Bisa, Indonesia Masuk 20 Besar Perolehan Medali Olimpiade di Masa Depan

Bisa, Indonesia Masuk 20 Besar Perolehan Medali Olimpiade di Masa Depan
info gambar utama

"Hal terpenting dalam Olimpiade bukanlah menang tetapi menjadi bagian (dari Olimpiade); hal penting dalam hidup bukanlah menaklukkan, tetapi berjuang dengan baik."

Kata-kata itu diungkapkan dengan Baron Pierre de Coubertin, pendiri Olimpiade modern. Meski bagaimana pun, dalam kompetisi olahraga, yang paling penting bagi negara adalah medali-medali yang dikumpulkan oleh para atletnya.

Seluruh bangsa Indonesia sedang berbangga dan dilanda euforia pasca berhasilnya kontingen Indonesia mendulang total 5 medali--salah satunya medali emas. Sebuah prestasi yang lebih baik dibanding pencapaian di Olimpiade Rio 2016.

Tentu tak ada dari kita yang ingin prestasi Indonesia tak menanjak dari tahun ini maupun yang sudah-sudah. Tentu kita semua ingin di masa depan, kontingen Indonesia bisa merangsek masuk ke 20 besar dunia, 10 besar dunia, dengan perolehan medali yang jauh lebih banyak dari sekarang.

Bukan hal yang sederhana, apalagi mudah. Pencapaian di Olimpiade Tokyo ini pun, sudah melalui berbagai kesulitan dan perjuangan luar biasa dari semua pihak. Perlu terobosan dan peningkatan kemampuan yang sangat besar. Seperti apa?

Seperti yang kita ketahui, negara-negara yang mampu mengumpulkan medali-medali terbanyak adalah negara-negara yang…itu-itu saja, pemain lama, Amerika Serikat, Inggris, Cina, Rusia, dan Jerman. Peraih medali emas teratas di Olimpade Rio di Brasil tahun 2016 adalah AS, Inggris Raya, China, Rusia, dan Jerman.

Negara yang sama mengulangi prestasi dari empat tahun sebelumnya, dengan pengecualian Korea Selatan yang menggeser Jerman ke urutan ke-6.

Kalau kita melihat lebih dekat, negara-negara tersebut memiliki kekuatan ekonomi dan sejarah olahraga untuk memenangkan emas di berbagai acara. Di bawah mereka, negara-negara yang kurang mampu mengelola persaingan di seluruh spektrum olahraga tetapi menemukan kesuksesan dalam mengkhususkan diri dalam beberapa olahraga tertentu.

Misalnya, semua medali emas (6 medali emas) yang diperoleh Kenya di Rio 2016, berasal dari cabang olahraga lari. Lima medali emas Kuba berasal dari tinju dan gulat, sementara Uzbekistan unggul dalam tinju dan angkat besi.

Negara-negara yang lebih kecil dengan populasi yang lebih kecil kadang melakukan keajaiban untuk memenangkan beberapa emas, perak, dan perunggu tetapi peringkatnya jauh lebih rendah.

Pada tahun 1996, Inggris hanya mendapatkan satu emas di Olimpiade Atlanta. Terpicu oleh kegagalan ‘memalukan’ tersebut, negara akhirnya menginvestasikan uang besar-besaran yang didapatkan dari pengumpulan lotere secara nasional.

Tahun 2021 ini, Inggris menggelontorkan uang sebanyak 479 juta dolar AS, atau sekitar Rp7 triliun yang digunakan untuk mendukung para atlet di Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo. Jumlah yang sangat besar yang sulit ditandingi oleh banyak negara lain.

"Uang itu memungkinkan dunia olahraga Inggris mampu membangun struktur yang tepat, menemukan pelatih yang tepat dan, yang terpenting, memungkinkan para atlet untuk dapat berlatih penuh waktu," kata Hugh Robertson, ketua Asosiasi Olimpiade Inggris. The Guardian menyebutnya sebagai metode "brutal tapi efektif" untuk mengejar kejayaan Olimpiade.

Prestasi Inggris memang bagus. Pada Olimpiade Rio 2016, negara ini menempati urutan ke-2 dalam peringkat di atas China, dengan 27 emas. Saat tulisan ini dibuat, Inggris menempati urutan 6, dengan 16 emas, 18 perak, dan 17 perunggu, atau jika ditotal meraih 51 medali.

Amerika Serikat menempuh jalan berbeda. Negara tersebut tak menggunakan anggaran (APBN) apapun untuk membiayai atlet-atletnya berangkat dan bertanding di olimpiade. Mereka mendorong sponsorship untuk hal tersebut. Dan para sponsor aktif mensponsori cabang-cabang olahraga yang berpotensi menghasilkan medali emas, misalnya renang, senam, maupun atletik, yang secara konsisten menyumbangkan medali bagi AS.

Cabang-cabang lain yang belum memunyai reputasi emas, harus berjuang dengan dana yang relatif sedikit dan terbatas, dari Komite Olimpiade/Paralimpiade AS (United States Olympic & Paralympic Committee (USOPC)) yang mendapatkan dananya dari sponsor swasta, hak siar, dan donasi.

Dengan cara apapun, baik cara Inggris (yang juga dipakai di mayoritas negara-negara di dunia termasuk Indonesia), maupun cara Amerika, keduanya sudah terbukti mampu melesatkan keduanya ke posisi atas perolehan medali olimpiade selama bertahun-tahun.

Pada dasarnya, polanya sudah kita fahami, yakni:

Populasi besar dan dana yang melimpah, sangat berpengaruh

Atlet-atlet olimpiade adalah orang-orang dengan kemampuan yang istimewa, mereka tidak bisa dihasilkan dalam rentang waktu cepat. Suatu negara membutuhkan sumber daya ekonomi yang signifikan untuk meningkatkan kebugaran dan Kesehatan masyarakat secara umum, berinvestasi besar dalam pelatihan para calon atlet, dan infrastruktur olah raga dalam jangka panjang.

Makin makmur suatu negara, makin mampu negara tersebut melakukan banyak hal di bidang olahraga. Tetapi, kemakmuran suatu negara saja tidak cukup untuk dapat membawa pulang banyak medali. Negara-negara kecil seperti Luksemburg, Qatar, Brunei, ataupun Monako, tak pernah merajai olimpiade.

Untuk menghasilkan atlet, suatu bangsa juga membutuhkan kumpulan populasi yang besar dari mana bakat dapat bersumber dan kemudian dilatih.

Penyerahan Medali Taekwondo kelas 67 kg di London 2021 (foto oleh Sum_of_Marc is licensed under CC BY-NC-ND 2.0)

Kanal berita Sports Reference merilis 10 negara yang telah memenangkan medali terbanyak di Olimpiade musim panas, dari pertandingan perdana 1896 di Athena, hingga Olimpiade London 2012. Negara-negara ini adalah: AS, bekas Uni Soviet, Jerman, Inggris Raya, Prancis, Italia, Swedia, Rusia, China, yang sebagian besar adalah negara kaya yang telah melihat investasi negara yang berkelanjutan dalam menempa bakat-bakat olahraga di dalam negerinya.

Dalam makalah Who Wins the Olympic Games: Economic Resources and Medal Totals, Andrew B. Bernard dari Tuck School of Business di Dartmouth dan Meghan R. Busse dari Haas School of Business, UC Berkeley, berpendapat bahwa negara-negara pemenang medali teratas adalah mereka yang pendapatan perkapita yang tinggi dan jumlah penduduk yang besar.

Efek tuan rumah

Mungkin kita sudah sama-sama mafhum, bahwa negara tuan rumah biasanya mampu menggondol banyak medali, meski pun bukan juara umum. Dalam Coming to Play atau Coming to Win: Participation and Success at the Olympic Games, Daniel K. N. Johnson dan A. Ali menemukan bahwa negara tuan rumah rata-rata memenangkan 24,87 medali lebih banyak ketimbang negara bukan tuan rumah, dan negara-negara tetangga dekat dari negara tuan rumah juga mampu menghasilkan lebih banyak medali dibandingkan di tempat lain.

Hal ini bisa dimungkinkan dengan biaya transportasi dan akomodasi yang lebih rendah, dan keuntungan iklim yang sudah familiar, dan tentu saja dukungan publik dalam tuan rumah.

Perolehan medali di event olimpiade ebelum jadi tuan rumah, waktu jadi tuan rumah, dan setelah menjadi tuan rumah (gambar oleh Sports Reference)
info gambar

Sayangnya, memang selama ini negara-negara besar dan kaya (dengan populasi tinggi dan PDB per kapita tinggi) yang menjadi tuan rumah, dan dengan demikian memperoleh keuntungan ganda. Hanya 23 negara yang pernah menjadi tuan rumah Olimpiade: AS, yang juga memiliki perolehan medali tertinggi dalam sejarah Olimpiade, telah menjadi tuan rumah Olimpiade paling banyak, yakni delapan kali.

Bernard dan Busse menemukan bahwa negara tuan rumah memenangkan medali tambahan 1,8 persen, dan hal ini terkait dengan biaya kehadiran/partisipasi yang lebih rendah, fasilitas, dan pengaruh penonton.

Tuan rumah mampu menghadirkan jumlah atlet yang lebih besar, dan perolehan medali lebih banyak | sumber Sports Reference
info gambar

Namun, teori keunggulan menjadi tuan rumah baru-baru ini dibantah oleh Stephen Pettigrew dan Danyel Reiche, masing-masing dari Govt Department, Universitas Harvard, dan Departemen Studi Politik dan Administrasi Publik, Universitas Amerika Beirut.

Dalam Hosting the Olympic Games: An Overstated Advantage in Sports History, mereka menemukan bahwa negara tuan rumah biasanya menurunkan kontingen yang jauh lebih besar karena kriteria kualifikasi secara signifikan dilonggarkan bagi mereka.

Misalnya, mereka mencatat bahwa dalam pertandingan olimpiade musim panas, rata-rata tim tuan rumah menurunkan 162,2 persen lebih banyak atlet daripada di pertandingan musim panas sebelumnya. Ini menghasilkan perolehan medali yang lebih besar.

Mereka membenarkan temuan mereka dengan menunjukkan bahwa perubahan rasio medali per atlet untuk negara tuan rumah baik sebelum dan sesudah acara Olimpiade, tidak naik signifikan secara statistik.

Command - Economies

Korea Utara telah memenangkan medali dua kali lebih banyak dari India (sejak awal partisipasi di Olimpiade, dan sampai pertandingan London 2012). Kuba, Uni Soviet, dan China, telah melakukannya dengan baik di Olimpiade.

Xun Bian dari Illinois Wesleyan University menulis dalam Predicting Olympic Medal Counts: the Effects of Economic Development on Olympic Performance, bahwa negara-negara di ujung spektrum yang berlawanan dalam dua hal, kebebasan politik dan kebebasan sipil, cenderung melakukan yang terbaik di Olimpiade, dengan hubungan antara medali dan dua faktor ini membentuk kurva berbentuk 'U'.

Bian mengaitkan ini dengan fakta bahwa kesuksesan olahraga internasional penting bagi rezim totaliter untuk meningkatkan sentimen nasionalistik. Selain itu, ia berpendapat bahwa pemerintah pusat yang kuat juga lebih mampu menyalurkan sumber daya secara tunggal untuk investasi jangka panjang seperti olahraga.

Dominasi di beberapa cabang olahraga

Sebagian besar negara memenangkan sebagian besar medali mereka dalam beberapa olahraga. Di Olimpiade London misalnya, AS memenangkan hampir 60 persen medalinya dalam atletik dan renang. Keduanya juga menawarkan jumlah medali terbanyak yang ditawarkan di olimpiade tersebut.

Di Olimpiade London misalnya, total ada 47 cabang atletik putra dan putri, dengan total 141 medali yang diperebutkan. Sebagian besar negara Asia mendominasi olahraga indoor seperti judo, tenis meja, dan bulu tangkis.

Sumber BBC
info gambar

Sebuah studi yang dilakukan oleh Goldman Sachs, The Olympics and Economics 2016, merekonstruksi skor dominasi untuk setiap olahraga dan negara berdasarkan data historis tentang perolehan medali.

Dominasi negara-negara di beberapa cabanb olah raga (dalam %)
info gambar

Nilai indeks berkisar antara 0 persen (jika suatu negara tidak memenangkan medali dalam olahraga itu selama lima pertandingan Olimpiade terakhir), dan 100 persen (untuk negara yang memenangkan semua medali dalam olahraga).

Hasilnya menunjukkan, bahwa China memimpin perolehan medali dalam olahraga yang mendominasi jauh lebih besar daripada negara-negara peraih medali teratas lainnya.

Pentingnya kesetaraan gender

Jennifer Berdahl dan Feng Bai dari University of British Columbia dan Eric Luis Uhlmann di INSEAD, Singapura, menemukan bahwa peningkatan kesetaraan gender memiliki efek positif tidak hanya pada kinerja olahragawan wanita suatu negara, tetapi juga para atlet prianya.

Dalam Win–win: Atlet wanita dan pria dari negara yang lebih setara secara gender tampil lebih baik dalam kompetisi olahraga internasional, temuan ini ditemukan konsisten bahkan setelah mengendalikan variabel ketiga potensial seperti produk domestik bruto atau PDB, ukuran populasi, garis lintang geografis, dan ketidaksetaraan pendapatan.

Kesetaraan pendidikan paling baik memprediksi hasil medali untuk pria dan wanita. Studi ini juga mencatat bahwa semakin besar ketimpangan pendapatan suatu negara, semakin rendah perolehan medalinya.

Sangat mungkin bahwa kedua bentuk ketidaksetaaran tersebut menandakan tingkat mobilitas dan juga peluang yang tidak setara, faktor yang berperan dalam memungkinkan anak-anak muda berbakat mendapatlan peluang untuk maju, salah satunya di bidang olahraga.

Referensi:

https://www.theguardian.com/sport/2021/jul/26/brutal-but-effective-lottery-funding-scores-100-golds-team-gb

https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=242818

https://mba.tuck.dartmouth.edu/pages/faculty/Andrew.Bernard/olymp60restat_finaljournalversion.pdf

https://www.stephenpettigrew.com/articles/pettigrew_reiche_2016_ijhs.pdf

https://digitalcommons.iwu.edu/cgi/viewcontent.cgi?referer=https://www.google.com/&httpsredir=1&article=1004&context=econ_honproj

https://s03.s3c.es/imag/doc/2016-08-01/olympic-games-report-goldman-sachs.pdf

https://ur.booksc.eu/book/29401912/b27365

https://www.channelnewsasia.com/commentary/commentary-olympics-medal-tally-skews-towards-bigger-and-richer-countries-2086881

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini