemain bulu tangkis yang bakatnya mulai terlihat ketika masuk ke kelas junior. Saat memasuki usia senior, dia memutuskan hijrah ke China untuk belajar.

Rupanya keinginan untuk turun ke lapangan tetap membara. Tapi kondisi politik China saat itu tak memungkinkan dia untuk tampil di turnamen internasional. Prestasinya pun mentok di Ganefo edisi 1963 dan 1966 sebagai juara tunggal putra. Namanya mulai meroket sejak pemerintah China mulai terbuka. Oleh media Eropa, Tong dijului The Thing.

Sejarah Baru Terukir di Tokyo

Setelah pensiun dia menjadi pelatih di China pada akhir 1979. Kemudian pada 1986, Tong diminta ke Indonesia untuk melatih Pelita Jaya milik Aburizal Bakrie. Saat itu, dia dikontrak 750 dolar AS per bulan. Barulah Tong ditarik ke Pelatnas Cipayung. Melalui tangan dinginnya, sejumlah pemain bintang pun ia lahirkan.

Dari sanalah sejak 1987 sampai 1998, Tong sukses melahirkan generasi emas tunggal putra Indonesia yang mendominasi dunia. Dirinya sukses memoles para pemain, seperti Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Ardy B. Wiranata, dan Hariyanto Arbi. Bintang terakhir yang mengkilat di tangannya adalah Hendrawan.

Pencapaian terdahsyat anak asuhan Tong terjadi pada Olimpiade Barcelona 1992. Kali pertama bulu tangkis dipertandingkan di Olimpiade, tiga wakil tunggal putra Indonesia mendominasi total dengan menyapu bersih medali. Alan dan Ardy meraih emas dan perak dengan menciptakan All Indonesian Final. Sementara itu Hermawan meraih perunggu.

"Salah satu pesan yang saya ingat dari Om Tong adalah 'jangan pernah sombong karena itu adalah awal kehancuran seorang atlet.' Itu yang masih saya ingat," kisah Alan.

Setelah pindah ke China, Tong tak kehilangan daya magisnya. Ia ikut membidani lahirnya generasi baru China, macam Ji Xinpeng, Lin Dan, Cai Yun, hingga Fu Haifeng. Sukses Lin Dan menjelma jadi pebulutangkis yang dominan di akhri 2000-an hingga awal 2010, boleh jadi tak lepas dari tangan dingin Tong.

Saat itu, Tong berhasil membentuk karakter dan gaya main Li Dan sejak usia muda. Sehingga Lin Dan berhasil meraih dua medali emas Olimpiade, lima gelar kejuaraan dunia, dan sederet gelar bergengsi lainnya. Padahal, Lin Dan mengaku ingin mundur dari dunia bulu tangkis pada 2014 silam.

"Tang adalah pelatih saya, tapi saya juga menyapa dia dengan opa. Dia seorang pelatih yang bertanggung jawab," kata Lin Dan saat menilai Tang Xianhu--nama Tong Sin Fu di China.

"Saya beruntung ditangani langsung oleh dia. Dia tak hanya memoles teknik saya tapi juga menuntun hidup saya," kata pemain berjuluk "Super Dan" itu.

Gaya disiplin Tong Sin Fu

Sementara Finarsih--pemain ganda putri Indonesia, selamanya tidak akan melupakan jasa Tong Sin Fu. Pria kelahiran Teluk Betung ini sukses menyulap Finarsih dan ganda putri Indonesia sebagai salah satu kekuatan terpenting di dunia. Padahal menurut Hariyanto Arbi, ketika Tong masuk pada 1990, ganda putri Indonesia tak lagi dianggap serius.

Nama-nama seperti Verawaty Fadjrin, Rosiana Tendean, dan Erma Sulistianingsih, sudah berada di ujung karier. Selain itu, ketiganya tidak benar-benar menjadi kekuatan menakutkan di ganda putri dunia.

"Benar-benar dari nol," ucap Hari--sapaan Hariyanto Arbi, dalam Jawapos.

Menurut Finarsih, ketika dirinya baru menembus senior, dia malah mendapat latihan sangat mendasar dari pelatih yang juga dipanggil dengan nama Tang Xianhu ini. Tidak tangung-tanggung, Tong mengajari Finarsih cara memegang raket. Setiap kali berlatih, mereka menonton video, lalu kekurangan dievaluasi dengan detail.

Selama dua bulan penuh tanpa putus, Tong mengajari Finarsih--yang notabene pemain top nasional--melalui cara memegang raket dengan benar.

"Tangan saya sampai lecet-lecet," kenang Finarsih.

Ketika Indonesia Berhasil Kawinkan Medali Emas Olimpiade Barcelona 1992

Walaupun dilatih dengan sangat keras, Finarsih memiliki kenangan sangat manis berlatih bersama Tong.

"Dilatih Om Tong itu enak banget," kata Finarsih.

"Kalau dalam pertandingan, dilihatin Om Tong itu rasanya senang banget. Asyik bener. Ada kan pelatih yang sok strength tapi nggak ada wibawa. Om Tong ini benar-benar disiplin, tapi ada karisma. Dia nggak banyak ngomong, tapi kami mengikuti apa yang dia mau. Kalau salah ya tetap dimaki-maki, tapi kalau sudah ya sudah. Sama sekali nggak ada dendam," imbuhnya.

Selain detail, kelebihan Tong adalah dia sangat inovatif. Salah satu penemuan terbaiknya adalah latihan shadow di atas medan pasir. Tujuannya adalah untuk memperkuat kaki dan membuat gerakan para pemain semakin lincah. Sampai saat ini, latihan peninggalan Tong itu masih digunakan di pelatnas Cipayung.

Walaupun sangat keras dalam latihan, Tong juga memiliki sifat ngemong. Di luar lapangan, Tong membantu para pemainnya untuk menjadi manusia dengan karakter kuat dan positif. Selain sebagai pelatih, Tong bisa dengan mudah mengenali karakter setiap pemainnya. Dia bisa tahu metode latihan apa yang cocok dengan kemampun para pemain secara induvidual.

Hal inilah yang membuat Hari menjadi kampiun back-to-back All England pada 1993 dan 1994. Selain itu Hari menikmati statusnya sebagai pemain nomor satu dunia. Juga empat kali membantu Indonesia menjadi juara Piala Thomas. Sementara itu Finarsih/Lili dan Eliza/Zelin, menjadi peraih gelar Piala Uber secara back-to-back pada 1994 dan 1996.

"Latihannya Om Tong memang berat. Tapi kami sudah tahu tujuannya. Tujuannya adalah di sana menjadi juara. Latihannya akan begini, latihannya begitu. Jadi, kami sebagai pemain harus menyesuaikan. Dalam konteks ini, tujuannya atlet dan pelatih sama. Pelatih menyusun program yang bagus. Pemain bisa menjadi juara," papar Hari.

Pergi dengan hati terluka

Sebagai teman sekamar, Tong memang kerap curhat kepada Herry IP, pelatih ganda putra Indonesia. Tong saat itu curhat tentang status kewarganegaraan yang tidak jelas di Indonesia. Saat dia hendak pindah ke China, Herry mengatakan bahwa Tong luar biasa bimbang. Kalau mau memilih, Tong ingin tetap berada di Indonesia.

Tapi akhirnya dengan hati sangat terluka, pada 1998 Tong pergi dari Indonesia. Dengan terpaksa, di tengah ketidakpastian dan kegamangan, Tong menerima pinangan sebuah klub lokal di Provinsi Fujian, China. Perasaan Tong memang perih sebab seorang aparat pemerintah menipunya.

Tong mengangsurkan uang antara Rp30-50 juta agar permohonannya menjadi WNI diterima. Jumlah yang sangat besar untuk tahun 1990-an. Tetapi, setiap kali maju imigrasi, Tong selalu menghantam tembok. Dia diminta untuk mengulang prosesnya menjadi WNI sejak awal. Hingga pada akhirnya dirinya menyerah.

BWF: Liliyana Natsir Atlet Bulu Tangkis Wanita Terbaik Sedekade

Oleh pihak China, Tong tidak diperlakukan sebagai pelatih baru. Semua jasanya dihitung, dia langsung diberi rumah dan fasilitas. Pensiunnya dijamin, gajinya disesuaikan dengan levelnya yang tinggi. Kepedulian China kepada Tong juga jauh lebih tinggi.

"(Bagi Indonesia) kepergian Om Tong adalah kehilangan besar, tapi organisasi (PP PBSI) tidak merasa kehilangan. Ya dilepas saja. Tetapi kan atletnya merasa kehilangan. Mungkin kita jemawa karena merasa sudah menang. Mungkin, organisasi merasa bahwa ini semua karena pemain. Jadi kepergian Om Tong tidak ditahan," kata Hari.

"Padahal tidak seperti itu. Pemain bisa merasakan sendiri bagaimana andil Om Tong kepada kami," ucap pemain asal Kudus itu.

Akhirnya pada 1998, hari itu sejumlah pemain top dunia asal Indonesia mengantar dan melepas seorang pelatih legendaris Tong Sin Fu di Bandara Soekarno-Hatta. Mungkin hanya itu cara bagi Alan, Hendrawan, Indra Wijaya, dkk, untuk mengucapkan rasa terima kasih dan hormat kepada pelatih yang begitu mereka cintai.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini