Malam 1 Suro, Kisah Pendaki yang Berdoa dan Ziarah ke Gunung Lawu

Malam 1 Suro, Kisah Pendaki yang Berdoa dan Ziarah ke Gunung Lawu
info gambar utama

Jumlah pendaki yang akan naik ke puncak Gunung Lawu melalui jalur Cemoro Sewu, Plaosan, Magetan, Jawa Timur, selalu meningkat signifikan pada malam 1 Suro atau malam pergantian Tahun Baru Islam. Angkanya bisa mencapai hingga ratusan orang.

"Kalau pendakian pada akhir pekan biasa hanya berkisar 50 hingga 100 orang saja. Sedangkan pada momentum malam Suro bisa mencapai 500 orang lebih," ujar Kholil, petugas Perum Perhutani KPH Lawu Ds yang berjaga di Pos Pendakian Jalur Cemoro Sewu, kepada Antaranews (Oktober 2016).

Melihat dari tahun 2015 pada momentum yang sama, jumlah pendaki di Gunung Lawu bisa mencapai hampir 5.000 orang. Mereka mendaki melalui dua jalur resmi yakni Cemoro Sewu dan Cemoro Kandang, serta melalui jalur liar.

Menurut dia, sebelum peringatan malam 1 Suro, kawasan Cemoro Sewu sudah ramai didatangi para pendaki yang hendak mendaki gunung di perbatasan Provinsi Jawa Timur dengan Jawa Tengah tersebut. Mereka biasanya berasal dari berbagai daerah, mulai dari wilayah Magetan dan sekitarnya hingga luar kota dan luar provinsi.

Legenda Brawijaya V, Misteri dan Keindahan Gunung Lawu

Para pendaki tersebut memiliki banyak tujuan. Ada yang hanya ingin menikmati liburan dengan mendaki gunung atau memiliki tujuan melakukan ritual "Suroan" di puncak Gunung Lawu. Malam 1 Suro merupakan momen para peziarah untuk melakukan ritual dengan berziarah di beberapa petilasan yang ada di Gunung Lawu.

Salah satu petilasan itu adalah tempat moksa Raja Terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V. Petilasan itu ada di Hargo Dalem yang tepat di bawah Puncak Hargo Dumilah. Memang aktivitas ziarah dan ritual merupakan sesuatu yang lazim di Gunung Lawu, terutama saat malam 1 Suro.

Fasilitas bagi para peziarah dan pelaku ritual pun sudah cukup lengkap. Bahkan di sekitar Hargo Dalem, sudah ada beberapa tempat yang menjual perlengkapan ritual, seperti bunga dan dupa. Biasanya para pelaku ritual akan duduk bersila atau bersemedi, membakar dupa, dan menabur bunga di lokasi yang dikeramatkan

Ritual malam 1 Suro

Gunung Lawu menjadi salah satu gunung di Jawa yang sering menjadi lokasi kegiatan pendakian. Kendati begitu, cukup banyak misteri yang menyelimuti gunung setinggi 3.265 mdpl ini. Sejarah Gunung Lawu memang kerap dikaitkan dengan legenda tentang Prabu Brawijaya V, raja terakhir Kerajaan Majapahit.

Karena itulah, banyak orang yang mendaki Gunung Lawu hingga ke puncak untuk melakukan ritual atau berziarah. Tiga puncak utama Gunung Lawu kerap dianggap sebagai salah satu tempat paling sakral di Jawa. Tiga puncak utama di Gunung Lawu, yakni Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan yang tertinggi adalah Hargo Dumilah.

Dikutip dari Tirto, Rizki Ridyasmara dalam kisahnya bertajuk Sukuh: Misteri Portal Kuno di Gunung Lawu (2016), menuliskan bahwa bagi kalangan tertentu, kawasan Gunung Lawu adalah pusat dari segala rahasia Tanah Jawa dan Nusantara.

Menukil Kompas, ada banyak titik di Gunung Lawu yang menjadi tujuan para peziarah dan pelaku ritual. Beberapa meter dari basecamp Cemara Sewu, aroma wangi dupa bahkan sudah tercium dengan jelas.

Ada Apa Dengan Malam Satu Suro, Ingin Tahu?

Menurut salah satu petugas, memang ada tempat ziarah dan ritual dekat basecamp Cemara Sewu. Lokasi itu diperuntukkan bagi para peziarah atau pelaku ritual yang tidak kuat mendaki sampai area puncak Gunung Lawu.

Saat mendaki Gunung Lawu pada malam 1 Suro melalui jalur Cemara Sewu, tempat ritual dan ziarah mulai banyak ditemukan usai Pos IV. Suatu tempat ziarah atau ritual itu ditandai dengan banyaknya dupa dan bunga di lokasi itu.

Salah satu tempat ziarah dan ritual tersebut adalah Sumur Jolotundo. Salah satu sumber air di Gunung Lawu itu berada tepat di samping jalur pendakian jalur Cemara Sewu usai Pos IV. Titik selanjutnya, ada di Sendang Drajat. Meski air sendang mengering pada musim kemarau, lokasi ini masih digunakan untuk ziarah.

Lokasi ziarah dan ritual juga ada di puncak tertinggi Gunung Lawu, Hargo Dumilah. Prosesi ritual dan ziarah yang dilakukan di Gunung Lawu pun beragam. Kebanyakan peziarah dan pelaku ritual datang untuk berdoa. Hal itu disampaikan oleh salah satu pemilik warung di sekitar Hargo Dalem.

“Gunung Lawu kan tidak ada juru kuncinya, Mas. Jadi yang ritual ke sini ya sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya,” ujar pria yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Menurut Staf Humas Perum Perhutani KPH Lawu DS, Eko Susanto, ada beberapa tujuan dari ritual, seperti mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Selain itu, mendapatkan ilmu kekebalan, menyerap energi, alam, serta memperoleh keselamatan, kekayaan, dan ketenteraman hidup.

"Rata-rata untuk kebutuhan diri pribadi pelaku ritual," seperti ditulis dalam Tempo (Oktober 2015).

Meski demikian, ia mengatakan, tidak jarang pendaki memiliki tujuan untuk menikmati keindahan alam ketika naik gunung. Hal ini untuk meningkatkan rasa syukur mereka terhadap karunia yang telah diciptakan Tuhan di muka bumi.

"Juga ada yang hanya ingin tahu ramainya Gunung Lawu saat bulan Suro," ujar Eko.

Ritual ditiadakan karena pandemi

Selama masa pandemi dan pemberlakuan PPKM, kegiatan pendakian ke Gunung Lawu dihentikan. Meski sebelumnya sempat dibuka dengan berbagai persyaratan. Seperti pembatasan pendaki dan pelaksanaan protokol kesehatan ketat.

Bupati Karanganyar Juliyatmono, menyebut aturan tetap sama selama masa pandemi dan penerapan PPKM, yakni semua obyek wisata harus ditutup. Karena itu dirinya berpesan dalam rangka perayaan Malam 1 Suro kalendar Jawa ini, masyarakat lebih baik di rumah saja.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Karanganyar Titis Sri Jawoto, mengungkapkan bahwa terdapat tiga pintu pendakian Gunung Lawu yang berada di wilayah Karanganyar. Ketiganya adalah pintu pendakian Cemoro Kandang, Candi Cetho, dan Tambak.

"Ketiganya kami pastikan masih ditutup. Sehingga para pendaki tidak diperkenankan melakukan pendakian," jamin Titis.

Bukan sebagai Hal Mistis, Justru Bubur Suro Melambangkan Rasa Syukur

Titis menyebut, di hari biasa banyak pendaki yang memanfaatkan momen peringatan malam 1 Suro atau malam tahun baru Hijriah 1 Muharam dengan mendaki Gunung Lawu. Pada masa sebelum pandemi, pendaki yang melakukan pendakian pada malam 1 Suro ini mencapai ribuan orang.

"Dulu bisa sampai 3.000 orang semalam, namun tahun-tahun akhir sebelum pandemi jumlahnya sekitar 700-an pendaki. Itu biasanya campur antara pendaki umum maupun pendaki religi," imbuhnya.

Walau begitu, terkadang sejumlah pendaki nekat menuju puncak Gunung Lawu meskipun akses telah ditutup. Mereka biasanya menerobos lewat jalur ilegal. Hal ini yang terjadi pada masa pandemi Covid-19 pada tahun 2020 lalu, masih banyak pendaki ritual yang melakukan aktivitas pendakian pada malam 1 Suro.

"Masih ada, biasanya lewat jalur tikus. Tahun lalu ada," ujar Nardi, pengelola jalur pendakian Gunung Lawu.

Karena itu, mengantisipasi pendaki yang nekat muncak dengan melintasi jalur ilegal, pengelola Gunung Lawu mengetatkan pengawasan. Kebijakan tersebut sekaligus mengantisipasi melonjaknya pendaki. Pihak Gunung Lawu juga menegaskan tidak akan melayani registrasi pendakian

“Teman-teman dari relawan nanti bisa mengawasi sejumlah jalur ilegal yang mungkin dilalui pendaki, kecuali tiga jalur utama tadi (jalur resmi telah ditutup),” tegasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini