Misteri Lampor yang Kehadirannya jadi Pertanda Wabah Mematikan

Misteri Lampor yang Kehadirannya jadi Pertanda Wabah Mematikan
info gambar utama

Mitos lampor di tanah Jawa memang sangat kental. Lampor adalah iblis dengan keranda terbang yang datang pada malam hari. Karena itu, di Jawa Tengah ada larangan keluar rumah bagi setiap orang mulai menjelang Magrib, karena menjadi waktu keluarnya lampor. Menurut mitos, bisa saja orang yang keluar pada malam hari akan hilang diculik lampor.

Memang ada banyak versi seputar lampor, salah satunya masyarakat Jawa percaya bahwa Lampor adalah anggota pasukan gaib Nyi Blorong. Kehadirannya ditandai dengan angin kencang dari Laut Selatan yang melewati sejumlah daerah. Mengenai wujudnya sendiri, masyarakat memiliki kepercayaan yang berbeda-beda.

Beberapa menyebut lampor berbentuk bola arwah, terkadang juga muncul sebagai rombongan prajurit Jawa zaman dahulu. Di daerah Jawa Timur, lampor dipercaya berwujud setan atau pocong yang bisa membunuh manusia dalam tidur. Sedangkan di Cirebon, lampor disebut berwujud Wewe Gombel, Sandakala, dan Bengaok.

Bengaok merupakan makhluk gaib berwujud burung hantu. Ketika petang menjelang, bila terdengar suara burung, Bengaok akan menculik sang anak yang masih berkeliaran di luar rumah. Begitu juga Sandakala, atau makhluk halus yang muncul pada saat pergantian siang dan malam.

Wewe Gombel pun disebut sering muncul di waktu yang hampir sama. Makhluk gaib yang konon berjenis kelamin wanita ini bahkan tetap berkeliaran sampai malam, dengan misi menculik anak kecil. Karena itulah orang tua di Jawa sering menakut-nakuti anak yang gemar bermain hingga lepas magrib.

Misteri Sanja Kuning, Ketika Orang Tua Larang Anak Keluar Rumah Jelang Magrib

Orang tua di Jawa juga sering mengingatkan anaknya agar tidak suka berteriak, sehingga mirip dengan lampor. Pasalnya lampor datang dengan suara yang berisik. Karena itulah saat angin datang, masyarakat membuat suara gaduh dengan memukul kentongan. Tujuannya, agar lampor tidak mampir ke kawasan itu dan memicu pagebluk atau musibah.

Suara gaduh dari lampor dipercaya sebagai suara iring-iringan kereta kuda dan barisan pasukan dari Laut Selatan yang akan menuju Gunung Merapi atau Keraton Yogyakarta. Selain itu, ada versi lain yang menyebut kedatangan lampor merupakan bentuk kemarahan Nyi Blorong yang kehilangan selendang.

Tapi yang pasti, masyarakat Jawa percaya kedatangan lampor selalu disertai dengan pageblug atau wabah penyakit, dan seringkali terjadi di bulan Sapar (peninggalan Jawa). Lampor dipercaya akan membunuh orang dalam tidurnya. Mereka yang didatangi lampor di malam hari akan dicekik atau dibawa menggunakan keranda, jika itu terjadi, mereka akan mati seketika.

Namun, lampor juga memiliki kelemahan. Dipercaya bahwa lampor tidak bisa berjongkok atau duduk. Sehingga korban yang seringkali didatangi adalah mereka yang tidur di atas kasur atau dipan. Konon masyarakat menghindar dari lampor dengan cara tidur di bawah dipan atau lantai. Hal ini membuat lampor tidak bisa mencekik mereka.

Pada 2001 lalu, diceritakan warga Semarang menggantungkan plastik berisi air berwarna di depan pintu untuk melawan wabah atau pagebluk yang disebabkan lampor. Cara ini dharapkan bisa menangkal datangnya pagebluk yang disebabkan kemarahan dari Nyi Blorong.

Mitos lampor dan desas-desus penyakit

Mitos lampor ini mulai populer di Jawa pada tahun 1960-an. Sebenarnya mitos ini menjadi salah satu cara agar anak-anak tetap berada di dalam rumah saat malam hari. Selain itu, munculnya mitos lampor juga bertepatan dengan wabah penyakit yang menyerang pada saat itu sehingga tidak sedikit orang yang meninggal dalam tidurnya.

Menukil dari Historia, Dwi Cahyono, arkeolog yang mengajar sejarah di Universitas Negeri Malang, mengatakan munculnya isu setan lampor memang marak muncul di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 1960-an. Tapi lambat laun cerita tersebut perlahan menghilang. Munculnya cerita ini memang terkait wabah penyakit pada masa lampau.

"Wabah penyakit dalam konsepsi lama direlasikan dengan peristiwa mistis, seperti pada hantu lampor," kata Dwi.

Terkadang dalam percakapan, kata lampor disandingkan dengan kata pagebluk, menjadi pagebluk lampor. Lampor secara harfiah berasal dari kata Jawa Kuna, lampur. Artinya mengembara atau bepergian. Sementara pagebluk adalah istilah Jawa untuk menyebut wabah penyakit.

Istilah pagebluk lampor kemudian memberi penegasan kalau pada masa lalu mungkin pernah terjadi wabah penyakit yang dahsyat dampaknya. Soal dahsyatnya wabah penyakit ini ternyata ada perkataan dalam bahasa Jawa baru yang populer.

"Isuk loro, sore mati, ini kan memberi gambaran betapa ganas penyakitnya, dalam durasi sesingkat itu orang mati," ujar Dwi.

Legenda Kyai Sengkelat, Keris yang Bisa Usir Wabah Penyakit dari Majapahit

Menurut Dwi, dalam kisah Babad Tanah Jawi setelah Amangkurat I wafat, Mataram tertimpa musibah yaitu banyak orang yang sakit, negara rusak, udara tidak baik, makanan mahal, hujan tidak turun, sehingga udara begitu panas. Negara Mataram begitu panas seperti terbakar, banyak orang meninggal dan pengemis tersebar di sepanjang jalan.

"Banyak penderita sakit borok, kudis, pathek, bubul, dan sejenisnya. Orang yang sakit waktu itu mulai mencari pertanda atau tetenger sebelum wabah datang. Pada zaman Mataram Islam misalnya pageblug dihubungkan dengan kemunculan bintang berekor atau komet. Orang Jawa menyebutnya lintang kemukus," kisah Dwi.

Selain tanda adanya wabah penyakit pada manusia, lintang kemukus juga memberi pertanda ada wabah penyakit yang akan menyerang hewan. Ada pertanda kalau kerbau dan sapi banyak yang mati, itu disebutnya aratan. Bila lintang muncul di arah barat daya dan di barat laut, ada pertanda alam yang di masa lalu dipersepsi sebagai tengara tentang adanya kematian.

“Lampor itu juga merupakan keyakinan lokal yang sebenarnya tidak secara langsung bicara tentang penyakit tapi ada dampak yang berhubungan dengan penyakit. Karenanya musibah yang terjadi akibat wabah penyakit bisa disebut sebagai malapetaka,” terang Dwi.

Menurut Cahyono, secara harfiah, dalam konteks Jawa Kuno dan Jawa Tengahan kata "mala" berarti kotor, cabul, najis secara fisik dan moral, noda, cedera, cacat, dan dosa. Kata itu bisa juga berarti malapetaka yang bertalian dengan bencana penyakit, yang kemudian diperluas artinya ke bermacam bencana.

Dengan pengertian itu, seringkali wabah penyakit yang termasuk ke dalam malapetaka tadi, disembuhkan tidak lewat penanganan medis. Ini merupakan suatu isu penyakit kemudian membias ke hal yang di luar penyakit. Misalnya, ada masyarakat yang membuat tumpeng untuk mengatasi serangan pageblug.

“Seperti dijumpai pada masyarakat Tengger, suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo dan Semeru, Jawa Timur, mereka memiliki Tumpeng Pras,” terang Cahyono.

“Berkenaan dengan cara tumpeng itu diperlakukan, setelah upacara, puncak tumpeng akan dikepras. Diyakini, pemotong ini salah satunya untuk menghilangkan penyakit. Jadi secara simbolik tumpeng dan praktik social distancing ini sama prinsipnya, memotong rantai penularan,” tegasnya.

Wabah penyakit dan harmonisasi alam

Orang Jawa percaya kemungkinan mereka sakit bergantung pada kualitas hubunganya dengan lingkungan. Mereka yakin bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari suatu tatanan kosmis sebagaimana menurut sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa III: Warisan Kerajaan Konsentris.

Ritual-ritual pedesaan seperti oleh masyarakat Tengger tadi, banyak dilakukan demi menjaga keserasian semesta. Antara desa dan kosmos harus seimbang agar kehidupan tak bergoyang. Sementara wabah penyakit yang menimpa manusia ataupun binatang adalah pertanda tentang adanya kekacauan di mikrokosmos.

“Adapun kemunculan lintang kemukus merupakan pertanda adanya krisis pada makrokosmosnya. Dalam kondisi normal komet akan tetap di garis orbitnya, tetapi hal ini seringkali dipercayai akan diikuti dengan penyimpangan mikrokosmos,” tulis Eko Punto Hendro dalam Pageblug: Tinjauan Aspek Antropologis untuk Mendukung Penerapan Protokol Kesehatan dalam Menghadapi Covid-19 di Jawa Tengah.

Orang Jawa memang sejak lama sudah berfikir kosmologis, yaitu suatu konsep keselarasan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Jadi bahwa manusia itu harus selalu menyelaraskan dengan alam kehidupannya. Apabila alam sudah memberi tanda-tanda pageblug, maka orang Jawa sering kemudian mengkaitkan dengan perilakunya sendiri.

Pusaka Ken Arok, Empu Gandring dan Tumbal 7 Nyawa

“Mereka melihat perilaku yang telah salah arah, dan sering dikaitkan dengan kondisi masyarakat yang sudah berada pada masa kaliyuga, yaitu tingkat kejahatan manusia sudah meningkat sampai di atas 75 persen, dan manusia diberi peringatan oleh dewa, dan apabila tidak bisa memperbaiki diri maka dunia (manusia) akan dihancurkan dengan istilah pralaya (Kiamat),” paparnya.

Jaman kaliyuga itu memang tidak hanya disebabkan oleh pageblug, tetapi juga bisa disebabkan oleh yang lainnya seperti gunung meletus atau bencana alam besar lainnya, termasuk adanya perang besar, yang menghancurkan sebuah kerajaan, maka dapat dikategorikan telah terjadi pralaya dan harus ditinggalkan.

“Oleh karena itu tidak mengherankan bila kerajaan-kerajaan di masa lalu selalu berpindah-pindah tempat ibukotanya, karena telah mengalami jaman kaliyuga sekaligus pralaya di tingkatan mikrokosmos, salah satunya ditandai dengan pageblug, maka ibukota harus segera pindah,” tambah Eko.

Menurut orang Jawa, alam itu tidak hanya memiliki kekuatan natural saja, tetapi juga memiliki kekuatan gaib. Bisa dari roh-roh penunggu dari orang yang sudah meninggal, maupun dari Tuhan yang maha kuasa. Sejak zaman megalitikum, orang Jawa telah menganggap bahwa orang-orang yang sudah meninggal terutama tokoh-tokoh terkemuka, arwahnya akan menempel di alam dan menggerakkan alam itu ke arah kebaikan.

Seperti melimpahkan hasil panen padi di sawah atau melimpahkan hasil tangkapan ikan di laut, serta penyembuhan penyakit. Tetapi roh-roh ini juga dipercaya bisa menggerakkan bencana alam, seperti gunung meletus, banjir, gempa, dan segala bentuk petaka pada manusia, termasuk pageblug ini.

“Maka masyarakat Jawa Tengah mengkaitkan peristiwa pandemi virus Covid-19 ini merupakan bagian dari sirkulasi alam dalam konsep caturyuga, sebagai peristiwa pageblug yang menandai situasi saat ini sudah masuk kepada zaman kaliyuga, yaitu zaman terakhir dalam sirkulasi caturyuga, yang dipahami oleh masyarakat sebagai zaman besi, yaitu bahwa tingkat kejahatan sudah mendekati 75 persen mendekati 100 persen,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini