Punya Kurikulum Berbeda, Bagaimana Sistem Pendidikan Sekolah Internasional di Indonesia?

Punya Kurikulum Berbeda, Bagaimana Sistem Pendidikan Sekolah Internasional di Indonesia?
info gambar utama

Pendidikan merupakan salah faktor penting dan tak dimungkiri menjadi salah satu tonggak utama sekaligus penentu dalam menentukan masa depan bangsa, yang keberadaannya dipengaruhi oleh generasi muda di tanah air.

Faktanya, saat ini masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa pendidikan sebagai suatu hal yang berhubungan dengan sistem pembelajaran formal, dan selalu terproyeksi dalam bentuk akademik. Padahal, pendidikan non akademik atau hal yang berhubungan dengan pembelajaran non formal juga punya andil besar dalam pembentukan karakter bagi para generasi muda.

Terlepas dari berbagai jenis pendidikan dan pembelajaran yang semestinya dipahami dengan baik, masyarakat Indonesia khususnya para orang tua sudah pasti selalu ingin memberikan bekal pendidikan yang terbaik bagi para anak atau generasi muda, dengan memilih sekolah sebagai instansi yang diyakini memiliki kualitas pendidikan sesuai dengan yang diinginkan.

Tak dimungkiri bahwa sistem pembelajaran di Indonesia sendiri saat ini hampir sepenuhnya masih mengacu kepada pendidikan formal dan akademik, yang praktiknya masih menjadikan angka dan target kuantitatif sebagai acuan atau standar keberhasilan.

Adapun sistem pendidikan yang dimaksud sejatinya lebih banyak dikenal dengan nama kurikulum, di mana saat ini kurikulum yang digunakan dalam sektor pendidikan di Indonesia adalah Kurikulum 2013 (K-13), dan menjadi bagian dari Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Di sisi lain, faktanya ada sejumlah instansi pendidikan atau sekolah (umumnya swasta) di Indonesia yang dalam pelaksanaannya tidak menggunakan kurikulum nasional, melainkan kurikulum internasional dengan mengedepankan pendidikan berbasis global.

Lantas, apa perbedaan serta peran dari sekolah nasional dan sekolah internasional yang ada di Indonesia?

Perbanyak Sekolah Inklusi Untuk Pemerataan Pendidikan Di Indonesia

Mengupas detail sekolah internasional

Pelajar ACG School Jakarta
info gambar

Berbeda dengan sekolah nasional umum bagi pelajar Indonesia yang terdiri dari jenjang SD hingga SMA dan menggunakan sistem K-13, sekolah internasional memiliki perbedaan cukup besar dari berbagai aspek, terutama dari segi kurikulum.

Sekilas informasi, ketentuan terakhir mengenai keberadaan sekolah internasional di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 31/2014 yang menyebut sekolah internasional dengan nama Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK).

Berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh Kemdikbud yang kala itu belum melebur bersama Kementerian Riset dan Teknologi, SPK adalah satuan pendidikan yang diselenggarakan atau dikelola atas dasar kerja sama antara Lembaga Pendidikan Asing (LPA) yang terakreditasi atau diakui di negara asalnya dengan pihak penyelenggara pendidikan swasta di Indonesia pada jalur formal dan non formal, yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Sesuai dengan namanya dan prinsip dasar yang bertujuan memfokuskan pendidikan para murid untuk mengikuti model pembelajaran yang menganut kurikulum global atau internasional, sudah pasti bahwa kurikulum yang digunakan juga berbeda dengan K-13.

Ada beberapa kurikulum internasional yang digunakan oleh sekolah internasional di Indonesia, salah satunya International Baccalaureate (IB), kurikulum yang berasal pada sistem pendidikan di Inggris.

Adapun jika menakar soal perbedaan sistemnya secara lebih detail, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa sistem pembelajaran di Indonesia saat ini masih mengacu pada pendidikan akademik dengan angka dan target kuantitatif sebagai acuan atau standar keberhasilan.

Pada kurikulum IB ataupun kurikulum sekolah internasional lainnya, para pelajar di sekolah terkait lebih diarahkan untuk mendapatkan pendidikan secara seimbang baik dari segi akademik, non akademik, formal, dan non-formal.

Indonesia Tempati Urutan Teratas Sekolah Internasional Asia Tenggara

Melansir Medcom, ketua Association of International School Educators Indonesia (AISEI), Capri Anjaya, menjelaskan mengenai perbedaan mendasar dari sistem pendidikan yang dijalankan pada sekolah internasional.

Secara garis besar, sistem pembelajaran pada kurikulum IB membuat para pelajar dapat membentuk dan memahami profil serta potensi dari diri sendiri sejak bangku sekolah. Melalui sistem learner profile, pelajar dilatih untuk memiliki rasa ingin tahu sehingga menumbuhkan pengalaman luas.

Selain itu, pelajar juga dilatih untuk mampu berkomunikasi dengan baik lewat diskusi dalam kelas, mampu berpikir kritis lewat perhatian terhadap semua aspek pembelajaran, tidak hanya angka dan target akademik.

Di sisi lain, dijelaskan pula bahwa dari segi akademik, mata pelajaran utama yang ada pada sekolah internasional umumnya hanya sedikit, dengan mencakup pelajaran utama dan umum, di antaranya matematika, bahasa inggris, sains, dan sosial, sedangkan mata pelajaran lainnya bersifat pilihan. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk lebih meningkatkan soft skill para pelajar.

Pertanyaan yang sering muncul dalam pelaksanaan kurikulum yang berasal dari luar pada sekolah internasional, adalah kekhawatiran mengenai pengaruh budaya dan kepribadian terhadap pelajar.

Faktanya, setiap sekolah internasional di Indonesia mendapatkan izin beroperasi dengan syarat menyertakan Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, dan Agama, sesuai standar yang telah ditetapkan. Sehingga identitas bangsa dari negara sendiri tetap tertanam pada tiap pelajar.

Pertama di Indonesia! Akreditasi Internasional untuk Sekolah Bisnis

Upaya mencetak kualitas pendidikan yang sama dan jejak program RSBI

SMAN Mojoagung, salah satu sekolah yang pernah masuk daftar sekolah RSBI
info gambar

Sistem pendidikan yang dijalankan pada sekolah internasional diyakini dan terbukti berhasil dalam membentuk pelajar dan lulusan yang unggul, terutama dalam hal bersaing di jenjang yang lebih tinggi dalam skala global dengan pelajar yang berasal dari negara lain.

Bukan tanpa alasan, sekolah internasional pasalnya memiliki beberapa SDM yang berpengalaman serta memadai yang bahkan didatangkan dari negara kurikulum berasal. Berangkat dari hal tersebut, masyarakat pasti masih ingat dengan adanya program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang sempat dijalankan pemerintah selama beberapa tahun.

Keberadaan RSBI awalnya bertujuan untuk menciptakan sekolah yang berkualitas setara sistem pendidikan yang dianut oleh sekolah di negara lain, dengan harapan akan mengurangi jumlah pelajar yang bersekolah di luar negeri.

Kala itu, beberapa sekolah yang memiliki label RSBI memiliki keunggulan dalam hal tenaga pengajar yang lebih kompeten. Belum lagi program pertukaran pelajar dengan negara tetangga dan sistem pendidikan yang sudah menyerupai sekolah internasional yang ada saat ini.

Nyatanya, kebutuhan untuk mendapatkan sistem pendidikan lebih unggul pada sekolah berlabel RSBI ternyata dinilai belum bisa didapatkan oleh seluruh kalangan masyarakat secara merata. Pasalnya, biaya yang dibutuhkan untuk dapat bersekolah di sekolah RSBI memang cenderung lebih mahal ketimbang sekolah umum, hal tersebut menimbulkan pro dan kontra dengan berbagai pandangan.

Keberadaan sekolah RSBI dinilai menimbulkan ketimpangan pendidikan di Indonesia. Karena pada wilayah tertentu, jangankan untuk sistem dan kurikulum, fasilitas dan keberadaan tenaga pengajar yang memadai saja masih dianggap belum mencapai kata layak.

Selain itu, RSBI juga memunculkan stigma bahwa sekolah tersebut hanya diperuntukkan khusus bagi kalangan kelas menengah ke atas, sehingga muncul pandangan bahwa hanya golongan tertentu yang bisa mendapatkan pendidikan layak dengan tenaga pengajar dan fasilitas yang memadai serta kompeten.

Karena kejadian tersebut, akhirnya pada tahun 2013 tepatnya di bulan Januari, Mahkamah Konstitusi (MK) yang saat itu diketuai oleh Mahfud MD, resmi membubarkan program RSBI pada sistem pendidikan di Indonesia.

Sebuah Sekolah di Semarang Sudah Berkawan Akrab dengan Fintech

Seberapa mahal biaya pendidikan bertaraf internasional?

Pelajar British School Jakarta
info gambar

Jika ditelisik secara mendalam, biaya yang harus dikeluarkan oleh para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya dengan kurikulum atau standar pendidikan bertaraf internasional nyatanya memang tidak sedikit.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, berbagai fasilitas unggulan yang dimiliki menjadi dasar mengapa biaya pendidikan di sekolah internasional sangat tinggi, baik dari segi tenaga pengajar, sistem pendidikan, dan hal lainnya.

Seperti digambarkan Warta Ekonomi, salah satu sekolah internasional yang ada di Indonesia yaitu Global Jaya School, diketahui memiliki ketentuan biaya SPP sebesar Rp63,8 juta per tahun untuk jenjang TK. Lebih detail, biaya SPP yang dipatok untuk sekolah jenjang SD ada di kisaran Rp106,7 juta per tahun, kemudian Rp124,3 juta per tahun untuk jenjang SMP, dan Rp149,6 juta per tahun untuk jenjang SMA.

Namun, dijelaskan bahwa jika pada sekolah umumnya dalam satu kelas diisi oleh sekitar 40 orang siswa, di Global Jaya School setiap satu kelas hanya diisi oleh kisaran 20 orang siswa. Selain itu, tenaga pengajar yang ada didatangkan dari negara-negara penutur Bahasa Inggris seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia.

Tentu masih ada banyak sekolah internasional lainnya di Indonesia yang memiliki sistem pembelajaran serupa dengan biaya pendidikan yang sama atau bahkan lebih tinggi, sebut saja SMA Dwiwarma yang menganut kurikulum Cambridge dengan biaya pangkal sebesar Rp60 juta, dan SPP tahunan sebesar Rp78 juta.

Ada juga British International School, tempat sosok Maudy Ayunda yang dikenal berprestasi menempuh jenjang pendidikan setara SMA, ternyata mematok biaya SPP sebesar Rp21 juta per bulan.

Lima Negara yang Mengajarkan Bahasa Indonesia di Sekolah dan Perguruan Tinggi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini