Fakta Bedak Saripohatji, Kosmetik Berbahan Alami Umurnya Hampir Seabad

Fakta Bedak Saripohatji, Kosmetik Berbahan Alami Umurnya Hampir Seabad
info gambar utama

Bagaimana cara orang zaman dahulu melakukan perawatan kulit? Salah satunya dengan menggunakan bedak dingin, produk kecantikan tradisional yang terbuat dari tepung beras dan rempah-rempah. Disebut demikian karena bedak memberikan sensasi dingin saat diaplikasikan pada wajah.

Salah satu jenama bedak dingin yang legendaris, terutama bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya adalah bedak Saripohatji. Bagaimana tidak? Bedak yang diproduksi sejak era kolonial Belanda, tepatnya pada tahun 1927 ini masih eksis di tengah gempuran produk kecantikan modern. Baik komposisi, cara pembuatan, kemasan, dan namanya yang masih menggunakan ejaan Van Ophuijsen belum banyak berubah.

4 Fesyen Lokal yang Konsisten Lestarikan Wastra Nusantara

Bedak yang wujudnya menyerupai kapsul ini digemari karena berkhasiat menghaluskan dan mencerahkan kulit wajah. Keterangan dalam kemasan turut menyebutkan fungsi bedak untuk mengobati jerawat, ketuwuhan (ketuaan dini), hingga sariawan.

Caranya penggunaannya, bedak dapat digunakan langsung setelah dihaluskan atau diencerkan dengan air mawar untuk diaplikasikan, seperti masker wajah. Kaum pria juga bisa menggunakan bedak Saripohatji, terutama untuk menghilangkan jerawat.

Keunggulan dan pembuatan bedak Saripohatji

Bentuk bedak yang bergambar kapsul. (Sumber : instagram.com/ayira.shop)
info gambar

Keunggulan lain dari bedak saripohatji adalah seluruh komposisinya terdiri dari bahan alami. Selain tepung beras yang menjadi bahan utama, terdapat jeruk nipis, kunyit, temulawak, tomat, serta bermacam daun seperti beung beureman, jambu, mangkokan, pandan, suji, dan teklan.

Nama Saripohatji sendiri diambil dari nama Sri Pohaci. Dewi yang kerap dihubungkan dengan padi, serta kecantikan dalam kepercayaan masyarakat Sunda.

Saripohatji diproduksi dari pabrik skala rumahan yang berlokasi di Jalan Ir. H. Juanda, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis. Keberadaan pabrik yang berarsitektur kolonial tersebut membuat area sekitarnya dikenal sebagai Saripohaci.

Cara Kosmetik Lokal Adaptasi dengan Era Industri 4.0

Cara pembuatan bedak diawali dengan merendam bahan-bahan herbal selama dua hari, sebelum akhirnya ditumbuk dan diendapkan. Setelah bahan dicampur dengan tepung, kemudian dibentuk menjadi kapsul-kapsul bedak oleh tangan terampil para pekerja.

Agar awet, bedak dikeringkan dengan dijemur di bawah sinar matahari. Tahapan produksi yang terbilang masih tradisional ini dilakukan agar kualitas bedak tidak berubah.

Soal harga, Saripohatji tergolong murah. Setiap bungkus yang berat bersihnya 20 gram, dijual dengan harga berkisar Rp3.000 saja dan produk telah mengantongi izin edar dari Departemen Kesehatan. Tersedia pula kemasan kardus yang memuat 50 bungkus bedak.

Perjalanan bedak Saripohatji

Potret bedak legendaris | Foto: Carousell
info gambar

Dahulu, kosmetik tidak mudah didapatkan sehingga seseorang perlu membuatnya sendiri. Begitu juga dengan Siti Marijah yang awalnya membuat bedak Saripohatji untuk konsumsi pribadi.

Rupanya, bedak racikan Marijah diminati banyak orang sehingga berkembang menjadi bisnis. Para wanita Belanda pun menjadi konsumen dari bedaknya. Sebelum menggunakan kemasan ikonik yang bertahan sampai sekarang, bedak hanya dibungkus dengan daun.

Sepeninggal Marijah yang wafat pada tahun 1959 silam, usaha diteruskan oleh Harjo, suami Marijah. Tampuk bisnis kemudian berlanjut pada Neneng Fatimah selaku istri kedua Harjo dan diteruskan oleh istri ketiga, Ocoh Setiawati.

Jalan Panjang Jenama Indonesia yang Mendunia 

Saripohatji sempat berjaya pada era 1960 hingga 1980-an. Pada saat itu, penjualan meluas sampai Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kini, dengan umur produksi yang hampir seabad, usaha dipegang oleh generasi ketiga dari Marijah.

Nama dan kemasan yang terbilang jadul sengaja dipertahankan agar konsumen tetap mengenali produk. Dengan begitu, jaminan akan mutu menjadi tetap dan tidak berubah seiring waktu.

Konsumen Saripohatji juga terdiri dari anak muda yang rata-rata mengenalnya dari orang tua mereka. Popularitas Saripohatji juga terdongkrak lewat banyaknya konten Youtube para vlogger kecantikan yang mengulas efektivitas bedak Saripohatji. Kini, Saripohatji tidak hanya dijual di warung-warung tradisional, tetapi juga banyak tersedia dalam e-commerce.*

Referensi: Youtube | Harapan Rakyat

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FW
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini