Upaya Amos Yeninar, Membina dan Menjamin Kesehatan Anak Jalanan Papua saat Pandemi

Upaya Amos Yeninar, Membina dan Menjamin Kesehatan Anak Jalanan Papua saat Pandemi
info gambar utama

Masih ingat dengan sosok Amos Yeninar? Masyarakat tanah air khususnya mereka yang aktif di lini media sosial, pasti pernah mendengar kisah penuh inspirasi dari sosok pria yang berasal dari wilayah paling timur Indonesia ini.

Awalnya, Amos diceritakan sebagai pria yang berprofesi sebagai tukang ojek dengan aksi mulia sekaligus mengurus anak jalanan di wilayah Nabire. Namun, sebagaimana yang telah GNFI beritakan sebelumnya setelah sempat berbincang langsung dengan sosok tersebut, ternyata ada cerita lebih besar yang ia lalui dalam hidupnya.

Kisah yang paling mengharukan dan penuh inspirasi tidak lain adalah saat di mana Amos memutuskan melepaskan segala jaminan kehidupan mewah sebagai pejabat politik bahkan seorang Bupati, hanya untuk mengabdikan diri lewat aksi yang sering kali dia sebut sebagai ‘melayani’ anak jalanan.

Selama kurang lebih lima tahun menjalankan misi mulia tersebut, berawal dari menampung para anak jalanan dalam sebuah rumah singgah yang sederhana, hingga saat ini membangun panti asuhan sekaligus yayasan berkat hibah lahan kosong yang didapat.

Walau nyatanya panti asuhan yang Amos bangun masih memiliki beberapa keterbatasan sampai sekarang, namun hal tersebut tak menghentikan niatnya untuk terus membina anak-anak jalanan yang ia layani.

Bagaimana tumbuh kembang dan kabar anak-anak yang dibina Amos saat ini? Beruntung, GNFI kembali menjalin komunikasi dengan Amos yang membagikan kabar dari anak-anak yang dibina.

Kisah Pria dari Papua, Lepas Kesempatan Jadi Bupati Demi Bina Anak Jalanan di Nabire

Perkembangan yayasan dan anak-anak di bawah pantauan pengurus

Anak-anak di panti asuhan yang Amos bangun saat mendapat pembelajaran sekolah
info gambar

“Puji Tuhan, anak di panti asuhan semua sehat, bisa tinggal dibina karakter dan bisa terus sekolah…” tutur Amos membuka pembicaraan.

Selama hampir lima tahun lalu hingga saat ini, Amos bersama istrinya bersama-sama memenuhi kebutuhan bagi anak-anak yang ia bina, mulai dari kebutuhan sehari-hari layaknya makan, minum, dan pakaian, serta mengikutsertakan mereka untuk sekolah.

Tidak hanya itu, Amos juga tak pernah terlewat untuk mengikutsertakan anak-anak tersebut dalam pembinaan rohani serta persekutuan doa untuk mendoakan, Nabire, Papua, Indonesia, dan bangsa-bangsa.

Tak dimungkiri bahwa dalam menjalankan misi kemanusiaan yang ia tekuni, Amos tak serta-merta berdiri di bawah kaki sendiri. Dirinya tak menampik bahwa ia kerap kali menerima bantuan berupa donasi yang kerap kali datang dari berbagai pihak baik perorangan, swasta, maupun pemerintah setempat, yang keberadaannya selalu ia syukuri.

Terbukti, dalam kurun waktu lima tahun Amos memang berhasil mengembangkan panti asuhan yang awalnya hanya berupa rumah singgah menjadi sebuah yayasan dengan nama Siloam Papua, yang sekarang sudah memiliki struktur organisasi dan kepengurusan yang lebih baik.

Berbekal latar belakang dirinya yang memiliki pengalaman sebagai seseorang yang pernah bekerja di organisasi LSM, dan berpendidikan tinggi sebagai lulusan Sarjana dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Cenderawasih, Amos bahkan dengan sepenuh hati membuat yayasan yang ia bangun memiliki laman publikasi resmi melalui sebuah situs yang dapat dengan mudah dikunjungi oleh orang lain.

Tujuan utamanya hanya satu, agar orang-orang mengetahui bahwa di tanah Papua ada harapan bagi anak-anak yang memiliki kesempatan dan masa depan sama sebagai penentu masa depan bangsa.

Di lain sisi, upaya Amos mengembangkan yayasan secara serius juga ia lakukan sebagai persyaratan agar anak-anak di panti asuhannya masuk dalam daftar khusus yang dimiliki oleh Dinas Sosial wilayah Nabire. Tujuannya agar anak-anak tersebut tidak lagi menyandang status sebagai anak jalanan, namun sudah terpelihara dan mendapat jaminan dari pemerintah setempat.

Amos juga mengungkap, dirinya banyak mengucapkan terima kasih dan sangat bersyukur kepada beberapa orang pengurus di yayasan, yang kerap kali membantunya dalam merawat dan membina anak-anak secara sukarela.

Nyatanya, karena kegiatan tersebut merupakan aksi sosial, Amos tak menampik bahwa kondisi dirinya tidak memungkinan untuk memberikan bayaran yang setimpal kepada beberapa orang yang telah meluangkan segala hal baik dari waktu, tenaga, dan pikiran untuk menjadi pengurus dalam yayasan yang telah ia buat.

Mengintip Harta Kekayaan Kepala Suku Penyumbang Lahan Istana Presiden di Papua

Pembinaan di tengah situasi pandemi

Amos Yeninar bersama anak-anak binaannya
info gambar

Sama seperti kawasan lainnya, Papua termasuk Nabire tentu menjadi wilayah di Indonesia yang ikut serta terkena dampak dari situasi pandemi. Hanya saja, angka kasus Covid-19 di Papua khususnya Nabire tidak setinggi kasus yang terjadi di wilayah padat penduduk Indonesia lainnya.

Melansir laman covid19.papua.go.id, per tanggal 5 Agustus 2021, ada sebanyak 764 kasus positif yang diikuti dengan 719 orang dinyatakan sembuh, 43 orang meninggal dunia, dan 2 orang masih dalam masa perawatan.

Berangkat dari hal tersebut, Amos menceritakan bahwa kondisi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Papua tidak seketat wilayah lainnya.

“Di sini PPKM-nya tidak terlalu ketat, karena kasusnya juga tidak sebesar di daerah lain…” ujar Amos.

Karena kondisi tersebut, Amos menyampaikan bahwa dirinya bersama sang istri sampai saat ini masih rutin memantau kondisi anak-anak jalanan di Nabire, yang pada dasarnya tidak berkenan untuk ikut tinggal di panti asuhan yang ia bangun.

“Semenjak kejadian panti asuhan sempat terbakar dulu oleh beberapa anak jalanan yang memang tidak ingin kita rawat, kita bebaskan mereka. Tapi tetap, saya dan istri setiap hari Rabu selalu rutin pantau dan kirim-kirim makanan bagi mereka…” tambahnya.

Tak berhenti sampai di situ, Amos juga membagikan kendala yang saat ini sedikit dihadapi, namun untungnya perlahan mulai mendapat solusi berkat bantuan yang didapat dari sejumlah pihak.

Yaitu mengenai perluasan bangunan yang harus dilakukan untuk memisahkan panti asuhan antara anak-anak putra dan putri. Karena menurut penuturannya, anak-anak tersebut kini sudah bertambah usia dan beranjak remaja.

“…saat ini kami harus pisahkan bangunan panti asuhan putra dan putri, karena selama ini masih gabung. Tapi dengan donasi sedikit yang ada saat ini, kami sudah mulai cicil bangunan fondasi untuk panti asuhan putra, jadi terpisah,” ungkap Amos.

Menariknya, Amos juga mengungkap bahwa jika tidak ada halangan, dalam waktu dekat dirinya akan mengadakan acara peringatan Kemerdekaan RI di panti asuhan. Tentu, hal tersebut ia lakukan untuk menghibur anak-anak sekaligus dan mengenalkan semangat kemerdekaan.

“…Kami akan buat lomba panjat pinang, lomba balap karung, dan kegiatan lainnya,” tutup Amos.

Abah Asep Nugraha, Penjaga Tradisi dan Daulat Pangan Kampung Adat di Tengah Pandemi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini