Tipu-Tipu Soekarno Penjarakan Koes Bersaudara untuk Dijadikan Intel ke Malaysia

Tipu-Tipu Soekarno Penjarakan Koes Bersaudara untuk Dijadikan Intel ke Malaysia
info gambar utama

Malam baru saja merambat, ketika Tonny Koeswoyo atas permintaan tuan rumah mulai menyanyikan lagu The Beatles I Saw Her Standing There. Belum tuntas lagu ini dimainkan lemparan batu dari luar rumah sudah mulai jatuh seperti hujan. Tak cuma batu, teriakan juga terdengar dari puluhan pemuda yang berkumpul itu.

"Ganyang Ngak-Ngik-Ngok, Ganyang Neokolim, dan "Ganyang Manikebu".

Apa lacur, konser kecil pada 24 Juni 1965 itu sontak bubar jalan karena tamu tunggang-langgang dari tempat duduk. Koes Bersaudara dituntut minta maaf, wajib menyanyikan mars Nasakom Bersatu dan diminta berhenti memainkan ngak-ngik-ngok lagi.

Hal ini memang bermula dari 'fatwa' Presiden Soekarno bahwa rakyat Indonesia harus anti musik ngak-ngik-ngok--istilah yang digunakan Bung Karno sebagai padanan kata untuk menunjukan sikap anti musik Rock and Roll--kala itu. Menurutnya, musik-musik yang berasal dari luar harus enyah dari daratan bumi Indonesia.

Seperti apa yang tertangkap dari kutipan pidato bung Karno pada saat HUT GMNI 1965 yang berbunyi seperti ini:

"Jangan seperti kawan-kawanmu Koes Bersaudara. Masih banyak lagu Indonesia, kenapa mesti Elvis-Elvisan, ber-ngak-ngik-ngok''.

Demikian seperti sebuah kutipan seperti yang disampaikan dari Djon Koeswoyo, putra tertua dari Tonny Koeswoyo, yang diambil dari kutipan buku Kisah dari hati Koes Plus, terbitan tahun 2015.

Ujungberung Rebels, ‘’Pemberontak’’ dengan Senjata Musik Metal Terbesar di Indonesia

Tahun-tahun sebelum penahanan, demam musik rock baru mulai berkembang di Indonesia. Sebelum The Beatles muncul, anak-anak muda Indonesia sudah begitu mengidamkan Perry Como, Bing Crosby, dan Elvis Presley. Gaya dan penampilan mereka pun dicontek kelompok musik lokal yang populer di masa itu, sebut saja Lilis Suryani, Dara Puspita, hingga yang terakhir dan paling berkibar adalah Koes Bersaudara.

Jelas, situasi ini membuat gusar Soekarno yang sejak semula mengusung kemandirian politik. Padahal, kemandirian politik mustahil tercapai tanpa kemandirian budaya. Visi besar seperti yang termaktub dalam pidatonya tentang Manifestasi Politik, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia, atau Manipol Usdek.

Pada, peringatan hari proklamasi ke-14 pada 17 Agustus 1959, dengan lantang Soekarno mengkritik para pemuda yang meski galak dan anti-imperialisme ekonomi dan politik tapi tetap menikmati imprialisme kebudayaan.

“Kenapa di kalangan engkau banyak yang masih rock'n roll-rock'n roll-an, dansi-dansian ala cha-cha-cha, musik-musikan ala ngak-ngik-ngok, gila-gilaan, dan lain-lain sebagainya. Kenapa di kalangan engkau banyak yang gemar membaca tulisan-tulisan dari luaran, yang nyata-nyata adalah imprialisme kebudayaan?” tanya Soekarno lantang dalam pidatonya.

‘Perang’ kebudayaan berkobar makin sengit, ketika Soekarno menyebut tahun 1964 sebagai vivere pericoloso, sekaligus menyerukan Indonesia harus kembali pada kepribadian dan budayanya sendiri. Pada bulan September tahun itu juga, panitia Sidang Presidium Kabinet sepakat bahwa perkembangan budaya Barat harus dihentikan, termasuk dan terutama musik ngak-ngik-ngok.

Mereka memberi wewenang kepada polisi untuk menindak tegas mereka yang masih mendengarkan dan memainkan musik ngak-ngik-ngok.

“Mereka adalah penyakit moral”, kata Soekarno--menyebut The Beatles--saat diwawancarai televisi CBS di Istana Merdeka pada 1965. Ketika Bernard Kalb yang mewawancarinya memancing lebih lanjut pendapat Soekarno tentang Beatles, ia dengan dengan kalem menjawab, “Saya melarang the Beatles dan beatleisme di sini.”

Saat ditanya hukuman apa yang bakal ditimpakan bagi mereka yang mengekor grup musik asal Liverpool itu, sembari setengah terpingkal Soekarno menjawab.

“Saya perintahkan polisi untuk memotong rambut gondrong.”

Tipu-tipu ala Soekarno?

Intimidasi di dalam penjara pun tak luput Koes Bersaudara rasakan, saat baru memasuki penjara Glodok. Sambutan pekikan ketika mereka memasuki lorong-lorong sel, teriakan ‘tahanan baru’ membuat suasana bagi para personil Koes Bersaudara terasa amat sangat mencekam.

Hingga dalam suasana yang sama, mereka dikejutkan oleh sosok yang sudah lama dikenal Yok Koeswoyo, seseorang preman wilayah pasar Mayestik, Kebayoran Baru, yang bernama Bambang Sembuto.

“Hee biarkan mereka masuk, itu teman-temanku dari Koes Bersaudara," begitu ujarnya, seperti dikuti dari koran Kompas, 13 oktober 2004.

Teriakan koor penghuni lapas pun berubah “hidup Koes Bersaudara… Koes Bersaudara… hidup Koes Bersaudara”. Suara yang terdengar lebih merdu daripada sambutan penonton pada saat Koes Bersaudara manggung, kenang Yok Koeswoyo.

Dalam konteks itulah Koes Plus yang mengusung musik ngak-ngik-ngok dituduh sebagai kontra-revolusioner. Di sisi lain, penahanan yang menjadi legenda itu seolah-olah membuat Soekarno vis a vis dengan Koes Bersaudara. Kisah itu masih diperdebatkan bahkan hingga kini, banyak yang mencibir kebijakan konyol pemerintah yang berujung pada penangkapan tersebut.

Tapi ternyata group musik asal Tuban, Jawa Timur, ini menjadi salah satu misi negara yang dibentuk oleh Bung Karno melalui utusan Kolonel Laut Koesno, seorang perwira dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi). Misi negara yang dimaksud adalah sebagai bagian dari misi intelegent negera untuk memata-matai Malaysia yang antipati terhadap tanah air Indonesia.

Senja, Kopi, dan Musik Indonesia pun Berevolusi

Sebuah misi yang sengaja dibuat oleh Bung Karno dengan memanfaatkan popularitas Koes Bersaudara di Negeri Jiran, Malaysia. Dibuatnya polemik ini seakan-akan Bung Karno dan rakyat Indonesia sangat benci dengan Koes Bersaudara. Sehingga setelah keluar dari penjara, Koes Bersaudara akan hijrah dan diterima oleh warga Malaysia.

"Ya, rencana negara mengirim kami ke Malaysia untuk mengintip atau mengintai langsung apakah orang Indonesia atau orang Malaysia simpati kepada Indonesia, karena waktu itu kita kurang sreg dengan berdirinya Malaysia yang sebelumnya bernama Malaya," jelas Yok Koeswoyo, pemain bass Koes Bersaudara, dalam Intisari (3/4/2013).

Memang menurut jurnalis Iman Brotoseno, tudingan Bung Karno anti dengan produk barat, tidak sepenuhnya benar. Bahwa Bung Karno melarang ikon barat, misalnya musik The Beatles lebih karena sebagai bagian dari kebijakan politik melawan Neokolim saat itu. Namun Bung Karno tidak serta merta anti musik asing, karena dia juga menyukai lagu-lagu soprano dari Italia.

"Kalau melihat sejarah masa mudanya, Bung Karno tumbuh dan besar bersama film film Hollywood, jadi hampir tidak mungkin dia anti film-film Amerika. Bung Karno mengakui belajar bahasa Inggris dari kebiasaannya nonton film Hollywood. Bisa dikatakan ia memuja film Hollywood," terang Iman melalui blog pribadinya.

Namun ketidaktahuan proses penangkapan, membuat Tonny Koeswoyo--kakak tertua sekaligus pemimpin Koes Bersaudara--merasa dikorbankan. Kemudian dirinya melampiaskan kekecewaanya dalam album To The So Colled The Gulties, yang mengisahkan pengalaman mereka di penjara.

Sampai akhirnya pada tanggal 29 september 1965, mereka dibebaskan begitu saja pada malam hari. Hal ini membuat Koes Bersaudara pun terheran-heran pada saat mereka keluar dari penjara Glodok, dan mereka melihat banyaknya kendaraan lapis baja yang berhulu hilir di jalan raya ibu kota.

Mereka tidak mengetahui kalau dini harinya Indonesia mengalami masa sejarah yang amat kelam, yakni peristiwa G30S. Jika tidak terjadi peristiwa G30S--gerakan 30 September 1965-- Koes Bersaudara sudah hampir pasti dikirim ke Malaysia dalam melaksanakan misi negara. Namun karena peristiwa ini, misi pun batal dijalankan, sehubungan dilengserkannya presiden Soekarno dari jabatannya.

Koes Bersaudara yang berjiwa nasionalis

Koes Bersaudara pada masanya memang memiliki keberanian yang cenderung nekat. Karena musik, mereka harus mendekam di balik penjara. Menukil dari CNN Indonesia, Yok mengatakan hukuman yang diterima band-nya hanya drama pemberitaan.

"Waktu itu, Bung Karno mengatakan, 'Jangan bawakan musik ngak ngik ngok, Elvis-Elvisan', Padahal kami merasa tidak memiliki maksud tertentu selain menghibur penggemar," kenang Yok.

Menurut Yok, musik Barat yang dibawakan hanya secuil, karena Koes Bersaudara tetap membawakan lagu-lagu bernuansa Indonesia, seperti Senja, Telaga Sunyi, dan Dara Manisku.

"Saya merasa Koes Bersaudara sangat disudutkan atas kasus itu," tandasnya lagi.

Yok dan saudaranya mengaku tidak pernah ingin menodai kedaulatan Indonesia. Koes Bersaudara malah ingin mengharumkan nama Indonesia melalui musik. Karena bagi Yok, bela negara bukan hanya lewat wajib militer, tetapi bisa lewat kesenian.

"Kami ini betul-betul cinta Nusantara. Itu sebabnya kami menyampaikan pesan melalui musik. Kami ingin menanamkan rasa memiliki, rasa mencintai, menjelaskan bahwa Indonesia itu kaya raya. Sampai lautnya aja bukan lautan, tapi kolam susu. Itu harus dimengerti," tegas Yok.

Kisah Nike Ardila, Lady Rocker yang Tetap Bersinar dalam Kematian

Bagaimana juga, pengakuan Yok bahwa pemenjaraan mereka oleh Soekarno sebagai kepura-puraan, menunjukkan Koes Bersaudara tak cuma piawai menyayikan lagu-lagu yang kemudian melegenda. Tapi mereka juga pandai membungkam rapat rahasia serius.

“Cuma saya katakan, tak ada warga negara Indonesia yang tidak mau berguna bagi nusa dan bangsa,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini