Geopark Ciletuh, Satu dari Sekian Banyak Destinasi Wisata yang Dirindukan Kala Pandemi

Geopark Ciletuh, Satu dari Sekian Banyak Destinasi Wisata yang Dirindukan Kala Pandemi
info gambar utama

Nama Geopark Ciletuh mungkin masih agak asing dan belum terlalu dikenal lebih luas jika dibandingkan dengan destinasi wisata lain yang lebih dulu mendunia di Indonesia. Setidaknya sampai 3-4 tahun terakhir, saat di mana kawasan yang berada di wilayah Sukabumi ini resmi dinobatkan sebagai UNESCO Global Geopark Network (GGN), sejak tahun 2018.

Sebenarnya, kawasan yang juga dikenal dengan nama Taman Bumi Ciletuh-Palabuhanratu ini merupakan Geopark Nasional Indonesia yang sudah diakui UNESCO sejak tahun 2015, sebagai hasil usulan antara Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) dan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU).

Kemudian, kawasan tersebut diusulkan menjadi Geopark Internasional atau Global Geopark Network (GGN) pada 12 April 2018 lewat sidang Excecutive Board UNESCO, sehingga menetapkan kawasan ini resmi menyandang predikat sebagai Ciletuh-Palabuhanratu GGN, yang saat ini lebih banyak dikenal di kalangan wisatawan secara singkat sebagai Geopark Ciletuh.

Festival Geopark Ciletuh
info gambar

Sedikit kilas balik, pada saat masa perayaan dari ditetapkannya Geopark Ciletuh sebagai kawasan UNESCO GGN lewat Festival Geopark Ciletuh 2018, perayaan tersebut bahkan berhasil menyabet rekor dunia berkat keikutsertaan sebanyak 5.853 orang yang berpartisipasi melakukan Tari Jipeng, seni tari khas Jawa Barat.

Kala itu, peserta yang membawakan Tari Jipeng dalam durasi waktu 10 menit berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pejabat pemerintah, yang diketahui hadir untuk berkontribusi dalam tarian saat perayaan tersebut.

Menilik kemeriahan perayaan yang terjadi, seberapa istimewa sebenarnya kawasan Geopark Ciletuh sebagai primadona destinasi wisata baru yang dimiliki Indonesia?

Pembukaan Festival Geopark Ciletuh 2018 Pecahkan Rekor Dunia

Mengenal lebih detail kawasan Geopark Ciletuh

Teluk Ciletuh
info gambar

Melansir laman resmi Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, destinasi wisata ini memiliki luas sekitar 126.100 hektare atau 1.261 kilometer persegi, yang mencakup 74 desa di 8 kecamatan. Adapun kecamatan yang dilingkupi oleh kawasan wisata ini yaitu Kecamatan Ciracap, Surade, Ciemas, Waluran, Simpenan, Palabuhanratu, Cikaka, dan Cisolok.

Pada luas wilayah ratusan ribu hektare tersebut, secara garis besar kawasan Geopark Ciletuh memiliki tiga keanekaragaman objek wisata, yaitu keanekaragam geologi, hayati, dan budaya.

Dalam hal keanekaragaman geologi, kawasan Geopark Ciletuh memiliki kondisi dan keindahan alam yang terbuat dari lanskap pemandangan, berupa air terjun hasil dari proses geologi di masa lampau.

Kondisi alam yang berada di kawasan ini terbentuk berkat aktivitas tektonik yang terjadi sekitar 5-8 juta tahun lalu, yang mengakibatkan runtuhnya sebagian formasi dataran tinggi Jampang (dataran tinggi yang membentang dari selatan), sehingga bisa membentuk morfologi alami yang memiliki air terjun di sepanjang dindingnya, dan membentuk kawasan yang menakjubkan serta dinikmati sebagai objek wisata sekaligus pemandangan mengagumkan saat ini.

Sedangkan dalam hal keanekaragaman hayati, Geopark Ciletuh memiliki beberapa kawasan konservasi, seperti Suaka Margasatwa Cikongga, Cagar Alam Cibanteng, Konservasi Penyu, dan kawasan Taman Nasional Halimun Salak (TNHS).

Pada berbagai kawasan konservasi tersebut, terdapat keanekaragaman flora dan fauna yang melingkupi beberapa jenis hewan langka seperti macan tutul, owa jawa, dan elang. Ada juga tumbuhan langka seperti Rafflesia Padma dan pohon Kepuh.

Geopark Ciletuh yang Diakui Dunia

Terakhir, keanekaragaman budaya yang berada di kawasan ini juga cukup beragam, terdiri dari budaya berwujud dan tidak berwujud. Keanekaragaman budaya yang nyata dapat dilihat berupa beberapa objek peninggalan sejarah seperti situs Tugu Cengkuk, bunker peninggalan zaman kolonial, Kasepuhan Banten Kidul, dan bangunan peninggalan sejarah yang masih dilestarikan hingga saat ini.

Tak cukup sampai di situ, ada juga desa adat yang masih memegang teguh budaya leluhurnya seperti Kasepuhan Sirnaresmi, Ciptagelar, dan Ciptamulya.

Selain itu juga terdapat keanekaragaman budaya tak berwujud yang terdiri dari tarian, lagu, dan cerita rakyat. Salah satu contoh dari keanekaragaman tak berwujud di antaranya Tari Jipeng yang populer saat perayaan Festival Geopark Ciletuh itu sendiri, hingga cerita rakyat seperti kisah Ratu Laut Selatan.

Abah Asep Nugraha, Penjaga Tradisi dan Daulat Pangan Kampung Adat di Tengah Pandemi

Destinasi dan aktivitas wisata yang diandalkan

Perahu di Muara Sungai Ciletuh
info gambar

Memiliki cakupan kawasan yang luas tentu membuat objek wisata dari kawasan Geopark Ciletuh cukup beragam, terutama dari segi wisata bahari. Mengutip Mongabay Indonesia, salah satu wisata bahari unggulan yang ada di Geopark satu ini berada tepat di kawasan Teluk Ciletuh, yaitu Pantai Palangpang.

Disebutkan bahwa objek wisata satu ini selalu menjadi favorit karena kemudahan akses yang bisa dicapai dari jalan utama Palabuhanratu-Sukabumi. Pesona yang dimiliki oleh wilayah Palangpang semakin sempurna berkat kehadiran beberapa pulau kecil di bagian barat, yaitu Pulau Mandra dan Pulau Kunti.

Pulau kecil yang berada di kawasan ini dikelilingi oleh air laut yang cerah dan dasar perairan berupa pasir putih. Karena itu, para wisatawan biasa melakukan kegiatan renang permukaan (snorkeling) dan menikmati pemandangan terumbu karang yang berada di dasar laut. Kawasan pantai Palangpang juga sering kali dijadikan sebagai tempat mendarat untuk kegiatan paralayang.

Curug Cikanteh
info gambar

Salin itu, Geopark Ciletuh juga terkenal akan pesona air terjun yang banyak tersebar pada beberapa titik. Yang pertama ada Curug Puncak Manik, curug tertinggi di kawasan Ciletuh ini menyuguhkan pesona tebing batu berbalut tumbuhan hijau, dan berpadu dengan derasnya guyuran air terjun yang memberikan kesan kesegaran alam.

Selain itu, ada juga Curug Awang yang dalam beberapa kondisi tertentu digambarkan sebagai tirai air yang menawan, perumpamaan tersebut tergambar dengan jelas ketika debit air sedang meningkat. Selain dua dari curug di atas, ada juga Curug Cikanteh, Curug Cimarinjung, Curug Sodong, dan masih banyak lagi.

Puncak Darma, Spot Terindah untuk Menikmati Pemandangan Geopark Ciletuh

Kerinduan wisatawan dan dilema masyarakat setempat

Wisatawan di Geopark Ciletuh
info gambar

Sama halnya seperti berbagai wilayah di Indonesia pada umumnya, kawasan yang menjadi destinasi wisata dan kerap kali mendatangkan turis sudah pasti memberi pengaruh besar bagi kondisi perekonomian masyarakat sekitar. Bukan tanpa alasan, pasalnya masyarakat di wilayah setempat biasanya menjadi pengelola wisata sebagai profesi dan sumber pendapatan.

Hal serupa juga terjadi di kawasan Geopark Ciletuh. Masih menurut sumber yang sama, dijelaskan pendapatan yang bisa dihasilkan oleh masyarakat setempat justru terbilang menjanjikan.

Saman, salah satu warga yang berprofesi sebagai operator perahu mengatakan bahwa sebelum pandemi melanda, dirinya bisa meraup penghasilan sampai dengan Rp6 juta dalam satu minggu, kondisi tersebut tentu berbanding terbalik dengan situasi pandemi yang diikuti dengan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah wilayah.

Sebenarnya, kondisi kesulitan sempat teratasi saat kebijakan PPKM sedikit longgar bersamaan dengan angka kasus Covid-19 yang menurun di Indonesia. Kala itu juga diketahui sempat ada beberapa wisatawan yang kembali berkunjung ke kawasan Geopark Ciletuh.

Nahas, kembali melonjaknya kasus Covid-19 dan pengetatan kembali aturan PPKM nyatanya membuat kondisi tersebut tidak bertahan lama. Terlebih, publik pasti masih ingat bahwa di awal bulan Agustus lalu, ramai soal sejumlah pesohor ibu kota yang diketahui berkunjung ke Geopark Ciletuh di tengah masa PPKM.

Tak ayal, hal tersebut langsung mencuri perhatian publik dan menimbulkan kontroversi. Akibatnya, beberapa pemandu dan masyarakat lokal pengelola kawasan wisata setempat dipanggil oleh Polisi Resor Kabupaten Sukabumi untuk mempertanggungjawabkan persoalan tersebut.

Semenjak kejadian itu, masyarakat di sejumlah tempat wisata diketahui lebih berhati-hati dalam menyikapi persoalan wisatawan yang berkunjung, khususnya dengan tetap mengikuti aturan yang berlaku sesuai dengan kebijakan PPKM selama masa pandemi.

“…mau gimana lagi? Kita nikmatin aja,” tutup salah satu pemandu lokal kawasan Geopark Ciletuh.

Hanjeli, 'Emas Hijau' dari Waluran Sukabumi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini