Indra Darmawan, Sejahterakan Masyarakat di Masa Pandemi Melalui Sampah dan Eceng Gondok

Indra Darmawan, Sejahterakan Masyarakat di Masa Pandemi Melalui Sampah dan Eceng Gondok
info gambar utama

Eceng gondok merupakan tumbuhan air mengapung yang banyak ditemukan di danau dan rawa, dengan batang panjang dan daun berbentuk hati. Sayangnya, tumbuhan yang cepat menyebar ini dikenal sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Dampak negatif dari tumbuhan ini adalah mengurangi jumlah oksigen dalam air, sedimentasi, mengurangi jumlah air, mengganggu lalu lintas di perairan, dan lainnya.

Beruntung, ada banyak kegiatan yang mencoba memaksimalkan eceng gondok menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai. Salah satunya menjadikannya sebagai bahan kerajinan tangan. Pasalnya, bahan eceng gondok bisa menjadi produk kerajinan tangan yang cantik dan unik.

“Eceng gondok ini bisa dijadikan sandal, tas, keranjang, hingga gazebo,” ujar pendiri Bening Saguling Foundation, Indra Darmawan.

Selama pandemi Covid-19, keranjang menjadi produk yang hype di pasaran. Produk ini laris manis seiring menjamurnya pecinta tanaman hias. “Jadi, nanti potnya dimasukkan ke dalam keranjang itu,” tutur dia.

Dikabarkan dari Kompas, Indra menjelaskan pembuatan eceng gondok sebagai bentuk kerajianan. Pertama-tama batang eceng gondok dijemur selama 1-2 pekan hingga kering. Kemudian, batang tersebut dianyam dan dibentuk sesuai keinginan. Untuk pembuatan tas, nantinya akan ditambah kain pelapis di bagian dalam.

Jangan Ada Sampah di Antara Kita (GNFI & Verne Indonesia)

"Agar kuat diberi vernis atau dikasih lem kayu atau H2O2, sehingga eceng gondok lebih bersih dan jamur tidak tumbuh. Kekuatannya sekitar tiga tahun,” ungkap Indra.

Saung_Eceng/Instagram

Cara perawatannya pun mudah. Cukup menghindarkan produk berbahan enceng gondok dari tempat lembap. Bila terkena air, cukup dilap hingga kering. Meski begitu, produk eceng gondok memiliki kekurangan, yakni tidak bisa dibuat beragam warna. Ini karena zat lilin yang ada dalam eceng gondok.

Namun jangan khawatir, warna alami eceng gondok yang coklat malah terlihat lebih natural dan cantik. Indra mengatakan, kreasi yang bisa dibuat amatlah beragam, baik ukuruan maupun desain. Mulai dari tas tangan hingga tas belanja. Konsumen juga bisa memesan kreasi custom.

“Harganya beragam. Untuk tas, dimulai dari Rp25.000. Yang paling mahal harga gazebo Rp15 juta,” tutur dia.

Indra memang bertujuan membuat sampah bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai, seperti gulma eceng gondok yang ada di waduk Saguling menjadi produk yang bernilai ekonomis. Kini Bening Saguling Foundation telah berhasil meningkatkan perekonomian masyarakat di tengah pandemi berkat bisnis daur ulang sampah, limbah plastik dan kriya eceng gondok.

"Berkat usaha kerajinan eceng gondok dan memulung sampah ini dapat menghasilkan hal-hal bermamfaat bagi saya dan warga setempat," ungkapnya.

Sekolah alam dan koperasi

Indra mendirikan sekolah di pinggir kali yang orang tua siswanya mayoritas bekerja sebagai pemulung. Sekolah di pinggir Citarum tersebut bermula dari keinginannya, yang merupakan lulusan Universitas Padjadjaran Bandung, untuk bisa melestarikan lingkungan.

Yayasan Bening Saguling Foundation bermarkas di Kampung Babakan Pari, Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Ditempat ini Abah--sapan akrab Indra--mengabdikan dirinya bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.

"Awalnya kita concern melestarikan lingkungan, melestarikan Sungai Citarum dan memberdayakan masyarakat. Nah yang kita berdayakan adalah para pemulung yaitu masyarakat di sini," paparnya.

"Setelah mereka sudah mulai berdaya, kami berpikir bagaimana ini anak-anaknya jangan sampai ketika orang tuanya mengambil sampah di Sungai Citarum (pemulung), anak-anaknya juga jadi pemulung," ujarnya.

Pada tahun 2014, Indra mendirikan Yayasan Bening Saguling Foundation. Dua tahun kemudian, ia mendirikan Sekolah Alam Tunas Inspiratif. Sekolah ini mengajar murid dari TK, namun tidak lama kemudian juga mengajar murid-murid SMP.

Cukup dengan sampah. Orang tua murid-murid yang sekolah di sekolah alam tidak perlu ambil pusing membayar biaya pendidikannya dengan uang.

"Sekolah bayarannya cukup dengan sampah. Misal hari Sabtu, mereka pulang ke rumah. Nah dari rumah itu mereka boleh bawa sampah. Itu sebenarnya hanya untuk edukasi bagi mereka. Bahwa mereka kita didik bukan untuk menjadi seorang yang meminta sama orang tuanya. Tapi mereka menjadi anak yang produktif. Bukan anak yang konsumtif," terang Indra.

Wow Sekolah Alam ini Sepenuhnya Terbuat dari Bambu!

Area Bening Saguling memang dibalut nuansa alam yang bangunannya didominasi bambu. Terdapat beberapa saung yang menghiasi lokasi. Ada villa yang juga dibuat di atas kolam sebagai tempat penginapan. Anak usia SD hingga SMA berkumpul untuk bermain angklung, membaca buku, mengerjakan tugas dan kegiatan positif lainnya.

Saung_Eceng/Instagram

Indra juga mendirikan koperasi bernama Bangkit Bersama pada Tahun 2009 yang menaungi puluhan anggota. Sebagian besar, anggota koperasi adalah warga Desa Cihampelas yang merupakan pemulung atau pedagang kecil. Di sini pemberdayaan warga resmi dimulai, koperasi melakukan pengadaan sampah bagi anggotanya yang mau memulung.

"Sekarang sudah ada 58 warga yang menjadi anggota binaan, 1 kilogram dibayar Rp1.500, paling sedikit sehari dapat 70 kilogram atau kurang lebih Rp100 ribu. Lebih jauh dari itu, sekarang dalam sebulan 100 ton limbah plastik seperti kaleng minuman, kantong kresek dan kemasan botol diangkat dari sungai Citarum," ujar pria yang gemar memakai topi pets ini.

Anggota koperasi ini juga nantinya bisa meminjam uang dan mencicilnya dengan setoran sampah. Jumlah pinjamannya bervariasi antara Rp 500.000 hingga Rp 1 juta, pengembaliannya tidak mengenal bunga dan jangka waktu. Namun diakui Indra, pengelolaan koperasi ini juga menghadapi berbagai tantangan antara lain permodalan dan pengembalian cicilan pinjaman.

Indra mendapat pemasukan dari kerajinan eceng gondok dan daur ulang sampah plastik yang diolah di sekolah tersebut. Selain itu, dana juga mengalir masuk dari para donatur, CSR perusahaan dan ada juga donatur pribadi.

Raih Kalpataru

Perjalanan Indra Darmawan dan warga Kampung Babakan Cianjur untuk memulai usaha sampah ini awalnya tidak mudah. Ketika lulus pada tahun 1998 dan meraih gelar Sarjana Matematika Universitas Padjajaran Bandung, Indra memutuskan menggeluti usaha sampah.

Hal ini dilatarbelakangi oleh kondisi krisis ekonomi Indonesia, yang pada saat itu membuat mencari pekerjaan semakin sulit. Selain itu Indra melihat sampah yang menumpuk menutupi aliran Sungai Citarum yang melintasi kampungnya sebagai salah satu peluang usaha.

Menjadi satu-satunya sarjana di desanya pada saat itu tidak membuat Indra lantas menjadi angkuh. Ia memutuskan ikut memulung sampah bersama para pemulung di aliran Sungai Citarum yang rata-rata berpendidikan SD.

Saung_Eceng/Instagram

Malah hal ini menginspirasi Indra untuk melakukan sesuatu bagi desanya yang harapannya akan meningkatkan perekonomian dan pendidikan warganya. Lokasi pemulungannya yaitu di sekitar Waduk Saguling yang melewati Kecamatan Batujajar dan Kecamatan Cihampelas.

Mengungkap Keindahan Geopark Merangin

Atas kerja keras Bening Saguling Foundation. Indra pun, meraih Kalpataru 2020 untuk kategori penyelamat lingkungan. Kalpataru adalah penghargaan yang diberikan kepada perorangan atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia.

Anugerah itu diberikan Kementerian Lingkungan Hidup atas jasa Bening Saguling Foundation menyelamatkan lingkungan Citarum. Padahal, sungai tersebut masuk dalam kategori sungai terkotor di dunia versi World Bank tahun 2018.

"Saya berterima kasih pada semua pihak atas raihan penghargaan Kalpataru 2020. Ini menjadi pemicu kami untuk terus berinovasi menciptakan keseimbangan lingkungan," kata Indra, Selasa (15/9/2020) yang dikabarkan Ayobandung.

Dedikasi dan kerja keras selama 19 tahun bergelut dengan pelestarian lingkungan mengundang apresiasi berbagai pihak baik di dalam negeri maupun luar negeri. Tak terhitung penghargaan yang didapatnya. Langkahnya ini juga menyedot perhatian media luar negeri yang kerap datang meliput kegiatan di Bening Saguling.

Bening Saguling juga akan menginisiasi pembentukan Hutan Komunitas, agenda besarnya ialah mengurangi sedimentasi sungai dengan menghijaukan bantaran melalui penanaman pohon keras secara rutin. Ke depan, ia masih masih memiliki sejumlah impian. Di antaranya mengubah sehektar lahan menjadi kawasan eco wisata.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini