LIPI Temukan Katak Pucat Super Langka di Hutan Jawa

LIPI Temukan Katak Pucat Super Langka di Hutan Jawa
info gambar utama

Hutan Jawa masih memiliki keanakeragaman hayati yang patut diteliti. Hal ini dibuktikan setelah peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil menemukan dan mengidentifikasikan katak pucat Pantai Selatan dari hutan dataran rendah Jawa. Jenis katak pucat yang berhasil ditemukan tersebut berasal dari marga Chirixlus Boulenger.

Hasil penelitian spesies baru ini telah diterbitkan dalam Raffles Bulletin of Zoology, dengan judul A new species of Chirixalus Boulenger, 1893 [Anura: Rhacophoridae] from the lowland forests of Java, karya Misbahul Munir, Amir Hamidy, Mirza Dikari Kusrini, dan kolega, pada 5 Juli 2021 lalu.

Dikarenakan ditemukan di hutan dataran rendah wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, maka spesies baru katak-pucat yang satu ini diberi nama Chirixalus pantaiselatan. Sampel katak-pucat Chirixalus pantaiselatan dijumpai tahun 2017 dalam kegiatan citizen science ‘Gerakan Observasi Amfibi Reptil Kita (Go ARK). Gerakan tersebut diinisiasi oleh Penggalang Herpetologi Indonesia (PHI)

Menurut Peneliti Pusat Peneliti Biologi LIPI, Amir Hamidy, setelah dilakukan analisis morfologi, molekuler dengan menggunakan DNA mitokondria dan suara kawin (advertisement call) maka jenis katak tersebut tidak cocok dengan jenis dari marga yang sudah ada.

Ada Katak Bertanduk Jenis Baru Ditemukan di Kalimantan. Ini Faktanya!

Oleh karena itu, didukung oleh bukti morfologi, molekuler, dan akustik, maka jenis ini dideskripsikan sebagai jenis baru. Chirixalus pantaiselatan adalah kelompok katak Rhacophorid kecil dengan panjang tubuh jantan sekitar 25,3-28,9 milimeter.

Amir berkata, Chirixalus pantaiselatan secara morfologi paling mirip dengan Chirixalus nongkhorensis dari Chonburi, Thailand.

”Pola warna punggungnya serta secara genetik paling dekat dengan Chirixalus trilaksonoi yang juga berasal dari Jawa Barat,” ujarnya.

Sementara itu merespon penemuan spesies baru ini, Jumat (30/7/2021), Guru Besar Bidang Konservasi Alam dan Manajemen Satwa Liar IPB University, Hadi S Alikodra, menilai spesies baru katak ini memiliki karateristik khusus, seperti daya jelajah yang tidak luas atau berhabitat sempit. Dengan kondisi seperti ini, perlu ada indentifikasi dalam penelitan lanjutan harus diperluas cangkupan wilayahnya.

Menurut Hadi, informasi yang harus segera diketahui adalah terkait dengan jumlah dan penyebaran katak pucat pantai selatan apakah juga berada di luar kawasan konservasi. Apabila hanya berada dalam kawasan konservasi--seperti katak ini ditemukan--yaitu di Cagar Alam Leuwang Sancang, upaya perlindungan ini tentu akan lebih mudah.

"Setelah titik habitat pertama sudah diketahui penelitian lebih lanjut dapat meluas ke daerah lainnya sehingga dapat dipahami oleh publik. Kemudian, tempat tersebut harus segera dilindungi dengan melibatkan masyarakat setempat ataupun Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat," ungkap Hadi, dalam Kompas.

Hadi juga menekankan, keterlibatan masyarakat lokal akan sangat penting dalam upaya konservasi untuk menjaga habitat atau spesies tersebut. BKSDA Jawa Barat dan pihak-pihak lainnya yang memiliki kewenangan, dapat mengajak dan melibatkkan tokoh masyarakat di daerah tersebut untuk turut memberikan edukasi terkait aspek-aspek konservasi.

Spesies yang terancam punah

Misbahul Munir, peneliti lainnya yang juga menjadi salah satu kontributor utama dari penemuan ini menambahkan, bahwa saat ini status konservasi Chirixalus pantaiselatan kemungkinan sedang terancam kritis.

Sebab, menurut Lembaga Konservasi Dunia (IUCN), kriteria ''Daftar Merah Spesies Terancam Punah'' memiliki tingkat kemunculannya kurang dari 100 km persegi. Berikutnya, luas hunian kurang 10 km persegi dan hanya ditemukan di satu lokasi, yang kualitas habitatnya menurun

"Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN), kriterianya patut masuk Daftar Merah Spesies Terancam, tingkat kemunculannya," ucapnya, mengutip Mongabay Indonesia.

Para peneliti mengatakan, data yang mereka punya masih belum cukup untuk memasukkan katak Chirixalus pantaiselatan ke dalam status Daftar Merah IUCN. Oleh karena itu, mereka membutuhkan survei intensif.

Apa Beda Kodok dengan Katak

Dalam laporan studi atas penemuan Chirixalus pantaiselatan sp. nov. ini juga ditemukan jenis katak lain yang belum pernah dilaporkan dari Jawa, yakni Polypedates macrotis atau katak panjat telinga hitam. Sebelumnya, di Indonesia jenis ini hanya tercatat dari wilayah Kalimantan dan Sumatra, sehingga kehadirannya di Jawa merupakan catatan baru.

Amir menyoroti pentingnya partisipasi publik dan keterlibatan ilmiah profesional dalam pemantauan keanekaragaman hayati.

“Pengetahuan dan keterlibatan masyarakat dapat memberikan data empiris tentang skala spasial yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tandas Misbahul.

Dia juga menjelaskan, seringnya kekurangan informasi keanekaragaman hayati dalam program konservasi keanekaragaman hayati, misalnya tentang distribusi, populasi, dan informasi habitat dari spesies. Di negara berkembang seperti Indonesia, kondisi ini merupakan masalah serius yang harus diminimalisir dengan kerja sama semua pihak.

Sebagai informasi, tim Go ARK yang menemukan katak jenis baru ini terdiri atas sejumlah mahasiswa dan komunitas penelitian yang melakukan pengamatan serta melaporkan amfibi dan reptil di sepanjang Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sulawesi.

Dalam observasi di hutan dataran rendah bagian selatan Jawa Barat yang menghasilkan penemuan katak jenis baru ini, para peserta tim Go ARK yang terlibat adalah Umar Fhadli Kennedi, Mohammad Ali Ridha, Dzikri Ibnul Qayyim, dan Rizky Rafsanzani.

Hutan Jawa mulai mengecil

Ahli mengungkapkan beberapa faktor penyebab luas kawasan hutan di Pulau Jawa semakin mengecil. Saat ini luas hutannya hanya sekitar 24 persen dari luas pulau tersebut sekitar yakni 128.297 km persegi.

Peneliti utama bidang konservasi keanekaragaman hayati dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Hendra Gunawan, mengatakan dari sekitar 24 persen kawasan hutan di Pulau Jawa tutupan hutannya hanya sekitar 19 persen. Sedangkan lima persen lainnya, di antaranya berupa kebun raya dan taman kehati, yang memiliki fungsi seperti hutan.

"Semakin mengecilnya hutan di Pulau Jawa, yakni pulau dengan penduduk terpadat di Indonesia, karena beberapa sebab, di antaranya adalah, alih fungsi hutan untuk lahan pertanian, pemukiman, industri, infrastruktur, kawasan komersial, dan sebagainya," kata Hendra mengutip Antara, Senin (29/3/2021).

Adanya alih fungsi hutan itu sehingga kawasan hutan menjadi hilang, rusak, terpecah-pecah, dan hal ini mengancam keanekaragaman hayati di dalamnya.

"Dampak lainnya yang terjadi adalah, krisis air, bencana banjir, tanah longsor, konflik satwa, dan sebagainya," katanya.

Menurut Hendra, hutan yang hilang, rusak, dan terpecah-pecah itu perlu dilakukan penanganan, untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati. Dia menjelaskan, hutan yang hilang secara permanen, misalnya untuk pembangunan gedung dan infrastruktur, maka perlu dilakukan restorasi dengan melakukan penghijauan di lokasi lainnya yang memungkinkan.

Ditemukan oleh LIPI, 'Gadjah Mada' Kecil ini Hidup di Kolam

"Hutan yang rusak perlu direhabilitas serta yang yang terpecah-pecah perlu dibuat koridor penghubung bagi keanekaragaman hayati," harapnya.

Pada kesempatan tersebut, Hendra mengusulkan agar para pemangku kepentingan melakukan aksi-aksi lokal untuk penyelamatan keanekaragaman hayati melalui kegiatan menanam pohon di ruang terbuka hijau (RTH).

"Pembangunan RTH itu akan lebih baik dibangun dengan konsep keanekaragaman seperti ekosistem hutan," sarannya.

Hendra mencontohkan, konsep tersebut adalah kebun raya dan taman kehati. Berdasarkan data LIPI pada 2019, di Indonesia ada 43 kebun raya dengan luas total sekitar 8.850,6 hektare dan 29 taman kehati dengan luas total 1,863,5 hektare.

Menurut dia, taman kehati ini sangat cocok sebagai laboratorium lapangan dan wahana pembelajaran bagi siswa sekolah, sekaligus memberikan pengetahuan dan pembentukan karakter cinta lingkungan.

Dia menjelaskan, di taman kehati ini banyak aspek yang dapat digali, seperti ekologi, konservasi, hidrologi, botani, sosiologi, ekonomi, tanaman obat, pangan, hingga peran tumbuhan sebagai peredam kebisingan dan pencemaran.

Dalam forum yang sama, peneliti etnobotani dan ekologi manusia dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Fathi Royyanni, menjelaskan bahwa interaksi manusia dengan alam juga menjadi faktor bertahannya keanekaragaman hutan di Indonesia.

Dia menyebut, sejak dulu masyarakat tradisional telah mempraktikkan cara-cara mengelola dan memperlakukan alam dengan bijak, sehingga hidup harmonis dengan alam.

“Banyak nilai luhur dapat dipetik masyarakat sekarang, khususnya generasi muda, untuk mengelola alam secara lestari.”

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini