Adalah, Merupakan, dan Ialah

Adalah, Merupakan, dan Ialah
info gambar utama

Barangkali, belum banyak yang tahu bahwa adalah dan merupakan merupakan golongan verba. Untuk mengupas keduanya secara lebih dalam, kita bisa merujuk pada dua sudut pandang yang datang dari Kridalaksana dan Moeliono dkk. Mari kita simak lebih lanjut.

Kridalaksana, dalam Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia (1985), menuliskan bahwa berdasarkan sudut hubungan dengan argumennya, verba dapat digolongkan menjadi verba kopulatif dan ekuatif.

Verba kopulatif adalah verba yang mempunyai potensi untuk ditanggalkan tanpa mengubah konstruksi predikatif yang bersangkutan, misalnya adalah dan merupakan. Sementara itu, verba ekuatif adalah verba yang mengungkapkan ciri salah satu argumennya, seperti menjadi, terdiri, dan berdasarkan.

Di sisi lain, Moeliono dkk. dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2017) hanya menyebutkan verba kopulatif saja. Verba yang disebut juga sebagai verba perakit ini mencakup kata adalah dan ialah. Keduanya diletakkan setelah subjek dan sebelum predikat nonverbal. Perhatikan contoh berikut.

  1. Bapak adalah seorang penulis novel.
  2. Hadiah ini ialah untuk kekasihku yang paling setia.

Sementara itu, menurut Moeliono dkk., merupakan dan menjadi adalah verba yang sering digunakan sebagai perakit.

  1. Korupsi merupakan kasus yang selalu terjadi di Indonesia.
  2. Saya menjadi wakil ketua kelas 12 A.

Lebih dari itu, Moeliono dkk. juga memaparkan, apabila subjek dan predikat dalam sebuah kalimat merupakan nomina atau frasa nominal dan memiliki referen yang sama, kalimat itu disebut sebagai kalimat ekuatif. Kalimat ekuatif dapat dibuktikan melalui penukaran posisi unsur-unsur subjek.

  1. a. Bapaknya Tono adalah seorang penulis wara di kantor itu.

b. Salah seorang penulis wara di kantor itu adalah Bapaknya Tono.

2. a. Keris ini ialah peninggalan yang tersisa.

b. Peninggalan yang tersisa ialah keris ini.

Perlu diketahui, adalah dan merupakan dapat berdiri di awal kalimat dan saling bersulih. Akan tetapi, penggunaan ialah di awal kalimat akan terasa janggal dan jarang ditemukan. Bahkan, menurut Moeliono dkk., ialah tidak dapat mengawali sebuah kalimat. Namun, apabila ialah merupakan verba sebagaimana yang tertera dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, bukankah seharusnya kata itu dapat berdiri di awal kalimat?

Nyatanya, di dalam kamus, ialah tergolong sebagai partikel, bukan verba. Dari sini, kita bisa melihat perbedaan pandangan antara KBBI V dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Lebih dari itu, ialah terbukti lebih rumit dibanding adalah dan merupakan.

Rujukan:

  • Kridalaksana, Harimurti, dkk. 1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Moeliono, Anton M., dkk. 2017. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.

Konten di atas hasil kolaborasi antara GNFI dan Narabahasa. Untuk menjelajah lebih jauh, silakan klik tautan berikut Arsip Ihwal Bahasa.

N
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini