Velentino Rossi, Si Tua yang Makin Menggila

Velentino Rossi, Si Tua yang Makin Menggila
info gambar utama

''Mau nonton apa, mak?''

''Nonton Rossi,'' jawab ibuku singkat.

Kira-kira demikian secuil obrolan dengan ibu saya yang kepincut ingin menyaksikan aksi Valentino Rossi di MotoGP Catalunya 2009, melalui tayangan televisi di kanal Trans7. Di akhir lomba, sang legenda balap Valentino Rossi berhasil mengasapi Jorge Lorenzo, tepat di tikungan akhir.

Di tahun itu pula, akhir dari Rossi menjadi juara dunia di sepanjang kariernya.

Lain cerita di 2009, ada pula kisah di 2017 ketika saya dan anak saya, Ghaza, tengah larut dalam tayangan pertempuran antara Rossi dan Maverick Vinales dalam GP Prancis, untuk merebutkan podium tertinggi. Di lap pamungkas itu Rossi apes dan tersungkur. Tak lagi bisa melanjutkan balap.

Anak saya yang saat itu sudah mengenakan kaos dan topi berlabel #46, langsung menjerit dan lari ke kamar. Ia ngambek, gegara jagoannya ambyar tak meraih podium.

''Padahal tinggal dikit lagi, kenapa pake jatuh sih,'' demikian sungutnya, sambil sesenggukan.

Kekesalannya bahkan tak kunjung usai, ketika esoknya harus berangkat sekolah pagi-pagi sekali untuk mengikuti upacara. Saat memakai sepatu pun ia masih bersungut kesal. Akibatnya, lembar kerja siswa (LKS) metematikanya pun ketinggalan.

Dari dua kasus di atas, saya mengambil beberapa kesimpulan. Orang tua seperti ibu saya tak tahu ajang MotoGP, ia tahunya hanya Rossi semata. Kedua, Rossi mampu memberikan efek emosional yang begitu dahsyat bagi para penggemarnya, baik ketika menang, apalagi kalah.

Euforia ajang balap MotoGP memang tak pernah lepas dari pesona, aksi, dan aura, pebalap kelahiran Urbino, Italia, pada 16 Februari 1979 itu.

Hingga akhirnya, semua aksi Rossi pun harus terhenti.

Kamis (5/8/2021), secara resmi The Doctor--julukan Rossi--resmi memutuskan untuk mengakhiri karier balapnya di ajang yang selama 25 tahun (1996-2021) membesarkan namanya. Artinya, musim 2021 adalah musim terakhir Rossi balapan di MotoGP.

Sepanjang karier balapnya di ajang MotoGP, sejatinya Rossi telah membukukan 9 gelar juara dunia, yang terdiri atas:

  • 1 juara dunia di kelas 125 cc (1997),
  • 1 juara dunia di kelas 250 cc (1999), dan
  • 7 juara dunia di kelas MotoGP (2001, 2002, 2003, 2004, 2005, 2008, dan 2009).

Lain itu, Rossi juga memperoleh 115 kemenangan seri, 235 podium, serta menjadi satu-satunya pembalap dalam sejarah MotoGP yang memenangkan gelar juara dunia di kategori 125 cc, 250 cc, 500 cc, dan MotoGP. Ia juga telah mengendarai ragam merek motor di sepanjang kariernya, yakni motor dari pabrikan Aprilia (kelas 125 cc dan 250 cc), serta motor Honda, Yamaha, dan Ducati (kelas premier/MotoGP).

Rossi juga harus mengubur mimpinya mendapatkan gelar juara dunia ke-10. Meski begitu, untuk meneruskan tongkat estafet juara dunia, sejak 2017 Rossi juga mengasuh timnya sendiri di ajang balap motor paling populer sejagad itu, melalui tim Sky Racing VR46 yang berlaga di ajang Moto3, Moto2, MotoGP--baru pada tahun 2021.

Akademi balapnya--VR46 Riders Academy--juga melahirkan pebalap-pebalap Italia potensial, yang diharapkan dapat meneruskan tradisi kejuaraan para pebalap motor Italia. Mereka yang terus digembleng Rossi di akademi itu, di antaranya:

  • Francesco Bagnaia (Ducati MotoGP),
  • Franco Morbidelli (SRT Yamaha MotoGP),
  • Enea Bastianini (Esponsorama Ducati MotoGP),
  • Luca Marini (Sky Racing VR46 Ducati MotoGP),
  • Marco Bezzecchi (Sky Racing VR46 Moto2), dan tentunya masih banyak lagi.

Orang-orang di balik Rossi

Di balik kesuksesan sepanjang karier Rossi, ada nama-nama yang tak boleh luput. Mereka adalah Graziano Rossi, yang merupakan ayah sekaligus mantan pebalap grand prix motor di era 1977-1982. Darah balap Rossi menular darinya.

Lain itu ada Jeremy Burgess, kepala mekanik yang hampir di sepertiga karier balap Rossi ditemaninya. Burgess yang kelahiran Australia itu juga pernah menjadi kepala mekanik andal dari legenda-legenda MotoGP lainnya, sebut saja Wayne Gardner, Mick Doohan, dan Freddie Spencer.

Sementara soal kemampuan dan mentoring balap, Rossi juga harus berterima kasih kepada Alex Criville, mantan pebalap MotoGP asal Spanyol yang masih melatihnya hingga kini. Nama Norick Abe (alm), yang merupakan legenda MotoGP Jepang juga layak masuk dalam daftar, sebagai salah satu orang yang menginspirasi Rossi di sepanjang karier balapnya.

Terakhir, ada nama Marco Simoncelli (alm), rekan balap sekaligus sahabatnya yang mendorong Rossi untuk mendirikan akademi balap VR46. Atas pesan Simoncelli itu, pada akhirnya Rossi berhasil membangun akademi balap dan melahirkan talenta trengginas di arena MotoGP.

Pebalap motor tersukses dalam sejarah

Jika bicara soal berapa pendapatan yang dihasilkan Valentino Rossi sepanjang keriernya, pada 2016 majalah Forbes mendapuk Rossi dalam daftar 100 atlet dengan pendapatan tertinggi. Forbes menulis, Rossi adalah atlet yang memiliki pendapatan di atas rata-rata.

Menukil situs Bornrich, kekayaan bersih Rossi saat itu diperkirakan mencapai 120 juta dolar AS--setara Rp1,5 triliun. Jumlah tersebut mengukuhkannya sebagai salah satu pebalap tersukses yang pernah ada.

Kekayaan Rossi itu didapatkannya dari gaji sebagai pebalap dan kontrak sponsor. Dalam hitungan Forbes, Rossi mendapat bayaran sekitar 12 juta dolar AS per musim balap, serta endorsement dari sponsor yang mencapai nominal 10 juta dolar AS per musim.

Di lain hal, saya setuju dengan pendapat kawan saya, Taufik Hidayat, narablog senior pengampu laman TMCblog. Dalam paparannya ia menulis:

''Sebuah hal yang mustahil untuk menafikan atau berlebihan terhadap efek yang dimiliki Rossi pada MotoGP dan sepeda motor secara umum. Dalam banyak hal, Valentino bahkan lebih besar dari olahraga itu sendiri. Kasar kata, Ia bahkan dikenal oleh orang-orang yang tidak mengenal atau ekstrimnya ‘membenci’ sepeda motor.''

Bahkan secara teknis, Kang Taufik--sapaan akrabnya--menjabarkan bahwa, banyak inspirasi yang ditinggalkan Rossi sepanjang karier balapnya di grand prix. Catatan lainnya adalah, Rossi merupakan pebalap yang paling banyak beradaptasi--selain menjadi pebalap lintas generasi tentunya.

Ia juga menjelaskan bagaimana Rossi mampu beradaptasi dengan mesin motor di berbagai kejuaraan MotoGP. Dari karakter mesin 2-tak 500 cc (Honda), pindah ke mesin V5 4-tak 990 cc (Honda), kemudian hijrah ke mesin Inline-4 800 cc (Yamaha), lalu pindah lagi ke mesin V4 1.000 cc (Ducati), sampai akhirnya mengakhiri kariernya di pabrikan bermesin Inline-4 1.000 cc (Yamaha).

Pendek kata, kawan saya itu hanya ingin bilang bahwa tak banyak pebalap yang mampu melakukannya lebih baik dari seorang The Greatest Of All Time (GOAT) Valentino Rossi, di olahraga ini. Ulasan Kang Taufik, selengkapnya bisa Anda baca di sini.

Nama Rossi yang lekat dengan Yamaha

''Lagu-laguan lo pake ngebut-ngebut, kayak Valentino Rossi, aje,'' demikian omel komedian Komeng, dalam iklan Yamaha Jupiter MX di tahun 2009. Ia tak tahu, jika orang yang dimakinya itu adalah Valentino Rossi beneran.

Tentu, skenario iklan itu yang akhirnya membuat siapapun yang menyaksikan terpingkal-pingkal. Di mata saya, itulah iklan komersial paling kreatif yang pernah saya lihat kala itu.

Tak dimungkiri memang, nama Rossi pun melambungkan pabrikan motor berlogo garputala itu di Indonesia. Pendek kata, bagi orang-orang yang menggemari Rossi, hampir dipastikan memilih motor Yamaha.

Bahkan, motor Yamaha F1ZR milik saya tak luput dari stiker 46, ikon khusus Valentino Rossi. Karena pada 2001 saat saya meminang motor itu dari diler, belum ada kelir motor ala-ala Rossi, tak seperti sekarang.

Dalam sejarahnya, Rossi memang paling lama menunggangi motor Yamaha, meski ia juga memberikan gelar juara dunia pada Honda dan Aprilia. Atas pengaruh besarnya itu, hampir di setiap iklan motor Yamaha, Rossi hadir, yang tentu aksinya dibumbui oleh komedian dan aktor kawakan tanah air.

Meski pada satu dekade terakhir Rossi tak lagi meraih gelar juara dunia, namun boleh jadi Rossi adalah magnet sponsor di ajang MotoGP yang dibutuhkan tim yang menaunginya. Maka tak berlebihan jika di kalangan penggemar, lekat istilah yang cukup populer, No Rossi, No Party.

(28 September 1997) - Valentino Rossi Raih Podium Tertinggi di Sirkuit Sentul

Rossi dan tren MotoGP di Indonesia

Nama Rossi juga tentu saja tak lepas dari tren MotoGP di Indonesia. Di jalan-jalan raya di Indonesia, sudah tak terhitung para pemotor yang mengenakan atribut beraroma Rossi, mulai dari helm, jaket, switer, sarung tangan, stiker, sepatu, bahkan sandal, dst.

Sosok Rossi juga boleh jadi menjadi inspirasi bagi para pelaku ekonomi di Indonesia, khususnya dalam bidang kelengkapan berkendara, fesyen, helm, dan advertising/industri percetakan stiker. Jaket motor, kaos, switer, dan helm, dengan kelir khas Rossi tentunya tak terhitung yang digunakan oleh penggemar Rossi di negeri ini.

Mereka mengenakannya tak hanya saat nonton balapan MotoGP, tapi juga dalam kesehariannya. Sepertinya, berapa pun harga yang dibanderol, jika sudah menyangkut apparel khas Valentino Rossi, maka berbondong orang membelinya.

Atas euforia yang semakin tinggi itulah kemudian divisi khusus merchandise orisinal VR46 yang berbasis di Italia terbang ke Indonesia, melalui kepanjangan tangan Yamaha Indonesia. Singkatnya, jika Anda ingin mendapatkan merchandise ikonik asli Valentino Rossi, bisa mengunjungi gerai-gerai motor Yamaha yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sebagai anak Indonesia, saya juga patut bangga karena legenda balap motor 42 tahun itu nyatanya sangat menyukai Indonesia, terutama soal keindahan dan pesona alamnya. Sebut saja beberapa daerah di Indonesia yang telah ia kunjungi berkali-kali, seperti Bali, Lombok (NTB), dan Labuan Bajo (Flores, NTT).

Rossi juga belajar banyak tentang bahasa Indonesia, dan menjadi salah satu bahasa yang disukainya. Ia juga merasa betah berada di Indonesia, karena kerap diperlakukan seperti di rumah sendiri. Bahkan dengan pesona alamnya, Rossi menyebut bahwa Indonesia memiliki iklim yang ideal sebagai penutup ajang MotoGP tiap tahunnya.

Itu diungkapkannya dalam wawancara dengan media Paddock-GP akhir tahun 2019. Rossi mengatakan bahwa GP Valencia bukanlah tempat yang cocok digunakan sebagai seri penutup MotoGP setiap tahunnya. Alasan Rossi tentu berdasar. Penyelenggaraan MotoGP Valencia di bulan November sering terjadi masalah cuaca. Pada November, cuaca di wilayah Eropa baginya kurang bagus untuk penyelenggaraan balapan.

''Bagiku, datang ke Valencia pada pertengahan November untuk GP bukan ide yang bagus,'' ungkapnya.

Rossi pun merujuk Indonesia adalah negara yang ideal untuk menjalani gelaran pamungkas musim balap, karena dinilainya memiliki cuaca ideal dan lebih hangat. Lain itu, Rossi juga memiliki alasan lain terkait animo masyarakat Indonesia cukup tinggi atas olahraga MotoGP ini, yang tentu saja bakal membuat potensi pasar semakin meningkat.

Mengapa Valentino Rossi Sangat Menyukai Indonesia?

Fokus pada tim miliknya

Di musim depan (2022), Rossi akan menangani secara khusus tim balap miliknya di ajang MotoGP, yakni Aramco Racing VR46.

Pengesahan kerja sama tim VR46 dan Tanal Entertainment Sport & Media, yang merupakan perusahaan Pangeran Arab Saudi, Abdulaziz bin Abdullah bin Saud bin Abdulaziz Al Saud, kabarnya akan menjadi salah satu kontrak kerja sama terbesar di ajang MotoGP.

Diberitakan, perusahaan Arab itu bakal mengguyur Rossi dengan dana sebesar 170 juta Euro, atau sekira Rp2,5 triliun.

Sebanyak 20 juta Euro (Rp340 miliar), akan mengalir untuk menempelkan nama perusahaan minyak Aramco di tim VR46 yang berlaga MotoGP, Moto2, dan Moto3. Sementara sisanya, yakni 150 juta Euro (Rp2,2 triliun), untuk membeli seluruh grup VR46, yang mencakup sekolah balap VR46 Riders Academy dan juga Racing Apparel VR46.

Akhir kata, sudah barang tentu saya bakal merindukan aksi Rossi yang selalu fenomenal itu. Bahkan, saya berharap Rossi mendapatkan kesempatan ''Wildcard'' saat MotoGP resmi berlaga di Lombok, karena sejatinya Rossi Tak Sabar Ingin Berlaga di Sirkuit Mandalika.

Ah, Rossi. Si tua-tua keladi, makin tua makin menjadi-jadi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Mustafa Iman lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Mustafa Iman.

Terima kasih telah membaca sampai di sini