Kehebatan Kapal Padewakang sang Pendahulu Pinisi yang Berlayar Hingga Australia

Kehebatan Kapal Padewakang sang Pendahulu Pinisi yang Berlayar Hingga Australia
info gambar utama

Banyak yang mengatakan bahwa nenek moyang orang Indonesia adalah seorang pelaut. Ternyata, hal itu bukanlah ucapan semata. Adanya kapal padewakang menjadi salah satu bukti keberanian pendahulu kita dalam mengarungi samudra.

Seperti halnya peradaban manusia, kapal pun turut melalui evolusi. Kapal Padewakang adalah salah satunya. Berawal dari perahu cadik sederhana, muncul lah kapal padewakang dengan dua layar tangguh untuk mengarungi lautan sebagai kapal dagang dan kapal perang.

Kapal yang diduga telah eksis sejak ribuan tahun yang lalu ini memiliki sejarah dan cerita yang menarik. Mari simak perjalanan padewakang dalam ulasan berikut.

Melihat Perkembangan Kapan Pinisi dan Budaya Maritim Nusantara

Padewakang sang pendahulu pinisi

Evolusi Kapal Layar Padewakang Aziz salam dan Osozawa Katsuya (2008)
info gambar

Merupakan kapal dagang yang digunakan oleh penduduk Sulawesi Selatan, Makassar, dan Bugis pada abad ke-16 hingga awal abad ke-20, kapal padewakang juga disebut-sebut sebagai kapal rempah atau dagang pertama di Nusantara.

Padewakang memiliki struktur yang unik. Hal ini dikarenakan tidak adanya unsur logam yang ditanam dalam tubuh kapal. Semua sambungan papan menggunakan ratusan pasak kayu yang terpasang tanpa bersinggungan dan tidak saling potong.

Ciri khas dari kapal padewakang yang membedakannya dari pinisi terletak pada layarnya. Jenis layar yang disebut orang Mandar sebagai “sombal tanjaq” atau layar tanja ini memiliki gaya khas Austronesia yang berbentuk dua layar segiempat.

Dilansir dari gatra.com, bentuk layar ini juga tergambar dalam relief Candi Borobudur. Evolusi dua layar yang menjadi palari (perahu tujuh layar) ini yang menandai evolusinya padewakang ke pinisi.

Dinilai sangat autentik, kapal padewakang menjadi andalan Indonesia pada Pameran Archipel yang berlangsung di Liege, Belgia, pada Oktober 2017 hingga Januari 2018 lalu. Bahkan, salah satu peneliti kebudayaan maritim Indonesia asal Jerman, Horst H. Liebner, mengungkapkan bahwa pemilihan padewakang sebagai objek pameran dikarenakan kapal remah ini merupakan yang pertama dan belum terpengaruh kapal Eropa.

Kora-Kora Kapal Perang Kebanggan Ternate yang Usir Portugis dari Maluku

Kapal dagang pembawa teripang

Komoditas utama yang diperdagangkan oleh nenek moyang kita hingga rela membelah lautan ialah teripang. Dahulu, lebih dari seribu pedagang dengan kapal padewakang akan berlayar dari Makassar menuju pantai utara Australia, wilayah Arnhem, Semenanjung Carpentaria, dan pantai Kimberley untuk berjualan teripang.

Teripang ini kemudian diperjualbelikan dengan para pedagang Cina dan penduduk asli Australia, suku Aborigin. Pertemuan ini juga turut mempercepat adanya pertukaran budaya dan persahabatan yang terjalin antara Indonesia dan Australia. Beberapa suku Aborigin ada yang ikut berlayar bersama kapal padewakang lalu menikah dan menetap di Makassar.

Selain sebagai kapal dagang teripang, padewakang juga difungsikan VOC untuk mengantar surat dan sebagai kapal patroli. Umumnya, kapal ini dipersenjatai dengan meriam tradisional seperti cetbang atau lantaka. Persenjataan ini mengantarkan padewakang sebagai kapal perang yang telah ratusan tahun berlayar.

Ini 5 Kapal Tradisional Khas Indonesia Bukti Nenek Moyang Seorang Pelaut

Mengarungi samudra hingga ke Australia dan pulau Madagaskar

Salah satu kehebatan kapal padewakang yang paling terkenal ialah ketangguhannya dalam pelayaran jarak jauh. Dalam penjelajahannya, kapal ini tidak hanya melayari seluruh Indonesia, namun juga berlayar hingga ke Filipina, Semenanjung Malaya, Teluk Persia, dan pulau Madagaskar.

Penjelajahan ini juga turut menciptakan akulturasi budaya dan percampuran garis keturunan. Peneliti Universitas Massey, Selandia Baru, menyimpulkan bahwa terdapat sekitar 22 persen dari 266 orang Madagaskar di Afrika yang memiliki persamaan kode genetik dengan orang Indonesia.

Diduga, Pulau Madagaskar pertama kali dihuni oleh pendatang asal Nusantara yang berlayar sejauh 8 ribu kilometer dari Kalimantan dan Sulawesi untuk mencapai wilayah tersebut. Tentunya, pelayaran tersebut menggunakan kapal padewakang sebgaai transportasi utama.

Padewakang Nur Al Marege pada Napak Tilas Sejarah Maritim Indonesia | Ridwan Alimuddin
info gambar

Padewakang telah punah sejak pemakaian kapal pinisi yang dinilai lebih efisien. Replika padewakang pertama dibangun pada tahun 1987 dengan nama Hati Marege. Perahu yang diinisiasi dan dilayarkan dalam Ekspedisi Pelayaran Teripang ke Darwin ini disimpan di Museum Maritim Darwin, Australia. Replika selanjutnya terus dibangun untuk keperluan ilmu pengetahuan dan antropologi, salah satunya Padewakang Nur Al Marege yang tiba di Cullen Bay pada Januari 2020.

Kapal padewakang kini telah punah secara bendawi. Hanya tersisa memori, replika, dan cerita yang dapat kita bagikan dari masa ke masa untuk mengenang kehebatan nenek moyang beserta kapal ciptaannya.* (COMM/NAK)

Referensi:gatra.com | Jeda.id | Kumparan | Dari Laut Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini